Sabtu, 07 Juni 2014

152. Nikah Mut'ah/Misyar

Oleh Hansip Majlis pada 4 Juni 2013 pukul 10:53
Nikah mut’ah atau juga ada sebagian golongan yang menyebut Nikah Misyar, ialah pernikahan antara seorang lelaki dengan wanita dengan maskawin tertentu untuk jangka waktu yang telah di tentukan. Yang akan berakhir dengan habisnya masa tersebut, dan dalam nikah mut’ah suami tidak berkewajiban memberikan nafkah dan tempat tinggal kepada istri, juga tidak menimbulkan hokum waris-mewaris diantara keduanya.

Ada beberapa perbedaan antara nikah mut’ah dan nikah sunni (syar’i):
  • Nikah mut’ah dibatasi oleh waktu yang telah tertentukan bersama, adapun nikah sunni tidak dibatasi oleh waktu.
  • Nikah mut’ah dapat dilakukan tanpa adanya wali dan saksi, nikah sunni harus dilaksanakan di hadapan wali dan 2 saksi.
  • Nikah mut’ah tidak membatasi jumlah istri di mut’ah, nikah sunni dibatasi dengan jumlah istri, maksimal 4 orang.
  • Nikah mut’ah tidak berakibat saling mewarisi antara suami dan istri, sedangkan nikah sunni mengakibatkan hukum warisan antara keduanya juga anak-anaknya.
  • Nikah mut’ah akan berakhir dengan habisnya waktu yang telah ditentukan dalam akad atau otomatis fasakh/rusak, sedangkan dalam nikah sunni, sebuah pernikahan itu berakhir dengan adanya talaq atau meninggal dunia
  • Nikah mut’ah tidak mewajibkan suami memberikan nafkah lahir kepada istri, nikah sunni mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri.


Sebenarnya Hhukum Nikah Mut’ah ini telah di nasakh(di salin). Dulu memang di perbolehkan namun telah di haramkan saat perang Khandaq.
Dalam Surat An-Nisa ayat 24

( والمحصنات من النساء إلا ما ملكت أيمانكم كتاب الله عليكم وأحل لكم ما وراء ذلكم أن تبتغوا بأموالكم محصنين غير مسافحين فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن فريضة ولا جناح عليكم فيما تراضيتم به من بعد الفريضة إن الله كان عليما حكيما

Ayat di atas dijelaskan oleh para Ulama’ Tafsir sebagai berikut:
ð  Tafsir Al-qurthuby

قال ابن خويز منداد : ولا يجوز أن تحمل الآية على جواز المتعة ؛ لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن نكاح المتعة وحرمه ؛ ولأن الله تعالى قال فانكحوهن بإذن أهلهن ومعلوم أن النكاح بإذن الأهلين هو النكاح
الشرعي بولي وشاهدين ، ونكاح المتعة ليس كذلك . وقال الجمهور : المراد نكاح المتعة الذي كان في صدر الإسلام . وقرأ ابن عباس " فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى فآتوهن أجورهن " ثم نهى عنها النبي صلى الله عليه وسلم . وأبي وابن جبير "
. وقال سعيد بن المسيب : نسختها آية الميراث ؛ إذ كانت المتعة لا ميراث فيها
. وقالت عائشة والقاسم بن محمد : تحريمها ونسخها في القرآن 3.
Imam Ibnu Khuwaiz Mindad berkata: “Tidak diperbolehkan  menggunakan ayat ini untuk melegalkan Nikah Mut’ah, karena Rasulullah SAW, melarang hal itu dan juga mengharamkannya. Dan juga karena Allah telah Berfirman “Dan Nikahilah Mereka Dengan Izin Keluarganya/Walinya”. Dan telah diketahui bersama bahwa yang dinamakna Nikah dengan izin keluarganya ialah Nikah yang sesuai Syari’at dengan adanya Wali dan dua Saksi. Sedangkan Nikah Mut’ah tidak seperti itu. Jumhur Ulama’ berkata: Yang di maksud dengan Nikah Mut’ah ialah nikah di awl-awal Islam. Ibnu Abbas, Ubaiy, dan Ibnu Jarir membaca ayat, FAMASTAMTA’TUM BIHI MINHUNNA ILA AJALIM MUSAMMA FA ATUHUNNA UJUROHUNNA. Kemudian Nabi melarang Nikah tersebut. Sa’id bin Musayyib berkata:” Ayat di Atas telah di nasakh dengan ayat Mirots (warisan) karena dalam Nikah Mut;ah tidak ada hokum waris-mewaris.”
Aisyah dan Qosim bin Muhammad berkata, Pengharaman dan Penasakhanya huga dalam Qur’an.”

ð  Tafsir Al-Baghowy

( فآتوهن أجورهن ) أي : مهورهن ، وقال آخرون : هو نكاح المتعة وهو أن ينكح امرأة إلى مدة فإذا انقضت تلك المدة بانت منه بلا طلاق ، وتستبرئ رحمها وليس بينهما ميراث ، وكان ذلك مباحا في ابتداء الإسلام ، ثم نهى عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم .
{Fa atuuhunna Ujurohunna} Maksudnya Mahar mereka. Ulama’ lain berkata. Yang dimaksut ialah Nikh Mut’ah, yaitu menikahnya seorang lelaki dengan wanita sampai jangka waktu yang telah di tentukan. Apa bila masanya telah habis, maka secara otomatis wanita itu tertalaq ba’in meski tanpa adanya talaq. Dan wanita itu membersihkan rahimnya dan taka da ikatan waris-mewaris. Nikah tersebut di perbolehkan di masa-masa awal Islam. Kemudian setelah itu Rasulullah melarangnya.
ð  Tafsir ibnu katsir :

وقد استدل بعموم هذه الآية على نكاح المتعة ، ولا شك أنه كان مشروعا في ابتداء الإسلام ، ثم نسخ بعد ذلك . وقد ذهب الشافعي وطائفة من العلماء إلى أنه أبيح ثم نسخ ، ثم أبيح ثم نسخ ، مرتين . وقال آخرون أكثر من ذلك ، وقال آخرون : إنما أبيح مرة ، ثم نسخ ولم يبح بعد ذلك
Keumuman ayat ini diambil untuk Nikah Mut’ah. Tidak diragukan lagi bahwa  hal itu memang di Syariatkan dalam awal-awal Islam. Kemudian setelah itu, Ayat tersebut di Nasakh. Imam Syafi’I dan golongan Ulama’ berasumsi bahwa sesungguhnya Nikah Mut’ah itu diperbolehkan kemudian di Nasakh, kemudian kemudian di Nasakh lagi dua kali. Ulama’ lain berkata bahkan lebih banyak. Ulama’ lain juga berkata: Sesungguhnya Nikah Mut’ah di perbolehkan  satu 1 kali,kemudian di Nasakh
Ada Sebagian golongan yang menghalalkan Amalan Ini. Namun Yang dapat di pertanggung jawabkan, ialah Tetap HARAM

Nb: Selektiflah Dalam Menentukan Suatu Pilihan.

151. Aqad Nikah Via Telepon

leh:
Achmad Al-fandaniy
NIKAH LEWAT TELEPON
bagaimana hukumnya akad nikah melalui telepon ? mohon penjelasannya..
jawab:
ijab qabul dalam akad nikah melalui telepon hukumnya tidak sah, sebab tidak ada pertemuan langsung antara orang yang melaksanakan akad nikah.
dasar hukum
1. kifayatul akhyar ii/5
فرع - يُشْتَرَطُ فِى صِحَّةِ عَقْدِ النِّكَاحِ حُضُورُ أَرْبَعَةٍ: وَلِىٍّ وَزَوْجٍ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ
artinya: (cabang) dan disyaratkan dalam keabsahan akad nikah hadirnya empat orang ; wali,calon pengantin dan dua orang saksi yang adil.
2. tuhfatul habib ala syarhil khatib iii/335
وَمِمَّاتَرَكَهُ مِنْ شُرُوطِ الشَّاهِدَيْنِ السَّمْعُ وَالبَصَرُ وَالضَبْطُ. (قوله والضبط) أَيْ لألْفَاظِ وَلِىِّ الزَّوْجَةِ وَالزَّوْجِ فَلاَ يَكْفِي سِمَاعُ أَلْفَاظِهِمَا فِي ظُلْمَةٍ لأَنَّ الأصْوَاتِ تَشْبِيْهٌ.
mendengar, melihat dan (dlobith) membenarkan adalah bagian dari syarat diperkenankannya dua orang saksi. (pernyataan penyusun ‘wa al dlobthu) maksudnya lafadz (pengucapan) dari wali pengantin putri dan pengantin pria, maka tidaklah cukup mendengar lafadz (perkataan) mereka berdua dikegelapan, karena suara itu (mengandung) keserupaan).

=> Sanusi El Ruzy
Nambah sdikit.

التلفون كناية في العقود كالبيع و السلم و الإجارة. فيصح ذلك بواسطة التلفون. أما النكاح فلا يصح بالتلفون لأنه يشترط فيه لفظ صريح، و التلفون كناية. و أن ينظر الشاهد إلى العاقدين. و فقد ذلك إذا كان بالتلفون.
الفوائد المختارة لسالك طريق الآخرة ص ٢٤٦.

Telfon itu termasuk lafadz kinayah dalam beberapa aqad seperti, jual beli, pemesanan, sewa-menyewa. Aqad-aqad tersebut sah dengan perantara telfon.
Adapun (aqad) nikah maka tidak sah dengan telfon, karena di syaratkan di dalamnya lafadz shorih/jelas, sedangkan telfon termasuk kinayah. Dan juga disyaratkan, dapat melihatnya saksi pada kedua belah pihak (yang aqad dan di aqadi). Dan semua syarat itu tidak bisa terjadi bila menggunakan telfon.
Lihat: Fawa,idul Muhktaroh li Saliki Thoriqil Akhiroh hal 246.

150. Mewakilkan Lewat Telepon

Oleh:
Achmad Al-fandaniy

WALI NIKAH LEWAT TELEPON

Si a menjadi wali nikah dari seorang wanita (si b) dikota lain yang akan melangsungkan pernikahan. Pada hari dan saat akad nikah akan dilangsungkan, si a mendadak sakit dan tidak dapat menghadiri pernikahan tersebut. Kemudian si a mewakilkan kepada si c yang rumahnya berdekatan dengan si b lewat telepon untuk menikahkan si b. Sahkah mewakilkan perwalian (tauwkil) untuk akad nikah lewat telepon?

Jawaban:
Hukum tawkil untuk akad nikah lewat telepon adalah sah, selama taukil tersebut dapat dipahami dan tidak ada penolakan dari pihak yang menerima wakalah.
Dasar pengambilan

1. Kitab asy syarqowi juz 2 halaman 10
قَوْلُهُ وَصِيْغَةً - كَوَكَّلْتُكَ فِى كَذَا او فَوَّضْتُ إِلَيْكَ كَذَا سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ مَشَافَهَةً او كِتَابَةً او مُرَاسَلَةً وَيُشْتَرَطُ عَدَمُ رَدِّهَا كَمَا يَأْتِى وَلاَ يُشْتَرَطُ العِلْمُ بِهَا. فَلَو وَكَّلَهُ وَهُوَ لاَيَعْلَمُ صَحَّتْ حَتَّى لَوْ تَصَرَّفَ قَبْلَ عِلْمِهِ صَحَّ كَبَيْعِ مَالِ أَبْيْهِ يَظُنُّ حَيَاتِهِ.
(ucapan mushannif “dan shighat”) seperti: aku mewakilkan kepadamu dalam masalah demikian, atau aku menyerahkan kepadamu demikian. Baik penyerahan itu secara lisan atau secara tertulis atau pengiriman utusan. Disyaratkan pula tidak ada penolakan terhadap wakalah (perwakilan) tersebut sebagaimana keterangan yang akan datang, dan tidak disyaratkan mengetahui wakalah. Andaikata seseorang mewakilkan kepadanya sedang dia tidak tahu, maka sah wakalah tersebut; sehingga andaikata dia mentasarufkan sebelum mengetahui ada wakalah, tasaruf(distribusi)-nya sah, seperti menjual harta ayahnya yang dia sangka ayahnya masih hidup.


2. Kitab bujairimi ‘ala al iqna’ juz 3 halaman 10
وَجُمْلَةُ مَا ذَكَرَهُ مِنْ شُرُوطِ الصِّيْغَةِ خَمْسَةٌ وَذَكَرَ فِى شَرْحِ المِنْهَجِ أرْبَعَةٌ:... إلَى أنْ قَالَ: الثَّانِى: أنْ يَتَلَفَّظَ بِحَيْثُ يَسْمَعُهُ مَنْ بِقُرْبِهِ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْهُ صَاحِبُهُ بِأَنْ بَلَغَهُ ذَلِكَ فَورًا او حَمَلَتْهُ الرِّيْحُ إلَيْهِ فَقَبِلَ.
“jumlah dari apa yang telah mushannif sebutkan tentang syarat-syarat shighat adalah lima dan dalam kitab syarah minhaj, mushannif menyebutkan empat: … sampai mushannif berkata: “yang kedua, hendaklah seseorang mengucapkan sekira orang yang berada didekatnya mendengar ucapannya, meskipun temannya tidak mendengar, dengan sekita dia menyampaikan hal tersebut kepada temannya seketika, atau angin telah membawa ucapan tersebut kepada temannya dan temannya menerima.

149. Sabun Sebagai Pengganti Debu Dalam Bersuci

Oleh Hansip Majlis pada 4 Juni 2013 pukul 8:19
Oleh:
Mas Ghoffar Sudrajat


Assalamu alaikum wr wb.
Dapatkah sabun atau rinso sebagai pengganti dari pada debu dalam menghilangkan najis mugholladzoh ?? Syukron 'alaa ihtimaamikum.



Jawaban :
Waalaikumussalam Wr Wb.
Kepada akhina Al_Ustad Wes Qie@ yang dimulyakan Allah. Untuk menjawab pertanyaan yang telah dipaparkan diatas kami menyimpulkan sebagai berikut:

(1). Bahwasanya Sabun dan Renso tidak dapat menggantikan kedudukan debu untuk menghilangkan najis mogholladzah,sebagaimana yang telah diterangkan dalam beberapa dzahirnya hadits,karena ini adalah tahaharah yang saling berkaitan maka tidak dapat diganti selainnya seperti halnya tayammum.

(2). Bahwasanya Sabun dan Renso dapat sebagai pengganti ( sebagaimana yang banyak terjadi di Negara Negara Non Islam seperti Taiwan atau Hongkong yang sangat sulit untum menemukan debu ) seperti dalam bahasan menyamak yang bisa diganti oleh selain tawas dan Qardh (daun pohon yg digunakan menyamak) dan dalam bahasan istinja' yang boleh memakai selain batu. Akan tetapi bila debu tersebut masih ada,maka tidak boleh beralih pada lainnya kecuali debu.

Dasar Pengambilan:
ﻭﻫﻞ ﻳﻘﻮﻡ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻥ ﻭﺍﻷﺷﻨﺎﻥ ﻣﻘﺎﻡ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻓﻴﻪ ﺃﻗﻮﺍﻝ ﺃﺣﺪﻫﺎ ﻧﻌﻢ ﻛﻤﺎ ﻳﻘﻮﻡ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺤﺠﺮ ﻣﻘﺎﻣﻪ ﻓﻲ ﺍﻻﺳﺘﻨﺠﺎﺀ ﻭﻛﻤﺎ ﻳﻘﻮﻡ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺸﺐ ﻭﺍﻟﻘﺮﻅ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﺑﺎﻍ ﻣﻘﺎﻡ ﻭﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﺻﺤﺤﻪ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺭﻭﺅﺱ ﺍﻟﻤﺴﺎﺋﻞ ﻭﺍﻷﻇﻬﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ﻭﺍﻟﺮﻭﺿﺔ ﻭﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻘﻮﻡ ﻷﻧﻬﺎ ﻃﻬﺎﺭﺓ ﻣﺘﻌﻠﻘﺔ ﺑﺎﻟﺘﺮﺍﺏ ﻓﻼ ﻳﻘﻮﻡ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻘﺎﻣﻪ ﻛﺎﻟﻴﺘﻴﻢ ﻭﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺇﻥ ﻭﺟﺪ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻟﻢ ﻳﻘﻢ ﻭﺇﻻ ﻗﺎﻡ. كفاية تأخيار. الجز 1. ص 71(
Dasar Pengambilan:
ﻳﻘﻮﻡ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻥ ﻭﺍﻹﺷﻨﺎﻥ ﻭﻧﺤﻮﻫﻤﺎ ﻣﻘﺎﻡ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻇﻬﺮ ﻛﺎﻟﺘﻴﻤﻢ ﻭﻳﻘﻮﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻛﺎﻟﺪﺑﺎﻍ ﻭﺍﻻﺳﺘﻨﺠﺎﺀ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺇﻥ ﻭﺟﺪ ﺗﺮﺍﺑﺎ ﻟﻢ ﻳﻘﻢ ﻭﺇﻻ ﻗﺎﻡ ﻭﻗﻴﻞ ﻳﻘﻮﻡ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻔﺴﺪﻩ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻛﺎﻟﺜﻴﺎﺏ ﺩﻭﻥ ﺍﻷﻭﺍﻧﻲ. ﺭﻭﺿﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ الجز 1. ص 32. (2)*

“Sabun dan alat pembersih selainnya tidak dapat mengganti kedudukan debu menurut pendapat yang paling dzahir sebagaimana dalam tayammum, menurut pendapat kedua “bisa mengganti seperti dalam bahasan menyamak dan istinjak”, menurut pendapat ketiga “bila ditemukan debu, bila tidak ditemukan bisa mengganti”, menurut pendapat lain “bisa mengganti dalam perkara yang rusak bila dibersihkan dengan debu seperti pakaian tidak seperti dalam sejenis perkakas”. Raudhah at-Thoolibiin I/32.
Dasar Pengambilan:
(ﻫﻞ ﻳﻘﻮﻡ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻥ ﻭﺍﻻﺷﻨﺎﻥ ﻣﻘﺎﻡ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻓﻴﻪ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﻮﺍﻝ ﺃﻇﻬﺮﻫﺎ ﻻ: ﻟﻈﺎﻫﺮ ﺍﻟﺨﺒﺮ ﻭﻻﻧﻬﺎ ﻃﻬﺎﺭﺓ ﻣﺘﻌﻠﻘﺔ ﻓﻼ ﻳﻘﻮﻡ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻘﺎﻣﻪ ﻛﺎﻟﺘﻴﻤﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻧﻌﻢ ﻛﺎﻟﺪﺑﺎﻍ ﻳﻘﻮﻡ ﻓﻴﻪ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺸﺐ ﻭﺍﻟﻘﺮﻅ ﻣﻘﺎﻣﻬﻤﺎ ﻭﻛﺎﻻﺳﺘﻨﺠﺎﺀ ﻳﻘﻮﻡ ﻓﻴﻪ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺤﺠﺎﺭﺓ ﻣﻘﺎﻣﻬﺎ. ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺃﻥ ﻭﺟﺪ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻟﻢ ﻳﻌﺪﻝ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮﻩ ﻭﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﺠﺪﻩ ﺟﺎﺯ ﺍﻗﺎﻣﺔ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻘﺎﻣﻪ ﻟﻠﻀﺮﻭﺭﺓ ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻗﺎﻣﺔ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻣﻘﺎﻣﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻔﺴﺪ ﺑﺎﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻓﻴﻪ ﻛﺎﻟﺜﻴﺎﺏ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻓﻴﻤﺎ ﻻ ﻳﻔﺴﺪ ﻛﺎﻻﻭﺍﻧﻲ. ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ : ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻌﺰﻳﺮ ﺑﺸﺮﺡ ﺍﻟﻮﺟﻴﺰ. الجز 1 ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ 262. (3)*
“Apakah sabun dan alat pembersih selain debu dapat mengganti kedudukan debu ? Dalam hal ini terdapat tiga pendapat:
(a). Tidak, bila melihat dzahirnya hadits dan karena ini adalah tahaharah yang saling berkaitan maka tidak dapat digantiselainnya seperti halnya tayammum.
(b). Dapat mengganti, seperti dalam bahasan menyamak yang bisa diganti oleh selain tawas dan Qardh (daun pohon yang digunakan menyamak) dan dalam bahasan istinjak yang boleh memakai selain batu.
(c). Bila ditemukan debu tidak boleh beralih pada lainnya, bila tidak ditemukan bisa selain debu (seperti halnya sabun ) mengganti kedudukannya
(d). Menurut pendapat lain “bisa mengganti dalam perkara yang rusak bila dibersihkan dengan debu seperti pakaian tidak seperti dalam sejenis perkakas”.


ReferensiKitab:
(1)*. Kifayatul Akhyar Juz 1. Hal 71.
(2)*. Raudhotut Tholibin. Juz 1. Hal 32.
(3)*. Fathul 'Aziz Juz 1. Hal 262.

148. Menjual Makanan di Siang Hari Pada Bulan Romadhon

Oleh:
Achmad Al-fandaniy


MENJUAL MAKANAN DI SIANG HARI PADA BULAN ROMADLON

“Terpaksa” sering dibuat alasan sebagai pembenaran atas semua tindakan. Sebagaimana realita yang terjadi di sekeliling kita. Walaupun sudah tahu bulan puasa, masih saja ada yang berjualan makanan disiang hari. Bolehkah menjual makanan disiang hari pada saat bulan Ramadlan?

Jawab: Tidak boleh, karena mendorong terjadinya maksiat. Kecuali menjual makanan untuk persiapan buka puasa.

Referensi:
إعانة الطالبين الجزء الثالث صحـ : 29 – 30 مكتبة دار الفكر
(وَ) حَرُمَ أَيْضًا ( بَيْعُ نَحْوِ عِنَبٍ مِمَّنْ ) عُلِمَ أَوْ ( ظُنَّ أَنَّهُ يَتَّخِذُهُ مُسْكِرًا) لِلشُّرْبِ وَاْلاَمْرَدِ مِمَّنْ عُرِفَ بِالْفُجُوْرِ بِهِ وَالدِّيْكِ لِلْمُهَارَشَةِ وَالْكَبْشِ لِلْمُنَاطَحَةِ وَالْحَرِيْرِ لِرَجُلٍ يَلْبَسَهُ وَكَذَا بَيْعُ نَحْوِ الْمِسْكِ لِكَافِرٍ يَشْتَرِيْ لِتَطْيِيْبِ الصَّنَمِ وَالْحَيَوَانِ لِكَافِرٍ عُلِمَ أَنَّهُ يَأْكُلُهُ بِلاَ ذَبْحٍ ِلأَنَّ اْلأَصَحَّ أَنَّ الْكُفَّارَ مُخَاطَبُوْنَ بِفُرُوْعِ الشَّرِيْعَةِ كَالْمُسْلِمِيْنَ عِنْدَنَا خِلاَفًا ِلأَبِيْ حَنِيْفَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ فَلاَ يَجُوْزُ اْلإِعَانَةُ عَلَيْهِمَا وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنْ كُلِّ تَصَرُّفٍ يُفْضِيْ إِلَى مَعْصِيَةٍ يَقِيْنًا أَوْ ظَنًّا وَمَعَ ذَلِكَ يَصِحُّ الْبَيْعُ وَيُكْرَهُ بَيْعُ مَا ذُكِرَ مِمَّنْ تُوُهِّمَ مِنْهُ ذَلِكَ ( وَقَوْلُهُ مِنْ كُلِّ تَصَرُّفٍ يُفْضِيْ إِلَى مَعْصِيَةٍ ) بَيَانٌ لِنَحْوٍ وَذَلِكَ كَبَيْعِ الدَّابَّةِ لِمَنْ يُكَلِّفُهَا فَوْقَ طَاقَتِهَا وَاْلأَمَّةِ عَلَى مَنْ يَتَّخِذُهَا لِغِنَاءٍ مُحَرَّمٍ وَالْخَشَبِ عَلَى مَنْ يَتَّخِذُهُ آلَةَ لَهْوٍ وَكَإِطْعَامِ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ كَافِرًا مُكَلَّفًا فِيْ نَهَارِ رَمَضَانَ وَكَذَا بَيْعُهُ طَعَامًا عَلِمَ أَوْ ظَنَّ أَنَّهُ يَأْكُلُهُ نَهَارًا ( قَوْلُهُ وَمَعَ ذَلِكَ إِلَخْ ) رَاجِعٌ لِجَمِيْعِ مَا قَبْلَهُ أَيْ وَمَعَ تَحْرِيْمِ مَا ذُكِرَ مِنْ بَيْعِ نَحْوِ الْعِنَبِ وَمَا ذُكِرَ بَعْدُ يَصِحُّ الْبِيْعُ اهـ

147. Pekerja Berat Membatalkan Puasa

Oleh:

Achmad Al-fandaniy

PEKERJA BERAT MEMBATALKAN PUASA

Kehidupan masyarakat yang di bawah garis kemiskinan sangat memperihatinkan. Mereka harus banting tulang, tidak mengenal lelah demi menutupi kebutuhan anak istrinya. Pekerjaan beratpun dianggap hal yang biasa, ketimbang tidak sama sekali. Apakah pekerja berat seperti kuli bangunan, penuai padi dan sesamanya boleh membatalkan puasa?

Jawab: Boleh, apabila dengan puasa akan mengalami kepayahan (masyaqqat).

Referensi:

بشرى الكريم الجزء 2 صحـ : 72 مكتبة الحرمين
وَيَلْزَمُ أَهْلَ الْعَمَلِ الْمُشِقِّ فِيْ رَمَضَانَ كَالْحَصَّادِيْنَ وَنَحْوِهِمْ تَبْيِيْتُ النِّيَةِ ثُمَّ إِنْ لَحِقَهُ مِنْهُمْ مَشَقَّةٌ شَدِيْدَةٌ أَفْطَرَ وَإِلاَّ فَلاَ وَلاَ فَرْقَ بَيْنَ اْلأَجِيْرِ وَالْغَنِيِّ وَغَيْرِهِ أَوْ الْمُتَبَرِّعِ وَإِنْ وَجَدَ غَيْرَهُ وَتَأْتَّى لَهُم الْعَمَلُ لَيْلاً اهـ


Nb: Berhati-hatilah Menentukan Pilihan. Lebih baiknya bila saat puasa menjauhi pekerjaan berat.

146. Kufu Dalam Pernikahan

Oleh:

Achmad Al-fandaniy

SOAL :


Seorang wanita mempunyai pandangan calon suami yang kufu (sesuai dengannya), namun orang tuanya juga memiliki pilihan yang lain yang sesuai dengan wanita itu, sedang wanita tersebut tidak mau menikah kecuali hanya dengan laki laki yang dipilihnya, maka kemudian terpaksa wanita itu menikah dengan laki laki pilihannya sendiri dengan melalui wali hakim.
Bagaimana hukum pernikahan tersebut ?

JAWAB :

Apabila wanita tersebut adalah seorang janda maka pernikahannya boleh dan sah, karena orang tua yang demikian termasuk wali yang 'adl (wali yang tidak mau menikahkan anaknya) dengan syarat ketidak mauan walinya tersebut telah ditetapkan oleh hakim.
Apabila wanita tersebut adalah seorang yang masih gadis, maka pernikahannya bisa sah hanya dengan syarat pernikahan tersebut dilaksanakan di daerah lain dengan jarak yang diperbolehkan melakukan jama' dan qoshor sholat
Keterangan dari Kitab :
Hamisy I'anatut Tholibin III / 316 - 317
Ghoyatu Talkhishil Murod halaman 208

وعبارته ؛ (فروع) لا يزوِّجُ القاضي إن عضل مُجْبَر من تزويجها بكُفْءٍ عَيَّنَتْهُ وقد عيَّن هو كفؤٌ آخر غير معينها وإن كان معيَّنةُ دون معيِّنها كفاءة. ولا يزوَّج غيْرَ المُجْبَر ولو أباً أو جداً بأن كانت ثيباً إلا مِمَّن عَيَّنَتْه وإلا كان عاضِلاً. ولو ثَبَت تواري الولي أو تَعُزَّزه زوَّجَها الحاكِم. وكذا يزَوِّج القاضي إذا أحْرَم الوليّ أو أراد نِكاحَها كابْن عمّ فقدَ من يساويه في الدَّرجة ومُعْتِقٍ فلا يزوَّج الأَبْعدُ في الصُّور المذكورَة لبَقاءِ الأَقْربِ على ولايَتِه ـ اهـ فتح المين هامش إعانة الطالبين الجزء الثالث ص ٣١٧

ـ (قوله: أو عضل الولي الخ) معطوف على عدم وليها أيضاً. وعبارة التحفة مع الأصل: وكذا يزوج السلطان إذا عضل القريب أو المعتق أو عصبته إجماعاً، لكن بعد ثبوت العضل عنده بامتناعه منه أو سكوته بحضرته بعد أمره به والخاطب والمرأة حاضران أو وكيلهما أو بينة عند تعززه أو تواريه. نعم: إن فسق بعضله لتكرره منه مع عدم غلبة طاعاته على معاصيه أو قلنا بما قاله جمع إنه كبيرة زوج الأبعد، وإلا فلا: لأن العضل صغيرة وإفتاء المصنف بأنه كبيرة بإِجماع المسلمين مراده أنه عند عدم تلك الغلبة في حكمها لتصريحه هو وغيره بأنه صغيرة.اهـ. وقوله لتكرره منه: قال في الروض: ولا يفسق إلا إذا تكرر ثلاث مرات. اهـ. (قوله: ولو مجبراً) غاية في الولي : أي لا فرق فيه بين أن يكون مجبراً أو لا

-------------

وعبارته ؛ لو كان لها ولى بالبلد وعضلها بعد إن دعته الى كفء وتعسر لها اثبات عضله فسافرت الى موضع بعيد على الولى وأذنت لقاضى البلد التى انتقلت اليه فى تزويجها من الكفء صح النكاح ـ اهـ غاية تلخيص المراد هامش بغية المسرشدين ص ٢٠٨

ـ (مسألة): أخذ رجل امرأة عن أهلها قهراً وبعدها عن وليها إلى مسافة القصر وكذا دونه، إن تعذرت مراجعته لنحو خوف صح نكاحها بإذنها إن زوّجها الحاكم من كفء، إذ لم يفرق الأصحاب بين غيبة الولي وغيبتها، ولا في غيبتها بين أن تكون مكرهة على السفر أو مختارة، بل أقول: لو كان لها وليّ بالبلد وعضلها بعد أن دعته إلى كفء وتعسر لها إثبات عضله فسافرت إلى موضع بعيد عن الوليّ وأذنت لقاضي البلد الذي انتقلت إليه في تزويجها من الكفء صح النكاح، وليس تزويج الحاكم في الأوّل من رخص السفر التي لا تناط بالمعاصي كما يتخيل ذلك، نعم قد ارتكب المتعاطي لذلك بقهره الحرة والسفر بها وتغريبها عن وطنها ما لا يحل في الدين ولا يرتضى، بل ذلك من الكبائر العظام التي تردّ بها الشهادة ويحصل بها الفسق ـ هـ بغية المسترشدين ص ٢٠٦ مكتبة المرجع الأكبر

® Hasil musyawarah Jam'iyyah Riyadlotut Tholabah ponpes Al-Falah Ploso Mojo Kediri
Tuhfatur Rohabah 1 : 97 - 98

145. Tentang Sholat Istikhoroh

Pertanyaan:

Alaiya Hikmawati


Assalamualaikum,,
Bgmn cr melaksanakan shlt istikharah? Niat beserta doanya juga yaa suwun...

Jawaban:

    1. Achmad Al-fandaniy
=> Sholat istikhoroh adalah sholat sunat dua roka'at yang bisa dikerjakan kapan saja, asal tidak dikerjakan pada waktu-waktu yang dimakruhkan mengerjakan sholat. Sholat istikhoroh sunat dikerjakan bagi orang yang hendak mengerjakan suatu perkara yang mubah (tidak dilarang agama), namun tidak tahu apa dan mana yang baik. Apabila setelah mengerjakan sholat ini hatinya diberi kelapangan oleh Alloh, maka perkara tersebut bisa dikerjakan, namun jika hatinya merasa tidak lapang, jangan dikerjakan. Dalil disunatkannya sholat sunat istikhoroh adalah hadits yang diriwayatkan sahabat Jabir rodhiyallohu 'anhu ;

كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ، يَقُولُ: " إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الفَرِيضَةِ

"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengajari kami shalat istikharah dalam setiap perkara / urusan yang kami hadapai, sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Quran. Beliau berkata, “Jika salah seorang di antara kalian berniat dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang bukan shalat wajib," (Shohih Bukhori, no.7390)

Adapun tata cara pelaksanaan sholat istikhoroh adalah sebagai berikut :

1. Mengerjakan sholat dua roka'at dengan niat sholat istikhoroh, semisal dengan niat :

أصلي سنة الإستخارة ركعتين لله تعالى

"USHOLLI SUNNATAL ISTIKHOROTI ROK'ATAINI LILLAHI TA'ALA".

2. Pada roka'at pertama, setelah membaca surat Al-Fatihah disunatkan membaca surat Al-Kafirun (qul ya ayyuhal kafirun) atau membaca ayat ;

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Alloh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)." (Q.S.Al-Qoshosh : 68)

3. Pada roka'at kedua, setelah membaca surat Al-Fatihah disunatkan membaca surat Al-Ikhlas (qul huwallohu ahad) atau membaca ayat ;

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata." (Q.S. Al-Ahzab : 36)
4. Setelah selesai sholat, kemudian membaca do'a.Terdapat beberapa versi do'a yang didasarkan dari hadits nabi, diantaranya sebagai berikut ;

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ , وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ , وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلا أَقْدِرُ , وَتَعْلَمُ وَلا أَعْلَمُ , وَأَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ , اللَّهُمَّ إنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ ...... خَيْرٌ لِي فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ , فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ , اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ ....... شَرٌّ لِي فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ , فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ

“Ya Alloh, sesungguhnya aku memohon pilihan kepadamu dengan pengetahuanmu, aku memohon keputusanmu dengan kekuasaanmu dan aku memohon kepadaMu dengan keutamaamu yang besar. Sesungguhnya engkau berkuasa dan aku tidak berkuasa, Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Ya Allah, Apabila Engkau mengetahui bahawa urusan ini [lalu menyebutkan hajatnya] baik bagiku dalam agamaku, penghidupanku dan akhir urusanku dimasa dekat dan masa depan urusanku, maka takdirkanlah dan mudahkanlah bagiku kemudian berkatilah aku didalamnya. Ya Alloh, apabila Engkau mengetahui bahawa urusan ini [lalu menyebutkan hajatnya] buruk bagiku dalam agamaku, penghidupanku dan akhir urusanku, dimasa dekat dan masa depan urusanku, maka singkirkanlah ia dariku atau singkirkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan bagiku dimana jua, kemudian jadikanlah aku ridho dengannya”.

Wallohu a'lam.

Referensi :
1. Al-Fiqhul Manhaji, Juz : 1 Hal : 219
2. Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 4 Hal : 54
3. Hasyiyah I'anatut Tholibin, Juz : 1 Hal : 299


Ibarot :
Al-Fiqhul Manhaji, Juz : 1 Hal : 219

صلاة الاستخارة
وهي صلاة ركعتين في غير الأوقات المكروهة. وتسنّ لمن أراد أمراً من الأمور المباحة، ولم يعلم وجه الخير في ذلك، ويسنّ بعد الفراغ من الصلاة أن يدعو بالدعاء المأثور، فإن شرح الله صدره بعد ذلك للأمر فعل وإلا فلا
روى البخاري (1109) وغيره، عن جابر بن عبدالله الأنصاري رضي الله عنهما قال: كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يعلمنا الاستخارة في الأمور كلها، كما يعلمنا السورة من القرآن يقول: " إذا هم أحدكم بالأمر فليركع ركعتين من غير الفريضة"، ثم ليقل: " اللهم إني أستخيرك بعلمك، وأستقدرك بقدرتك، وأسألك من فضلك العظيم، فإنك تقدر ولا أقدر، وتعلم ولا أعلم، وأنت علاّم الغيوب، اللهم إن كنت تعلم أن هذا الأمر خير لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري، فأقدره لي، ويسره لي، ثم بارك لي فيه، اللهم إن كنت تعلم أن هذا الأمر شر لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري فاصرفه عني واصرفني عنه، واقدر لي الخير حيث كان، ثم رضني به، قال: ويسمي حاجته

Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 4 Hal : 54

صلاة الاستخارة سنة وهى أن من أراد من الأمور صلى ركعتين بنية صلاة الاستخارة ثم دعى بما سنذكره إن شاء الله تعالى واتفق أصحابنا وغيرهم على أنها سنة لحديث جابر رضي الله عنه قال " كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعلمنا الاستخارة في الأمور كلها كما يعلمنا السورة من القرآن يقول اذاهم أحدكم بالأمر فليركع ركعتين من غير الفريضة ثم ليقل اللهم إني أستخيرك بعلمك وأستقدرك بقدرتك وأسألك من فضلك العظيم فإنك تقدر ولا أقدر وتعلم ولا أعلم وأنت علام الغيوب الله إن كنت تعلم أن هذا الأمر خير لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري - أو قال عاجل أمري وآجله - فاقدره لي ويسره لي ثم بارك لي فيه اللهم وإن كنت تعلم أن هذا الأمر شر لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري - أو قال في عاجل أمري وآجله - فاصرفه عني واصرفني عنه واقدر لي الخير حيث كان ثم ارضني به ويسمي حاجته " رواه البخاري في مواضع من صحيحه
وفي بعضها ثم رضني به ويستحب له أن يقرأ في الركعة الأولى بعد الفاتحة قل يا ايها الكافرون وفي الثانية قل هو الله أحد ثم ينهض بعد الاستخارة لما ينشرح له صدره

Hasyiyah I'anatut Tholibin, Juz : 1 Hal : 299

وذكر بعضهم أنه يقرأ في الاستخارة ما ذكر، أو يقرأ في الركعة الاولى : وربك يخلق ما يشاء ويختار ما كان لهم الخيرة سبحان الله وتعالى عما يشركون وربك يعلم ما تكن صدورهم وما يعلنون, وفي الثانية : وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من أمرهم ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا


=> Selain di al-Majmu', Imam an-Nawawi juga menjelaskan secara ringkas kaifiyah sholat istikhoroh di dalam kitab beliau yang kecil yaitu al-Adzkar, bahwa sholat rowtib dua roka'at atau sholat tahiyyatul masjid atau yang lainnya dari beberapa sholat-sholat sunnah kalau diniati sholat Istikhoroh juga bisa, dan kalau tidak ada kesempatan untk sholat, maka langsung membaca do'a tersebut juga gak masalah

قال العلماء : تستحب الإستخارة بالصلاة والدعاء المذكور، وتكون الصلاة ركعتين من النافلة، والظاهر أنها تحصل بركعتين من السنن الرواتب وبتحية المسجد وغيرها من النوافل، ويقرأ في الأولى بعد الفاتحة : قل يا أيها الكافرون، وفي الثانية : قل هو الله أحد، ولو تعذرت عليه الصلاة استخار بالدعاء


Link Asal:
http://fiqhkontemporer99.blogspot.com/2013/01/waktu-dan-tata-cara-menger

143. Aplikasi Qur'an Pada HP Atau PC

Oleh Sanusi El Ruzy pada 31 Mei 2013 pukul 8:41
Pertanyaan:

Zacky AzZulfa


assalamu'alaikum..
<p>antum ane mw tnya..</p> <p>bagimana hukumnya mnyimpan/mmbwa aplikasi Qur'an dlm HP...</p> <p>apakah harus suci ketika kita mmbuka aplikasi tersebut!?</p> syukroon

Jawaban:
  1. Achmad Al-fandaniy
=> Waalaikumsalam

Kalau memegang tulisan alquran yang ada pada layar Hp atau PC memang tidak masalah tanpa adanya wudhu karena tulisan alquran yang ada dalam HP/PC hanya merupakan pancaran yang di hasilkan dari sinar bukan tulisan

وَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّهُ لَوْ نَقَشَ الْقُرْآنَ عَلَى خَشَبَةٍ وَخَتَمَ بِهَا الْأَوْرَاقَ بِقَصْدِ الْقِرَاءَةِ وَصَارَ يَقْرَأُ يَحْرُمُ مَسُّهَا ، وَلَيْسَ مِنْ الْكِتَابَةِ مَا يُقَصُّ بِالْمِقَصِّ عَلَى صُورَةِ حُرُوفِ الْقُرْآنِ مِنْ وَرَقٍ أَوْ قُمَاشٍ فَلَا يَحْرُمُ مَسُّهُ ا هـ قَوْلُ الْمَتْنِ

Tuhfah Almuhtaaj II/132

=> Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Berdasarkan hasil keputusan kajian bahtsul masa'il dan fatwa ulama' kontemporer, Software dan aplikasi Al Qur'an yang ada didalam komputer atau hape tidak dikategorikan mushaf, karena tulisan yang berupa ayat-ayat al qur'an yang nampak pada layar adalah pancaran sinar yang sifatnya tidak tetap, bisa nampak dan hilang, sementara kriteria sesuatu benda dihukumi mushaf apabila tulisan yang ada disitu tujuannya untuk dirasah (belajar) dan berbentuk tulisan yang sifatnya tetap, selain itu pada umumnya komputer, laptop atau hape berisi bermacam-macam file, sedangkan software atau aplikasi qur'an filenya tidak terlalu besar, jadi software atau aplikasi tersebut hanyalah bagian kecil dari file-file, software-software dan aplikasi yang ada pada komputer, laptop atau hape.

Pendapat berbeda dikemukakan oleh Syekh Ahmad Asy-Syatiri dalam kitab beliau "Syarah Al-Yaqutun Nafis", dalam pembahasan hukum membawa kaset yang berisi rekaman bacaan al qur'an beliau menyatakan bahwa kaset tersebut dihukumi seperti mushaf al qur'an, alasannya meskipun itu hanya berisi suara yang tujuannya untuk didengar, bukan untuk dibaca tapi intinya sama dengan al qur'an, dan menurut beliau pendapat ini adalah pendapat yang ahwath (lebih berhgati-hati) Pemahaman yang diambil dari keterangan beliau, jika kaset yang hanya berisi bacaan al qur'an saja dihukumi mushaf apalagi software atau aplikasi yang ada tulisannya dan memang ditujukan untuk dibaca.

Kesimpulannya, berdasarkan keputusan bahtsul masa'il software dan aplikasi qur'an tidak dihukumi mushaf, sedangkan menurut Syekh Ahmad Syathiri dihukumi mushaf. Jadi apabila kita mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa software dan aplikasi tersebut tidak dihukumi mushaf maka bagi orang yang sedang berhadats diperbolehkan memegang dan membawa laptop atau hape yang sudah diinstal software atau aplikasi qur'an didalamnya tanpa diharuskan wudhu atau mandi besar terlebih dahulu. Wallohu a'lam

Referensi :
1. Nihayatuz Zain, Hal : 32
2. Al Bujairami Alal Khotib, Juz : 3 Hal : 498
3. Nihayatul Muhtaj, Juz : 1 Hal : 124
4. Al Islam Su'al Wal Jawab, Fatwa no. 106961
http://islamqa.info/ar/ref/106961
5. Syarah Al Yaqutun Nafis, Hal : 82-83


Ibarot :
Nihayatuz Zain, Hal : 32

ورابعها مس المصحف ولو بحائل ثخين حيث عد ماسا له عرفا والمراد بالمصحف كل ما كتب فيه شيء من القرآن بقصد الدراسة كلوح أو عمود أو جدار كتب عليه شيء من القرآن للدراسة فيحرم مسه مع الحدث حينئذ سواء

Al-Bujairamiy ‘alâ al-Khathib, Juz : 3 Hal : 498

وقوله " كتابة " وضابط المكتوب عليه كل ما ثبت عليه الخط كرق وثوب سواء كتب بحبر أو نحوه ونقر صور الأحرف في حجر أو خشب أو خطها على الأرض، فلو رسم صورتها في هواء أو ماء فليس كتابة في المذهب كما قاله الزيادي

Nihayatul Muhtaj, Juz : 1 Hal : 124

وليس من الكتابة ما يقص بالمقص على صورة حرف القرآن من ورق أو قماش فلا يحرم مسه، وينبغي أن يكون بحيث يعد لوحا للقرآن عرفا، فلو كبر جدا كباب عظيم فالوجه عدم حرمة مس الخالي منه عن القرآن، ويحتمل أن حمله كحمل المصحف في أمتعة


Al Islam Su'al Wal Jawab, Fatwa no. 106961

قراءة القرآن من الجوال هل يشترط لها الطهارة؟

السُّؤَالُ
يوجد في بعض الجوالات برامج للقرآن تستطيع أن تتصفح منها القرآن في أي وقت على شاشة الجوال، فهل يلزم قبل القراءة من الجوال الطهارة ؟

الْجَوَابُ
الحمد لله هذه الجوالات التي وضع فيها القرآن كتابة أو تسجيلا، لا تأخذ حكم المصحف، فيجوز لمسها من غير طهارة، ويجوز دخول الخلاء بها، وذلك لأن كتابة القرآن في الجوال ليس ككتابته في المصاحف، فهي ذبذبات تعرض ثم تزول وليست حروفا ثابتة، والجوال مشتمل على القرآن وغيره

Syarah Al Yaqutun Nafis, Hal : 82-83

حكم حمل المصحف المسجل على الأشرطة
ظهر حديثا فى الأسواق أشرطة تسجيل مسجل فيها القرآن الكريم بأكملة يكون المصحف من عشرين شريطا تقريبا فهل حكم هذا المصحف كحكم المصحف المكتوب ؟ الذي أرى أن التسجيل على الشريط يحصل بأحرف منقوشة تثبت على الشريط وعلى هذا فيكون له حكم المصحف وقد قامت بعض الجمعيات فى مصر بتسجيل هذا المصحف بقرآات مجودة وأصوات جميلة علي أسطوانات خاصة وعلى أشرطة كاسيت وتسمى مصحفا وأعتقد أن له حكم المصحف والأحوط للمسلم أن يحتاط فإن قيل إن التسجيل هذا إنما هو الصدى وقد سجل للسماع لا للقراءة ؟ إنه فعلا صدى ولكنا لو نظرنا الى القصد من الأذان حقيقة أليس هو الإعلام ؟ وقد حصل به ؟ ولبعض الفقهاء أقوال تعبروا عن أرائهم ومفاهيمهم وليس من الضرورى قبولها كقولهم لو نظر إنسان الى صورة امرأة فى مرآة فيجوز له النظر اليها إنما ينظر الى الصورة فى المرآة حتى ولو كانت عارية فمثل هذا الكلام نظر ومن الصعب على النفس تقلبه

Link Asal:
http://fiqhkontemporer99.blogspot.com/2013/02/software-dan-aplikasi-auran-apakah.html

142. Dzikir Jahr (keras) Atau Sirri (pelan)

Oleh Sanusi El Ruzy pada 31 Mei 2013 pukul 8:23
Pertanyaan:

Aan Kigede Suropati


Assalamu alaikum, pak ustadz di mesjid saia tinggal, imam sholat di mesjid saia tdk tetap, slalu berganti ganti, stelah sholat maktubah di salah satu imam tsbt ada Yg berdzikir Zahar dan ada jg yg sirri.

yg saia tanyakan, saia ikut imam yg mana?
dan bgmna hukumnya dzikir jahar/sirri stlh sholat?

sblum dan ssudahnya, sukron kathir.

Jawaban:
    1. Sanusi El Ruzy
wa alaikum salam.
nyumbang link.

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته


 Latar belakang mas’alah
Didalam kitab الأذكار النووى  diterangkan bahwa dzikir itu ada dua. Dzikir باللسان dan dzikir بالقلب . Yang paling utama adalah dilakukan bersamaan. Kalau tidak bisa, maka yang lebih baik adalah بالقلب . Kemudian di dalam kitab lain diterangkan bahwa dzikir yang paling baik dan utama adalah خفى

Pertanyaan :
  1. Sejauh manakah ketentuan dzikir خفى  itu ?
  2. Dzikir خفى itu termasuk dzikir باللسان atau dzikir بالقلب 
  3. Dipandang dari manakah keutamaan dzikir خفى  itu ? apakah dari pahalanya atau dari sisi yang lainnya ?
  4. Kalau dzikir خفى  termasuk dzikir بالقلب dan lebih utama dipandang dari pahalanya, karena selamat dari riya’ maka bagaimana menanggapi keterangan kitab إعانة الطالبين Juz 4 hal. 193 yang berbunyi: وليس لنا ذكر يثاب عليه من غير لفظ إلا هذا كما تقدم أول الكتاب فى آداب داخل الخلاء itu ?
Pon. Pes. Gedongsari
Tegaron Prambon Nganjuk 64484 Telp. (0358) 791297

Jawaban :
1.   Dzikir khofi adalah dzikir di dalam hati atau dengan lisan yang hanya didengar oleh orang yang dzikir itu sendiri (  tidak didengar orang lain )

Referensi :
1.        An Nihayah Libnil Asbar Juz  2 hal. 57
2.        Al Showi Alal Jalalain Juz  2 hal. 74
3.        Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Asfiya’ hal. 107 ( Syirkatul Ma’arif Bandung Indonesia )
4.        Dalilul Falihin Juz  4 hal. 207 - 208 ( Darul Fikr )
1.        النهاية لإبن الأثبر الجزء الثانى  ص: 57
(س) ومنه الحديث " خير الذكر الخفى " أى ما  أخفاه الذاكر وستره عن الناس قال الحربى : هو الذى عندى أنه الصغرة وانتشار خبر الرجل لأن سعد بن أبى وقاص أجاب ابنه عمر على ما أراده عليه  ودعاه إليه من الظهور وطلب الخلافة بهذا الحديث .
2.        الصاوى على الجلالين الجزء الثانى ص: 74
( قوله ادعوا ربكم ) - إلى أن قال – قوله سرا أى بإسماع نفسه لأن الله تعبدنا بالقراءة فلا يكفى مرور الدعاء على قلبه.
3.        كفاية الأتقياء ومنهاج الأصفياء ص: 107       شركة المعارف باندوع اندوسا
يعنى قد أجمع معظم العارفين بالله تعالى على أن أفضل الطاعات لله تعالى حفظ الأنفاس وهو مراعاتها بحيث لا يصرفها إلا فى طاعة الله تعالى بأن لا يخلو نفس من الأنفاس عن ذكر الله تعالى بأن يكون خروجها ودخولها بقول الله ولا فرق بين أن يكون بحضرة الملا أى الجماعة أو فى الخلا أى الانفراد - إلى أن قال - قوله وذا الذكر إلخ أى إن كان حفظ الأنفاس بما ذكر هو الذكر الخفى وهو الذى تداوله أى استعمله الذاكر من غير تحريك شفتيه وهو أفضل من الجهر. ( قوله وبالذكر الخفى ) متعلق بقوله تداولا وهو فعل أمر مؤكد بالنون الخفيفة أى خذ الذكر الخفى مرارا كثيرة وهو من غير تحريك الشفاه قال صلى الله عليه وسلم " خير الذكر الخفى وخير العبادة أخفها " رواه القضاعى عن عثمان بن عفان.
4.       دليل الفالحين الجزء الرابع ص : 207 - 208       دار الفكر
( كتاب الأذكار. باب فضل الذكر والحث ) بفتح المهملة وتشديد المثلثة أى الحضى ( عليه ) المراد بذكر الله هنا الإتيان بالألفاظ التى ورد الترغيب فيها وطلب الإكثار منها وقيل الذكر شرعا قول سيق لثناء أو دعاء وقد يستعمل لكل قول يثاب قائله قال الحافظ فى الفتح : ويطلق ويراد به المواظبة على العمل بما أوجبه الله أو ندب إليه وقال الرازى المراد بذكر اللسان الألفاظ الدالة على التسبيح والتحميد والتمجيد والذكر بالقلب التفكر فى أدلة الذات والصفات وفى أدلة التكاليف من الأمر والنهى حتى يطلع على أحكامها وفى أسرار مخلوقات لله تعالى والذكر بالجوارح هو أن تصير مستغرقة فى الطاعات.
2.    Idem dengan jawaban sub 1.
3.       Dzikir khofi lebih utama dipandang dari beberapa faktor. Diantaranya adalah :
  • Lebih jauh dari riya’
  • Tidak sampai mengganggu orang lain.
  •  Lebih besar pahalanya.
  •  Lebih bisa mendekatkan.
  •   Dan lain-lain

Referensi :
1.        Kifayatul Atqiya’ Waa Minhajul Ashfiya’ hal. 107 – 108 ( Syirkatul Ma’arif Bandung )
2.        Tanqihul qoul hal. 36
3.        Jami’ul Usulil Auliya’ hal. 163
4.        Al Adzkar Nawawi  hal. 9 ( Daru Ihya’il Kutub Al ‘Arobiyah )
1.        كفاية الأتقياء ومنهاج الأصفياء ص : 107 - 108    شركة المعارف بندوع إندونيسيا
( قوله وبالذكر الخفى ) متعلق بقوله تداولا وهو فعل أمر مؤكد بالنون الخفيفة أى خذ الذكر الخفى مرارا كثيرة وهو من غير تحريك الشفاه قال صلى الله عليه وسلم " خير الذكر الخفى وخير العبادة أخفها " رواه القضاعى عن عثمان بن عفان وإنما كان الأخف غير العبادة لسهولة المداومة ولأنه أنشط للنفس ( قوله الخفى ) وفى رواية المخفى بالميم وهو ما أخفاه الذاكر عن الناس فهو أفضل من الجهر وفى أحاديث أخر ما يفيد أن الجهر أفضل كذا أفاده العزيزى وقال عبد الوهاب الشعرانى وقد أجمع العلماء سلفا وخلفا على استحباب ذكر الله تعالى جماعة فى المساجد وغيرها من غير نكير بشرط أمن من الرياء ومن تأذى نحو مصل وقد شبه الإمام الغزالى رحمه الله تعالى ذكر الإنسان وحده وذكر الجماعة بأذان المنفرد وأذان الجماعة فإن أصوات المؤذنين جماعة تقطع جرم الهواء أكثر من صوت مؤذن واحد وكذلك ذكر الجماعة على قلب واحد أكثر تأثيرا فى رفع الحجب فإن الله شبه القلوب بالحجارة ومعلوم أن الحجر لا ينكسر إلا بقوة جماعة مجتمعين على قلب واحد لأن فوة الجماعة أشد من قوة شخص واحد اهـ
2.        تنقيح القول ص: 36
( وقال صلى الله  عليه وسلم  خير الذكر الذكر الخفى ) وفى رواية المخفى بالميم أى ما أخفاه الذاكر عن الناس فهو أفضل من الجهر وفى أحاديث آخر ما  يفيد أن الجهر أفضل وجمع بأن الإخفاء أفضل حيث خاف الرياء أو تأذى به نحو مصل والجهر أفضل حيث أمن من ذلك.
3.        جامع أصول الأولياء ص: 164
والذكر الخفى أفضل لقوله تعالى واذكر ربك فى نفسك تضرعا وخفية وقوله عليه السلام خير الذكر الخفى والمعنى فيه أنه أخلص لله وأبعد عن الرياء وأكثر فائدة وأفيد ثمرة بالتجربة وأعظم وأقوم وأسعد أجرا ودخرا وأتم درجة وأقرب زلفى وأكمل مقاما وأزكى طهارة وأسرع نجاة وأسبغ رضا وأجزل معرفة وأبلغ وصلا.
4.        الأذكار النووى ص : 9    دار إحياء الكتب العربية
( فصل ) اعلم أن الذكر محبوب فى جميع الأحوال إلا فى أحوال ورد الشرع باستثنائها نذكر منها هنا طرفا إشارة إلى ما سواه مما سيأتى فى أبوابه إن شاء الله تعالى فمن ذلك أنه يكره الذكر حالة الجلوس على قضاء الحاجة وفى حالة الجماع وفى حالة الخطبة لمن يسمع صوت الخطيب وفى القيام فى الصلاة بل يشتغل بالقراءة وفى حالة النعاس ولا يكره فى الطريق ولا فى الحمام والله أعلم.

4.        Yang dimaksud dengan ibarat yang ada pada kitab I’anatuth Tholibin adalah pahala melafadzkan atau pahala yang diketahui malaikat penulis amal ( kiromul katibin ). Artinya orang yang ada udzur melafadzkan dzikir yang diperintahkan, maka bisa mendapat pahala walaupun tidak melakukannya.
Referensi :
1.        Kifayatul Atkiya’ Waa Minhajul Ashfiya’ hal. 107 – 108 ( Syirkatul Ma’arif Bandung )
2.        Hawasyi Asy Syarwani  Juz 1 hal. 278 – 279 ( Darul Kutub Al ‘Alamiyah )
3.        Al Masa’il Al Mantsuroh Fatawi Al Imam Al Nawawi hal. 189 – 190 ( Darul Fikr )
1.        كفاية الأتقياء ومنهاج الأصفياء ص : 107 - 108     شركة المعارف بندوع إيندونيسيا
قال سيدى أبو بكر بن عبد الرحمن نفعنا الله به أوقية من أعمال السر تعدل بكذا وكذا قنطارا من أعمال الظواهر. وقال فى الإحياء قال بعض المكاشفين ظهر لى المالك فسألنى أن أملى عليه شيئا من ذكرى الخفى عن مشاهدتى من التوحيد وقال : مانكتب لك عملا ونحب أن نكتب عملا نتقرب به إلى الله تعالى فقلت : ألستما تكتبان الفرائض فقالا بلى فقلت فيكفيكما ذلك وهذه إشارة على أن الكرام الكاتبين لا يطلعون على أسرار القلب وإنما يطلعون على الأعمال الظاهرة اهـ
2.        حواشى الشروانى الجزء الأول ص : 278 - 279      دار الكتب العلمية
( ولا يتكلم ) أى يكره له إلا لمصلحة تكلم حال خروج بول أو غائط ولو بغير ذكر أو رد سلام للنهى عن التحدث على الغائط ولو عطس حمد بقلبه فقط كمجامع فإن تكلم ولم يسمع نفسه فلا كراهة أو خشى وقوع محذور بغيره لولا الكلام وجب أما مع عدم خروج شىء فيكره بذكر أو قرآن فقط واختير التحريم فى القرآن. قوله : ( أى يكره ) إلى قوله كمجامع فى النهاية والمغنى قوله : ( إلا لمصلحة ) عبارة المغنى والنهاية وشرح بافضل إلا لضرورة كإنذار أعمى فلا يكره بل قد يجب اهـ قوله : ( أو رد سلام ) من عطف الخاص قوله : ( حمد بقلبه ) وهل يثاب على ذلك أم لا فيه نظر والأقرب الأول ولا ينافيه ما فى الأذكار للنووى من أن الذكر القلبى بمجرده لا يثاب عليه لأن محله فيما لم يطلب وهذا مطلوب فيه بخصوصه ع ش قوله : ( فلا كراهة ) إذ لا يكره الهمس ولا التنحنح مغنى عبارة ع ش والأقرب أن مثل التنحنح عند طرق باب الخلاء من الغير ليعلم هل فيه أحد أم لا لا يسمى كلاما وبتقديره فهو لحاجة وهى دفع دخول الغير عليه اهـ قوله : ( أو خشى الخ ) قال فى شرح العباب وقد يسن إن رجحت مصلحته على السكوت وقد يباح إن كان ثم حاجة ولم تترجح المصلحة فيها انتهى اهـ سم قوله : ( بغيره ) أى أو به نفسه شرح بافضل قوله : ( بذكر أو قرآن ) فى شرح الحصن الحصين لمؤلفه ما نصه قالت عائشة كان صلى الله عليه وسلم يذكر الله على كل أحيانه ولم تستثن حالا من حالاته وهذا يدل على أنه كان لا يغفل عن ذكر الله تعالى لأنه صلى الله عليه وسلم كان مشغولا بالله تعالى فى كل أوقاته ذاكرا له وأما فى حالة التخلى فلم يكن أحد يشاهده لكن شرع لأمته قبل التخلى وبعده ما يدل على الاعتناء بالذكر وكذلك سن الذكر عند الجماع فالذكر عند نفس قضاء الحاجة وعند الجماع لا يكره بالقلب بالإجماع وأما الذكر باللسان حينئذ فليس مما شرع لنا ولا ندبنا إليه صلى الله عليه وسلم ولا نقل عن أحد من الصحابة بل يكفى فى هذه الحالة الحياء والمراقبة وذكر نعمة الله تعالى فى إخراج هذا العدو المؤذى الذى لو لم يخرج لقتل صاحبه وهذا من أعظم الذكر وإن لم يقله باللسان انتهى اهـ بصرى
3.        فتاوى الإمام النووى المسمى المسائل المنثورة ص : 189 – 190      دار الفكر
26 - ( مسألة ) فى الحديث " خير الذكر الخفى وخير المال ما يكفى " هل هو ثابت وما معناه ؟ (1) ( الجواب ) ليس بثابت ومعناه أن الذكر الخفى أبعد من الرياء والإعجاب أونحوهما فإن كان خاليا فى برية أو غيرها وأمن ذلك فالجهر أفضل وأما خير المال ما يكفى فمعناه أن المال الذى هو قدر الكفاية أقرب إلى السلامة من فتنة الفقر وقد صح أن النبى صلى الله عليه وسلم قال : " اللهم اجعل رزق آل محمد قوتا " أى قدر الكفاية أو سد الرمق. (1) قال فى أسنى المطالب : هذا الحديث رواه جماعة وفيه راو فيه مقال وقال فى الفتح الكبير هذا الحديث رواه أحمد فى مسنده وابن حبان فى صحيحه والبيهقى فى شعب الإيمان عن سعد رضى الله عنه قال سيدى " الإمام " ابن حجر فى فتاويه ص : 48  سئل – رضى الله عنه – عن قول النووى " رحمه الله تعالى " فى آخر " باب " مجالس الذكر من شرح مسلم : " ذكر اللسان مع حضور القلب أفضل من ذكر القلب " فهل يؤخذ من كلامه أنه إذا ذكر الله تعالى بقلبه دون لسانه : أنه ينال الفضيلة إذا كان معذورا أم لا ؟ وهل إذا قرأ بقلبه دون لسانه من غير عذر ينال الفضيلة أم لا ؟ فأجاب بقوله : الذكر بالقلب لا فضيلة فيه من حيث كونه ذكرا متعبدا بلفظه وإنما فيه فضيلة من حيث استخضاره لمعناه من تنزيه الله وإجلاله بقلبه وبهذا يجمع بين قول النووى المذكور وقولهم " ذكر القلب لا ثواب فيه " فمن نفى عنه الثواب أراد من حيث لفظه ومن أثبت فيه ثوابا أراد من حيث حضوره بقلبه كما ذكرناه فتأمل ذلك فإنه مهم ولا فرق فى جميع ذلك بين المعذور وغيره " والله سبحانه تعالى اعلم " اهـ أقول : وإن كانت الأدلة قد ترجح الذكر باللسان إلا أنه ثبت لدى التجارب عند السادة " النقشبندية " قدس أسرارهم العلية أن الذكر بالقلب أنفع للمريد وأشد تأثيرا فى جلاء القلب وإيقاظه وطرد الغفلة عنه فقد قال سيدى العارف بالله تعالى أمين الكردى فى كتابه المشهور " تنوير القلوب " ص : 522


والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته


Link Asal:http://ibnusani.mywapblog.com/tentang-berdzikir-billisan-atau-bilqolbi.xhtml#page

141. Mencuri Watt Dari PLN

141. Mencuri Watt Dari PLN

Oleh Sanusi El Ruzy pada 31 Mei 2013 pukul 8:08
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته


Deskripsi Masalah:
Pencurian watt listrik marak terjadi dan ada dimana-mana, semua ini biasanya terpicu oleh ketidakpuasan para pelanggan terhadap pelayanan PT.PLN yang mereka terima, semisal: dalam awal perjanjian / pemasangan disebutkan bahwa aliran listrik berkapasitas 450 watt, namun saat digunakan belum sampai melampaui 400 watt ternyata sudah tidak kuat, ditambah lagi saat ini ada pengurangan aliran listrik mulai menjelang malam sampai menjelang pertengahan malam, sehingga pada saat-saat tersebut untuk menggunakan alat elektronik yang ber-watt besar tidaklah mencukupi. Akhirnya para pelanggan harus ekstra hati-hati.
Pertanyaan:
a.      Bagaimana hukum mencuri watt listrik karena alasan diatas?
b.      Bolehkah para pelanggan menuntut hak mereka (baca: kerugian watt) yang tidak sesuai dengan perjanjian saat pemasangan ?
c.      Bolehkah pemerintah mengurangi kekuatan aliran listrik seperti yang terjadi dibeberapa kota dijawa tengah ?
PP. AL MA'RUF GROBOGAN JATENG



Jawaban :

a.      Karena dalam realitasnya ada bermacam-macam kasus, maka hukumnya sebagai berikut:
  •  Apabila penambahan Watt dilakukan dengan cara melepas (ngelos) atau nyantol, maka hukumnya harom secara mutlaq (dalam katagori Ghosob).
  •  Apabila penambahan Watt tersebut tidak sesuai dengan kapasitas haknya maka hukumnya juga tidak diperbolehkan.
  • Apabila memperbaiki kapasitas sesuai dengan haknya, maka menambah Watt dengan cara menambah meteran hukumnya boleh.
Referensi:
1.      Bugyatul Mustarsyidin Hal. 286 – 287
2.      Al – Muhadzab Juz 1 Hal. 403
3.      Hawasyi Syarwani Juz 6 Hal. 184 dan 183
4.      Al – 'Aziz Syarhul Wajiz Juz 6 Hal. 153
5.      I'anatul Tholibin Juz 3 Hal. 145 – 146
6.      Bujairimi 'alal Khotib Juz 4 Hal. 194
1.       بغية المستر شدين ص: 286 – 287 دار الفكر
(مسئلة) حاصل مسئلة الظفر أن يكون لشخص عند غيره عين أو دين فإن استحق عينا بملك أو بنحو إجارة أو وقف أو وصية بمنفعة أو بولا ية كأن غصبت عين لموليه وقدر على أخذها فله فى هذه الصور أخذها مستقلا به إن لم يخف ضررا ولو على غيره وإن لم تكن يد من هى عنده عادية كأن اشترى مغصوبا لا يعلمه وفى نحو الإجارة المتعلقة بالعين يأخذ العين ليستوفى المنفعة منها والمتعلقة بالذمة يأخذ قيمة المنفعة ويقتصر على ما يتيقن أنه قيمة تلك المنفعة فإن خاف من الأخذ المذكور مفسدة وجب الرفع إلى القاضى وإن استحق عند غيره دينا فإن كان المدين مقرا باذلا طالبه به ولا يحل له أخذ شىء بل يلزمه رده ويضمنه إن تلف ما لم يوجد شرط التقاص أو مقرا ممتنعا أو منكرا ولا بينة للظافر وكذا إن كان له بينة فى الأصح لأخذ جنس حقه من ماله ظفرا وكذا غير جنس حقه ولو أمة إن فقد الجنس للضرورة نعم يتعين أخذ النقد إن أمكن ولو كان المدين محجورا عليه بفلس أو ميتا عليه دين لم يأخذ إلا قدر حقه بالمضاربة إن علمها وإلا احتاط ومحل أخذ المال المذكور إن كان الغريم مصدقا أنه ملكه وإلا لم يجز أخذه ولو ادعى المأخوذ منه على الظافر أنه أخذ من ماله كذا جاز جحده والحلف عليه وينوى أنه لم يأخذ من ماله الذى لا يستحق الأخذ منه وإذا جوزنا الأخذ ظفرا فله بنفسه لا بوكيله إلا لعجر كسر باب ونقب جدار للمدين ليتوصل للأخذ ولا ضمان كالصائل نعم يمتنع الكسر فى غير متعد لنحو صغر وفى غائب معذور وإن جاز الأخذ ثم إن كان المأخوذ من جنس حقه وصفته ملكه بنفس الأخذ أو من غير جنسه أو أرفع منه صفة باعه ولو بمأذونه لا لنفسه ومحجوره بإذن الحاكم إن تيسر بأن علمه الحاكم أو أمكنه إقامة بينة بلا مشقة ومؤنة فيهما واشترى جنس حقه وملكه وهو أعنى المأخوذ من الجنس أو غيره مضمون على الآخذ بمجرد أخذه بأقصى قيمة ولا يأخذ فوق حقه إن أمكن الاقتصار على قدر حقه فإن لم يمكن جاز ولا يضمن الزائد ويقتصر على بيع قدر حقه إن أمكن أيضا ويرد الزائد لمالكه ولو لم يمكنه أخذ مال الغريم جاز له أخذ مال غريم الغريم بالشرط المذكور وهو جحده أو امتناعه أو مماطلته لكن يلزمه إعلام غريمه بالأخذ حتى لا يأخذ ثانيا ولا يلزمه إعلام غير الغريم إذ لا فائدة فيه إلا إن خشى أن الغريم يأخذ منه ظلما وله إقامة شهود بدين قد برئ منه ولم يعلموه على دين آخر كما يجوز جحد من جحده إذا كان على الجاحد مثل ما له عليه أو أكثر فيحصل التقاص وإن لم توجد شروطه للضرورة فإن نقص ماله جحد بقدر حقه اهـ ملخصا من التحفة والنهاية

2.       المهذب ج: 1 ص: 403
فصل فإن استأجر عينا لمنفعة وشرط عليه أن لا يستوفي مثلها أو دونها أولا يستوفيها لمن هو مثله أو دونه ففيه ثلاثة أوجه أحدها أن الإجارة باطلة لانه شرط فيها ما ينافي في موجبها فبطلت والثاني أن الإجارة جائزة طاعة باطل لانه شرط لا يؤثر في حق المؤجر فألغي وبقي العقد على مقتضاه والثالث أن الإجارة جائزة طاعة لازم لان المستأجر يملك المنافع من جهة المؤجر فلا يملك ما لم يرض به

3.       حواشي الشروانى وابن قاسم الجزء السادس ص: 184
(لو اكترى لحمل مائة رطل حنطة فحمل مائة شعيرا أو عكس) لأنها لثقلها تجمع بمحل واحد وهو لخفته يأخذ من ظهر الدابة أكثر فاختلف ضررهما وكذا كل مختلفي الضرر كحديد وقطن ونازع فيه الأذرعي وأطال إذ لا فرق بينهما عرفا (أو) اكترى (لعشرة أقفزة شعير) جمع قفيز مكيال يسع اثني عشر صاعا (فحمل) عشرة أقفزة (حنطة) لأنها أثقل (دون عكسه) بأن اكتراه لحمل عشرة أقفزة حنطة فحمل عشرة أقفزة شعيرا من غير زيادة أصلا فلا يضمن لاتحاد جرمهما باتحاد كيلهما مع أن الشعير أخف (ولو اكترى لحمل مائة فحمل) بالتشديد (مائة وعشرة لزمه) مع المسمى (أجرة المثل للزيادة) لتعديه بها ومثل لها بالعشرة ليفيد اغتفار نحو الاثنين مما يقع التفاوت به بين الكيلين (وإن تلفت بذلك) المحمول أو بسبب آخر (ضمنها) ضمان يد (إن لم يكن صاحبها معها) لأنه صار غاصبا لها بحمل الزيادة

4.       حواشي الشروانى وابن قاسم الجزء السادس ص: 183
(ولو تعدى المستأجر) في ذات العين المؤجرة (بأن) أي كأن (ضرب الدابة أو كبحها) بموحدة فمهملة أي جذبها بلجامها (فوق العادة) فيهما أي بالنسبة لمثل تلك الدابة كما هو ظاهر (أو أركبها أثقل منه أو أسكن حدادا أو قصارا) دق وهما أشد ضررا مما استؤجر له (ضمن العين) المؤجرة أي دخلت في ضمانه لتعديه أما ما هو العادة فلا يضمن به وإنما ضمن بضرب زوجته ومعلمه لإمكان تأديبهما باللفظ وظن توقف إصلاحهما على الضرب إنما يبيحه فقط وفيما إذا أركب أثقل منه الضامن مستقرا الثاني إن علم وإلا فالأول وقيده الإسنوي بما إذا لم يضمن الثاني كالمستأجر وإلا كالمستعير ضمن مستقرا مطلقا لأن المستأجر هنا لما تعدى بإركابه صار كالغاصب وأيد بقولهم لو لم يتعد بأن أركبها مثله فضربها فوق العادة ضمن الثاني فقط وخرج بذات العين منفعتها كأن استأجر لبر فزرع ذرة فلا يضمن الأرض لأنه لم يتعد إلا في منفعتها بل تلزمه أجرة مثل الذرة ولو ارتدف ثالث وراء مكتريين بغير إذنهما ضمن الثلث وقيل بقسط وزنه من أوزانهم واختير (وكذا) يضمن وإن تلفت بسبب آخر (قوله فيهما) أي قوله فوق العادة قيد في المسألتين اهـ مغني (قوله دق) أفرد الفعل لأن العطف السابق بأو اهـ سيد عمر أي وثنى ضمير وهما أشد إلخ نظرا إلى أن أو للتنويع عبارة الرشيدي عبارة التحفة دق وهما أشد ضررا وكأنه أشار إلى تقييد الضمان بقيدين الأول وقوع الدق بالفعل كما أشار إليه تبعا للجلال المحلي بقوله دق الذي هو بصيغة الماضي وصفا للحداد والقصار والثاني كون الحداد والقصار أشد ضررا مما استؤجر له اهـ قول المتن (ضمن العين) أي ضمان المغصوب اهـ ع ش (قوله أي دخلت في ضمانه) هو صريح في ضمان اليد اهـ سم عبارة ع ش أي ولو تلفت بغير الاستعمال الذي دفعها لأجله

5.       العزيز شرح الوجيز المعروف بشرح الكبير الجزء السادس ص: 153
قال الغزالى ولو استأجر دابة ليحملها عشرة آصع فزاد صاعا صار عاصيا ضامنا ولو سلم إلى المكري وقال إنه عشرة وهو أحد عشر وكذب فتلفت الدابة بالحمل فتجب عليه الضمان وفي قدره قولان أحدهما النصف كما إذا جرح نفسه جرحات وجرحه غيره جراحة فمات والثاني أنه يجب جزء من أحد عشر جزءا من الضمان لأنالجراحات لا تنضبط بخلاف الحمل وهذا الخلاف جار في الجلاد إذا زاد واحدا على المائة أنه يضمن النصف أو بحسابه

6.       إعانة الطالبين ج: 1ص: 104-105
(قاعدة مهمة) وهي أن ما أصله الطهارة وغلب على الظن تنجسه لغلبة النجاسة في مثله فيه قولان معروفان بقولي الأصل والظاهر أو الغالب أرجحهما أنه طاهر عملا بالأصل المتيقن لأنه أضبط من الغالب المختلف بالأحوال والأزمان وذلك كثياب خمار وحائض وصبيان وأواني متدينين بالنجاسة وورق يغلب نثره على نجس ولعاب صبي وجوخ اشتهر عمله بشحم الخنزير وجبن شامي اشتهر عمله بإنفحة الخنزير وقد جاءه e جبنة من عندهم فأكل منها ولم يسأل عن ذلك ذكره شيخنا في شرح المنهاج إهـ

7.       البجيرمي على الخطيب ج: 4 ص: 194
وهي لغة أخذ المال خفية وشرعا أخذه خفية ظلما من حرز مثله (قوله ظلما) اى من حيث ذاته فلا يريد انه لو اخذ مال نفسه من المستأجر أو المرتهن بلا قطع لأن الظلم لا من حيث ذات المال والمراد بقوله ظلما أي في نفس الأمر وخرج ما إذا سرق ماله بظن أنه مال غيره كما يأتي وعبارة م ر قوله ظلما خرج به سرقه قال الغير بظنه مال نفسه لا يقال يدخل فيه أخذ مال نفسه من المستأجر والمرتهن فإنه ظلما ولا قطع به لأنانقول إن هذا ليس ظلما من حيث ذاته بل من حيث حق الغير

b.      Transaksi yang terjadi dalam kasus ini adalah penggabungan akad ijaroh 'ain dan ju'alah, sehingga hukum tuntutan oleh pelanggan di tafsil sebagai berikut:
·      Tuntutan yang berupa permohonan untuk perbaikan spedo agar terpenuhi sesuai kapasitasnya maka hukumnya boleh
·      Kalau tuntutan berup[a matreal itu juga boleh, namun hanya sebatas mengurangi biaya beban / abonemen yang tidak bisa dipenuhi oleh PLN.
Referensi:
1.      I'anatut Tholibin Juz 3 hal. 123
2.      Al 'aziz syarhul Wajiz Juz 6 hal. 142
3.      Asnal Matholib Juz 2 hal. 443
1.       إعانة الطالبين الجزء الثالث ص: 123
(فرع) لو وجد المحمول على الدابة مثلا ناقصا نقصا يؤثر وقد كاله المؤجر حط قسطه من الأجرة إن كانت الإجارة في الذمة وإلا لم يحط شيء من الأجرة (قوله فرع) الأولى فرعان (قوله لو وجد الخ) يعني لو وجد المستأجر ما حمله على دابة المؤجر من نحو البر أو الشعير ناقصا عما شرطه عليه كأن شرط عليه في عقد الإجارة حمل عشرة آصع مثلا فما حمل إلا تسعة فإن كان الذي كاله ناقصا عما ذكر هو المؤجر وكانت الإجارة ذمية حط قسط من الأجرة قدر النقص وهو عشرها في الصورة المذكورة لأنه لم يف بالمشروط وإن كان الذي كاله ناقصا هو المستأجر نفسه وأعطاه للمؤجر ليحمله أو كانت الإجارة عينية بأن كان استأجر دابته ليحمل عليها عشرة آصع فما حمل عليها إلا تسعة لم يحط شيء من الأجرة لأنه هو الذي رضي على نفسه بالنقص وكان قادرا على الاستيفاء ومحله في الإجارة العينية ما إذا علم المستأجر بالنقص أما إذا لم يعلم به بأن أذن للمؤجر في الكيل فكان ناقصا عن المشروط فإنه يحط أيضا من أجرته بقدر النقص وهذا كله مصرح به الروض وشرحه وعبارته: (فرع) وإن كان المحمول على الدابة ناقصا عن المشروط نقصا يؤثر بأن كان فوق ما يقع به التفاوت بين الكيلين أو الوزنين وقد كاله المؤجر حط قسطه من الأجرة إن كانت الإجارة في الذمة لأنه لم يف بالمشروط أولا كذلك بل كانت إجارة عين لكن لم يعلم المستأجر النقص فإن علمه لم يحط شيء من الأجرة لأن التمكين من الاستيفاء قد حصل وذلك كاف في تقرير الأجرة فهو كما لو كال المستأجر بنفسه ونقص أما النقص الذي لا يؤثر فلا عبرة به اهـ

2.       العزيز شرح الوجيز المعروف بشرح الكبير الجزء السادس ص: 142
قال الرافعي إذا اكترى دابة بعينها فتلفت انفسخ العقد وإن وجد بها عيبا فله الخيار كما لو وجد المبيع معيبا والعيب بأن تتعثر في المشي أو لا تبصر بالليل أو يكون بها عرج تتخلف بها عن القافلة ومجرد خشونة المشي ليس بعيب وإن كنت الإجارة في الذمة وسلم دابة فتلفت لم ينفسخ العقد وإن وجد بها عيبا لم يكن له الخيار في فسخ العقد ولكن على المكري الإبدال كما لو وجد المسلم فيه عيبا واعلم أ الدية المسلمة عن الإجارة في الذمة ومإن لم ينفسخ العقد بتلفها فإنه يثبت المكتري فيها حق واختصاص حتى يجوز له إجارتها لو أراد المكري إبدالها فهل له ذلك دون رضا المكتري فيه وجهان: أحدهما لا لما فيها من حق المكتري والثانى عن الشيخ أبى محمد أنه يفرق بين أنه يعتمد بلفظ الدابة بأن يقول آجرتك دابة من صفاتها كذا وكذا فلا يجوز إبدالها بالذى تسلمها أو لا يعتمد بأن يقول ألزمت إركابك على دابة صفتها كذا وكذا فيجوز الإبدال واختار في الوسيط هذا الوجه الثانى لكن الأصح عند المعظم الأول

3.       أسنى المطالب الجزء الثانى ص: 443
(فصل الجعالة جائزة) من الجانبين (قبل تمام العمل) لأنها تعليق استحقاق بشرط كالوصية ولأن العمل فيها مجهول كالقراض فلكل منهما فسخها (لازمة بعده) للزوم الجعل فلا انفساخ ولا فسخ (فلو فسخها المالك في أثناء العمل لزمه أجرة المثل) للعامل (فيما عمل) لئلا يحبط سعيه بفسخ غيره وربما عبر معظم الأصحاب عن ذلك بأنه ليس له الفسخ حتى يضمن أي يلتزم للعامل أجرة مثل ما عمل وإنما لم يجب قسط ما عمل من المسمى لارتفاع العقد بالفسخ لأنه إنما يستحق المسمى بالفراغ من العمل فكذا بعضه وإنما استحق أجرة المثل لما قلنا واستشكل لزوم أجرة المثل بما لو مات المالك في أثناء المدة حيث تنفسخ ويجب القسط من المسمى وأي فرق بين الفسخ والانفساخ ويجاب بأن الملتزم ثم لم يتسبب في إسقاط المسمى والعامل ثم تمم العمل بعد الانفساخ ولم يمنعه المالك منه بخلافه هنا-إلى أن قال-(أو) فسخها (العامل فلا) شيء له لأنه امتنع باختياره ولم يحصل غرض المالك سواء أوقع ما عمله مسلما أم لا نعم لو زاد المالك في العمل ولم يرض العامل بالزيادة ففسخ لذلك فله أجرة المثل كما ذكره الأصل في آخر المسابقة لأن المالك هو الذي ألجأه لذلك قال الإسنوي وقياسه كذلك إذا نقص من الجعل اهـ وفيه نظر وإن كان الحكم صحيحا لأن النقص فسخ كما سيأتي وهو فسخ من المالك لا من العامل (وإن عمل) العامل شيئا (بعد الفسخ ولو جاهلا) به (فلا شيء له) لكن صرح الماوردي والروياني بأن له المسمى إذا كان جاهلا وهو معين أو لم يعلن المالك بالفسخ واستحسنه البلقيني والتصريح بحكم الجاهل من زيادة المصنف
(قوله فلو فسخها المالك في أثناء العمل لزمه أجرة المثل) لا فرق بين أن يكون ما صدر من العامل لا يحصل به مقصود أصلا كرد الآبق إلى بعض الطريق أو يحصل به بعضه كما لو قال إن علمت ابني القرآن فلك كذا ثم مات الصبي في أثناء التعليم أو منعه من تعليمه فس (قوله أو فسخها العامل) ولو صبيا أو مجنونا أو محجورا عليه بسفه (قوله سواء أوقع ما عمله مسلما) أي وظهر أثره على المحل ومثله ما لو امتنع من إتمام تعليم الصبي أو من إتمام بناء الحائط قال شيخنا لأن الجعل مستحق بتمام العمل وهو فوت العمل باختياره ولم يحصل غرض المالك وقد اتسع في عقد الجعالة وكما اعتبر عمله في استحقاقه الجعل اعتبر فسخه وترك العمل في إسقاطه وقد علم من ذلك أنه لا تخالف بين هذا وبين ما حرره الشارح في شرح البهجة من أنه يشترط في كل من الإجارة والجعالة لاستحقاقه قسط الجعل وقوع العمل مسلما وظهور أثره على المحل إذ حاصل ذلك ثلاث مسائل الأولى فسخ العامل في الأثناء وهو محبط لحقه مطلقا كما قررناه فلا يستحق شيئا الثانية وهو ما لو احترق الثوب أو نحوه بعد الشروع الثالثة ترك العامل العمل بنفسه من غير فسخ فإن وقع العمل في هاتين المسألتين مسلما وظهر أثره على المحل استحق القسط وإلا فلا ووجهه في الأخيرة أن تركه لا يسمى فسخا وكلام شرح البهجة في المسألتين الأخيرتين

c.      Boleh jika ada unsur maslahah 'amah.
Refrerensia
1.      Qowaidul Ahkam fi Masholihil Anam Juz 2 hal. 75
2.      Al Asybah Wannadloir hal. 83
3.      Mawahibus Saniyah hal. 185
4.      Al Fiqhul Islami Juz 5 hal. 518 - 519
5.      Qowaidul Ahkam fi Masholihil Anam Juz 2 hal. 330 - 331

1.       قواعد الاحكام فى مصالح الانام ج: 2 ص: 75
(فصل في تصرف الولاة ونوابهم) يتصرف الولاة ونوابهم بما ذكرنا من التصرفات بما هو الاصح للمولى عليه للضرر والفساد للنفع والرشاد ولا يقتصر احدهم على الصلاح مع القدرة على الاصلح إلا أن يؤدي إلى مشقة شديدة ولا يتخيرون في التصرف حسب تخيرهم في حقوق انفسهم مثل أن يبيعوا درهماً بدرهم زبيب بمثلها لقول الله تعالى ولا تقربوا مال اليتيم إلا بالتي هي أحسن وان كان هذا في حقوق اليتامى فأولى أن يثبت في حقوق عامة المسلمين فيما يتصرف فيه الأئمة من الأموال العامة لأن اعتناء الشرع بالمصالح العامة أو أوفر واكثر من اعتنائه بالمصالح الخاصة وكل تصرف أو دفع صلاحا فهو منهى عنه كاضاعة المال بغير فائدة واضرار الامزجة لغير عائدة والأكل على الشبع منهى عنه لما فيه من إتلاف الأموال وإفساد الأمزجة وقد يؤدي إلى تفويت الارواح ولو وقع مثل قصة الخضر u في بكذا هذا لجاز تعييب المال حفظاً لأصله الولاية ذلك في حق المولى عليه حفظاً للأكثر بتفويت الاقل فان الشرع يحصل الاصلح بتفويت المصالح كما يدرأ بارتكاب المفاسد وما لا فساد فيه ولا صلاح فلا يتصرف فيه الولاة على المولى عليه إذا أمكن الأنفكاك عنه

2.       الأشباه والنظائر ج: 1 ص: 121
القاعدة الخامسة تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة هذه القاعدة نص عليها الشافعي وقال منزلة الإمام من الرعية منزلة الولي من اليتيم

3.       المواهب السنية ص: 185
فيلزم الامام ونحوه فى التصرف على الانام منهج اى طريق الشرع الوافى فما حلله فعله وما حرمه تركه فيحفظ اموال الغائبين ويفعل فيها ما فيه المصلحة

4.       الفقه الإسلامي الجزء الخامس: 518-519 دار الفكر
وكذالك يحق للدولة التداخل في الملكيات الخاصة المشروعة لتحقيق العدل والمصلحة العامة سواء في أصل حق الملكية أو في منع المباح وتملك المباحات قبل الإسلام وبعده إذا أدى استعماله إلى ضرر عام كما يتضح من مساوئ الملكية الإقطاعية ومن هنا يحق لولي الأمر العادل أن يفرض قيود الملكية في بداية إنشائها في حال إحياء الموات فيحددها بمقدار معين أو ينتزعها من أصحابها مع الدفع تعويض عادل عنها إذا كان ذالك في سبيل المصلحة العامة للمسلمين ومن المقرر عند الفقهاء أن لولي الأمر أن ينهى إباحة الملكية بحظر يصدر منه لمصلحة تقتضيه فيصبح ما تجاوزه أمر محظورا فإن طاعة ولي الأمر واجبة لقوله تعالى: "يأيها اللذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم" وأولي الأمر الأمراء والولاة كما روى إبن عباس وأبو هريرة وقال الطبري أنه أولي الأقوال بالصواب إهـ

5.       قواعد الأحكام في مصالح الأنام الجزء الثانى ص: 330 331 مؤسسة الريان
المثال السابع والعشرون من أتلف شيئاً عمداً بغير حق لزمه الضمان جبراً لما فات من الحق ويستثنى من ذلك صور -إلى ان قال- الصورة الخامسة أن الإمام والحاكم إذا أتلفا شيئاً من النفوس أو الأموال في تصرفهما للمصالح فانه يجب على بيت المال دون الحاكم والامام ودون عواقلهما على قول الشافعي لأنهما لما تصرفا للمسلمين صار كأن المسلمين هم المتلفون ولأن ذلك يكثر في حقهما فيتضرران به ويتضرر عواقلهما إهـ




والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

141. Mencuri Watt Dari PLN

141. Mencuri Watt Dari PLN

Oleh Sanusi El Ruzy pada 31 Mei 2013 pukul 8:08
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته


Deskripsi Masalah:
Pencurian watt listrik marak terjadi dan ada dimana-mana, semua ini biasanya terpicu oleh ketidakpuasan para pelanggan terhadap pelayanan PT.PLN yang mereka terima, semisal: dalam awal perjanjian / pemasangan disebutkan bahwa aliran listrik berkapasitas 450 watt, namun saat digunakan belum sampai melampaui 400 watt ternyata sudah tidak kuat, ditambah lagi saat ini ada pengurangan aliran listrik mulai menjelang malam sampai menjelang pertengahan malam, sehingga pada saat-saat tersebut untuk menggunakan alat elektronik yang ber-watt besar tidaklah mencukupi. Akhirnya para pelanggan harus ekstra hati-hati.
Pertanyaan:
a.      Bagaimana hukum mencuri watt listrik karena alasan diatas?
b.      Bolehkah para pelanggan menuntut hak mereka (baca: kerugian watt) yang tidak sesuai dengan perjanjian saat pemasangan ?
c.      Bolehkah pemerintah mengurangi kekuatan aliran listrik seperti yang terjadi dibeberapa kota dijawa tengah ?
PP. AL MA'RUF GROBOGAN JATENG



Jawaban :

a.      Karena dalam realitasnya ada bermacam-macam kasus, maka hukumnya sebagai berikut:
  •  Apabila penambahan Watt dilakukan dengan cara melepas (ngelos) atau nyantol, maka hukumnya harom secara mutlaq (dalam katagori Ghosob).
  •  Apabila penambahan Watt tersebut tidak sesuai dengan kapasitas haknya maka hukumnya juga tidak diperbolehkan.
  • Apabila memperbaiki kapasitas sesuai dengan haknya, maka menambah Watt dengan cara menambah meteran hukumnya boleh.
Referensi:
1.      Bugyatul Mustarsyidin Hal. 286 – 287
2.      Al – Muhadzab Juz 1 Hal. 403
3.      Hawasyi Syarwani Juz 6 Hal. 184 dan 183
4.      Al – 'Aziz Syarhul Wajiz Juz 6 Hal. 153
5.      I'anatul Tholibin Juz 3 Hal. 145 – 146
6.      Bujairimi 'alal Khotib Juz 4 Hal. 194
1.       بغية المستر شدين ص: 286 – 287 دار الفكر
(مسئلة) حاصل مسئلة الظفر أن يكون لشخص عند غيره عين أو دين فإن استحق عينا بملك أو بنحو إجارة أو وقف أو وصية بمنفعة أو بولا ية كأن غصبت عين لموليه وقدر على أخذها فله فى هذه الصور أخذها مستقلا به إن لم يخف ضررا ولو على غيره وإن لم تكن يد من هى عنده عادية كأن اشترى مغصوبا لا يعلمه وفى نحو الإجارة المتعلقة بالعين يأخذ العين ليستوفى المنفعة منها والمتعلقة بالذمة يأخذ قيمة المنفعة ويقتصر على ما يتيقن أنه قيمة تلك المنفعة فإن خاف من الأخذ المذكور مفسدة وجب الرفع إلى القاضى وإن استحق عند غيره دينا فإن كان المدين مقرا باذلا طالبه به ولا يحل له أخذ شىء بل يلزمه رده ويضمنه إن تلف ما لم يوجد شرط التقاص أو مقرا ممتنعا أو منكرا ولا بينة للظافر وكذا إن كان له بينة فى الأصح لأخذ جنس حقه من ماله ظفرا وكذا غير جنس حقه ولو أمة إن فقد الجنس للضرورة نعم يتعين أخذ النقد إن أمكن ولو كان المدين محجورا عليه بفلس أو ميتا عليه دين لم يأخذ إلا قدر حقه بالمضاربة إن علمها وإلا احتاط ومحل أخذ المال المذكور إن كان الغريم مصدقا أنه ملكه وإلا لم يجز أخذه ولو ادعى المأخوذ منه على الظافر أنه أخذ من ماله كذا جاز جحده والحلف عليه وينوى أنه لم يأخذ من ماله الذى لا يستحق الأخذ منه وإذا جوزنا الأخذ ظفرا فله بنفسه لا بوكيله إلا لعجر كسر باب ونقب جدار للمدين ليتوصل للأخذ ولا ضمان كالصائل نعم يمتنع الكسر فى غير متعد لنحو صغر وفى غائب معذور وإن جاز الأخذ ثم إن كان المأخوذ من جنس حقه وصفته ملكه بنفس الأخذ أو من غير جنسه أو أرفع منه صفة باعه ولو بمأذونه لا لنفسه ومحجوره بإذن الحاكم إن تيسر بأن علمه الحاكم أو أمكنه إقامة بينة بلا مشقة ومؤنة فيهما واشترى جنس حقه وملكه وهو أعنى المأخوذ من الجنس أو غيره مضمون على الآخذ بمجرد أخذه بأقصى قيمة ولا يأخذ فوق حقه إن أمكن الاقتصار على قدر حقه فإن لم يمكن جاز ولا يضمن الزائد ويقتصر على بيع قدر حقه إن أمكن أيضا ويرد الزائد لمالكه ولو لم يمكنه أخذ مال الغريم جاز له أخذ مال غريم الغريم بالشرط المذكور وهو جحده أو امتناعه أو مماطلته لكن يلزمه إعلام غريمه بالأخذ حتى لا يأخذ ثانيا ولا يلزمه إعلام غير الغريم إذ لا فائدة فيه إلا إن خشى أن الغريم يأخذ منه ظلما وله إقامة شهود بدين قد برئ منه ولم يعلموه على دين آخر كما يجوز جحد من جحده إذا كان على الجاحد مثل ما له عليه أو أكثر فيحصل التقاص وإن لم توجد شروطه للضرورة فإن نقص ماله جحد بقدر حقه اهـ ملخصا من التحفة والنهاية

2.       المهذب ج: 1 ص: 403
فصل فإن استأجر عينا لمنفعة وشرط عليه أن لا يستوفي مثلها أو دونها أولا يستوفيها لمن هو مثله أو دونه ففيه ثلاثة أوجه أحدها أن الإجارة باطلة لانه شرط فيها ما ينافي في موجبها فبطلت والثاني أن الإجارة جائزة طاعة باطل لانه شرط لا يؤثر في حق المؤجر فألغي وبقي العقد على مقتضاه والثالث أن الإجارة جائزة طاعة لازم لان المستأجر يملك المنافع من جهة المؤجر فلا يملك ما لم يرض به

3.       حواشي الشروانى وابن قاسم الجزء السادس ص: 184
(لو اكترى لحمل مائة رطل حنطة فحمل مائة شعيرا أو عكس) لأنها لثقلها تجمع بمحل واحد وهو لخفته يأخذ من ظهر الدابة أكثر فاختلف ضررهما وكذا كل مختلفي الضرر كحديد وقطن ونازع فيه الأذرعي وأطال إذ لا فرق بينهما عرفا (أو) اكترى (لعشرة أقفزة شعير) جمع قفيز مكيال يسع اثني عشر صاعا (فحمل) عشرة أقفزة (حنطة) لأنها أثقل (دون عكسه) بأن اكتراه لحمل عشرة أقفزة حنطة فحمل عشرة أقفزة شعيرا من غير زيادة أصلا فلا يضمن لاتحاد جرمهما باتحاد كيلهما مع أن الشعير أخف (ولو اكترى لحمل مائة فحمل) بالتشديد (مائة وعشرة لزمه) مع المسمى (أجرة المثل للزيادة) لتعديه بها ومثل لها بالعشرة ليفيد اغتفار نحو الاثنين مما يقع التفاوت به بين الكيلين (وإن تلفت بذلك) المحمول أو بسبب آخر (ضمنها) ضمان يد (إن لم يكن صاحبها معها) لأنه صار غاصبا لها بحمل الزيادة

4.       حواشي الشروانى وابن قاسم الجزء السادس ص: 183
(ولو تعدى المستأجر) في ذات العين المؤجرة (بأن) أي كأن (ضرب الدابة أو كبحها) بموحدة فمهملة أي جذبها بلجامها (فوق العادة) فيهما أي بالنسبة لمثل تلك الدابة كما هو ظاهر (أو أركبها أثقل منه أو أسكن حدادا أو قصارا) دق وهما أشد ضررا مما استؤجر له (ضمن العين) المؤجرة أي دخلت في ضمانه لتعديه أما ما هو العادة فلا يضمن به وإنما ضمن بضرب زوجته ومعلمه لإمكان تأديبهما باللفظ وظن توقف إصلاحهما على الضرب إنما يبيحه فقط وفيما إذا أركب أثقل منه الضامن مستقرا الثاني إن علم وإلا فالأول وقيده الإسنوي بما إذا لم يضمن الثاني كالمستأجر وإلا كالمستعير ضمن مستقرا مطلقا لأن المستأجر هنا لما تعدى بإركابه صار كالغاصب وأيد بقولهم لو لم يتعد بأن أركبها مثله فضربها فوق العادة ضمن الثاني فقط وخرج بذات العين منفعتها كأن استأجر لبر فزرع ذرة فلا يضمن الأرض لأنه لم يتعد إلا في منفعتها بل تلزمه أجرة مثل الذرة ولو ارتدف ثالث وراء مكتريين بغير إذنهما ضمن الثلث وقيل بقسط وزنه من أوزانهم واختير (وكذا) يضمن وإن تلفت بسبب آخر (قوله فيهما) أي قوله فوق العادة قيد في المسألتين اهـ مغني (قوله دق) أفرد الفعل لأن العطف السابق بأو اهـ سيد عمر أي وثنى ضمير وهما أشد إلخ نظرا إلى أن أو للتنويع عبارة الرشيدي عبارة التحفة دق وهما أشد ضررا وكأنه أشار إلى تقييد الضمان بقيدين الأول وقوع الدق بالفعل كما أشار إليه تبعا للجلال المحلي بقوله دق الذي هو بصيغة الماضي وصفا للحداد والقصار والثاني كون الحداد والقصار أشد ضررا مما استؤجر له اهـ قول المتن (ضمن العين) أي ضمان المغصوب اهـ ع ش (قوله أي دخلت في ضمانه) هو صريح في ضمان اليد اهـ سم عبارة ع ش أي ولو تلفت بغير الاستعمال الذي دفعها لأجله

5.       العزيز شرح الوجيز المعروف بشرح الكبير الجزء السادس ص: 153
قال الغزالى ولو استأجر دابة ليحملها عشرة آصع فزاد صاعا صار عاصيا ضامنا ولو سلم إلى المكري وقال إنه عشرة وهو أحد عشر وكذب فتلفت الدابة بالحمل فتجب عليه الضمان وفي قدره قولان أحدهما النصف كما إذا جرح نفسه جرحات وجرحه غيره جراحة فمات والثاني أنه يجب جزء من أحد عشر جزءا من الضمان لأنالجراحات لا تنضبط بخلاف الحمل وهذا الخلاف جار في الجلاد إذا زاد واحدا على المائة أنه يضمن النصف أو بحسابه

6.       إعانة الطالبين ج: 1ص: 104-105
(قاعدة مهمة) وهي أن ما أصله الطهارة وغلب على الظن تنجسه لغلبة النجاسة في مثله فيه قولان معروفان بقولي الأصل والظاهر أو الغالب أرجحهما أنه طاهر عملا بالأصل المتيقن لأنه أضبط من الغالب المختلف بالأحوال والأزمان وذلك كثياب خمار وحائض وصبيان وأواني متدينين بالنجاسة وورق يغلب نثره على نجس ولعاب صبي وجوخ اشتهر عمله بشحم الخنزير وجبن شامي اشتهر عمله بإنفحة الخنزير وقد جاءه e جبنة من عندهم فأكل منها ولم يسأل عن ذلك ذكره شيخنا في شرح المنهاج إهـ

7.       البجيرمي على الخطيب ج: 4 ص: 194
وهي لغة أخذ المال خفية وشرعا أخذه خفية ظلما من حرز مثله (قوله ظلما) اى من حيث ذاته فلا يريد انه لو اخذ مال نفسه من المستأجر أو المرتهن بلا قطع لأن الظلم لا من حيث ذات المال والمراد بقوله ظلما أي في نفس الأمر وخرج ما إذا سرق ماله بظن أنه مال غيره كما يأتي وعبارة م ر قوله ظلما خرج به سرقه قال الغير بظنه مال نفسه لا يقال يدخل فيه أخذ مال نفسه من المستأجر والمرتهن فإنه ظلما ولا قطع به لأنانقول إن هذا ليس ظلما من حيث ذاته بل من حيث حق الغير

b.      Transaksi yang terjadi dalam kasus ini adalah penggabungan akad ijaroh 'ain dan ju'alah, sehingga hukum tuntutan oleh pelanggan di tafsil sebagai berikut:
·      Tuntutan yang berupa permohonan untuk perbaikan spedo agar terpenuhi sesuai kapasitasnya maka hukumnya boleh
·      Kalau tuntutan berup[a matreal itu juga boleh, namun hanya sebatas mengurangi biaya beban / abonemen yang tidak bisa dipenuhi oleh PLN.
Referensi:
1.      I'anatut Tholibin Juz 3 hal. 123
2.      Al 'aziz syarhul Wajiz Juz 6 hal. 142
3.      Asnal Matholib Juz 2 hal. 443
1.       إعانة الطالبين الجزء الثالث ص: 123
(فرع) لو وجد المحمول على الدابة مثلا ناقصا نقصا يؤثر وقد كاله المؤجر حط قسطه من الأجرة إن كانت الإجارة في الذمة وإلا لم يحط شيء من الأجرة (قوله فرع) الأولى فرعان (قوله لو وجد الخ) يعني لو وجد المستأجر ما حمله على دابة المؤجر من نحو البر أو الشعير ناقصا عما شرطه عليه كأن شرط عليه في عقد الإجارة حمل عشرة آصع مثلا فما حمل إلا تسعة فإن كان الذي كاله ناقصا عما ذكر هو المؤجر وكانت الإجارة ذمية حط قسط من الأجرة قدر النقص وهو عشرها في الصورة المذكورة لأنه لم يف بالمشروط وإن كان الذي كاله ناقصا هو المستأجر نفسه وأعطاه للمؤجر ليحمله أو كانت الإجارة عينية بأن كان استأجر دابته ليحمل عليها عشرة آصع فما حمل عليها إلا تسعة لم يحط شيء من الأجرة لأنه هو الذي رضي على نفسه بالنقص وكان قادرا على الاستيفاء ومحله في الإجارة العينية ما إذا علم المستأجر بالنقص أما إذا لم يعلم به بأن أذن للمؤجر في الكيل فكان ناقصا عن المشروط فإنه يحط أيضا من أجرته بقدر النقص وهذا كله مصرح به الروض وشرحه وعبارته: (فرع) وإن كان المحمول على الدابة ناقصا عن المشروط نقصا يؤثر بأن كان فوق ما يقع به التفاوت بين الكيلين أو الوزنين وقد كاله المؤجر حط قسطه من الأجرة إن كانت الإجارة في الذمة لأنه لم يف بالمشروط أولا كذلك بل كانت إجارة عين لكن لم يعلم المستأجر النقص فإن علمه لم يحط شيء من الأجرة لأن التمكين من الاستيفاء قد حصل وذلك كاف في تقرير الأجرة فهو كما لو كال المستأجر بنفسه ونقص أما النقص الذي لا يؤثر فلا عبرة به اهـ

2.       العزيز شرح الوجيز المعروف بشرح الكبير الجزء السادس ص: 142
قال الرافعي إذا اكترى دابة بعينها فتلفت انفسخ العقد وإن وجد بها عيبا فله الخيار كما لو وجد المبيع معيبا والعيب بأن تتعثر في المشي أو لا تبصر بالليل أو يكون بها عرج تتخلف بها عن القافلة ومجرد خشونة المشي ليس بعيب وإن كنت الإجارة في الذمة وسلم دابة فتلفت لم ينفسخ العقد وإن وجد بها عيبا لم يكن له الخيار في فسخ العقد ولكن على المكري الإبدال كما لو وجد المسلم فيه عيبا واعلم أ الدية المسلمة عن الإجارة في الذمة ومإن لم ينفسخ العقد بتلفها فإنه يثبت المكتري فيها حق واختصاص حتى يجوز له إجارتها لو أراد المكري إبدالها فهل له ذلك دون رضا المكتري فيه وجهان: أحدهما لا لما فيها من حق المكتري والثانى عن الشيخ أبى محمد أنه يفرق بين أنه يعتمد بلفظ الدابة بأن يقول آجرتك دابة من صفاتها كذا وكذا فلا يجوز إبدالها بالذى تسلمها أو لا يعتمد بأن يقول ألزمت إركابك على دابة صفتها كذا وكذا فيجوز الإبدال واختار في الوسيط هذا الوجه الثانى لكن الأصح عند المعظم الأول

3.       أسنى المطالب الجزء الثانى ص: 443
(فصل الجعالة جائزة) من الجانبين (قبل تمام العمل) لأنها تعليق استحقاق بشرط كالوصية ولأن العمل فيها مجهول كالقراض فلكل منهما فسخها (لازمة بعده) للزوم الجعل فلا انفساخ ولا فسخ (فلو فسخها المالك في أثناء العمل لزمه أجرة المثل) للعامل (فيما عمل) لئلا يحبط سعيه بفسخ غيره وربما عبر معظم الأصحاب عن ذلك بأنه ليس له الفسخ حتى يضمن أي يلتزم للعامل أجرة مثل ما عمل وإنما لم يجب قسط ما عمل من المسمى لارتفاع العقد بالفسخ لأنه إنما يستحق المسمى بالفراغ من العمل فكذا بعضه وإنما استحق أجرة المثل لما قلنا واستشكل لزوم أجرة المثل بما لو مات المالك في أثناء المدة حيث تنفسخ ويجب القسط من المسمى وأي فرق بين الفسخ والانفساخ ويجاب بأن الملتزم ثم لم يتسبب في إسقاط المسمى والعامل ثم تمم العمل بعد الانفساخ ولم يمنعه المالك منه بخلافه هنا-إلى أن قال-(أو) فسخها (العامل فلا) شيء له لأنه امتنع باختياره ولم يحصل غرض المالك سواء أوقع ما عمله مسلما أم لا نعم لو زاد المالك في العمل ولم يرض العامل بالزيادة ففسخ لذلك فله أجرة المثل كما ذكره الأصل في آخر المسابقة لأن المالك هو الذي ألجأه لذلك قال الإسنوي وقياسه كذلك إذا نقص من الجعل اهـ وفيه نظر وإن كان الحكم صحيحا لأن النقص فسخ كما سيأتي وهو فسخ من المالك لا من العامل (وإن عمل) العامل شيئا (بعد الفسخ ولو جاهلا) به (فلا شيء له) لكن صرح الماوردي والروياني بأن له المسمى إذا كان جاهلا وهو معين أو لم يعلن المالك بالفسخ واستحسنه البلقيني والتصريح بحكم الجاهل من زيادة المصنف
(قوله فلو فسخها المالك في أثناء العمل لزمه أجرة المثل) لا فرق بين أن يكون ما صدر من العامل لا يحصل به مقصود أصلا كرد الآبق إلى بعض الطريق أو يحصل به بعضه كما لو قال إن علمت ابني القرآن فلك كذا ثم مات الصبي في أثناء التعليم أو منعه من تعليمه فس (قوله أو فسخها العامل) ولو صبيا أو مجنونا أو محجورا عليه بسفه (قوله سواء أوقع ما عمله مسلما) أي وظهر أثره على المحل ومثله ما لو امتنع من إتمام تعليم الصبي أو من إتمام بناء الحائط قال شيخنا لأن الجعل مستحق بتمام العمل وهو فوت العمل باختياره ولم يحصل غرض المالك وقد اتسع في عقد الجعالة وكما اعتبر عمله في استحقاقه الجعل اعتبر فسخه وترك العمل في إسقاطه وقد علم من ذلك أنه لا تخالف بين هذا وبين ما حرره الشارح في شرح البهجة من أنه يشترط في كل من الإجارة والجعالة لاستحقاقه قسط الجعل وقوع العمل مسلما وظهور أثره على المحل إذ حاصل ذلك ثلاث مسائل الأولى فسخ العامل في الأثناء وهو محبط لحقه مطلقا كما قررناه فلا يستحق شيئا الثانية وهو ما لو احترق الثوب أو نحوه بعد الشروع الثالثة ترك العامل العمل بنفسه من غير فسخ فإن وقع العمل في هاتين المسألتين مسلما وظهر أثره على المحل استحق القسط وإلا فلا ووجهه في الأخيرة أن تركه لا يسمى فسخا وكلام شرح البهجة في المسألتين الأخيرتين

c.      Boleh jika ada unsur maslahah 'amah.
Refrerensia
1.      Qowaidul Ahkam fi Masholihil Anam Juz 2 hal. 75
2.      Al Asybah Wannadloir hal. 83
3.      Mawahibus Saniyah hal. 185
4.      Al Fiqhul Islami Juz 5 hal. 518 - 519
5.      Qowaidul Ahkam fi Masholihil Anam Juz 2 hal. 330 - 331

1.       قواعد الاحكام فى مصالح الانام ج: 2 ص: 75
(فصل في تصرف الولاة ونوابهم) يتصرف الولاة ونوابهم بما ذكرنا من التصرفات بما هو الاصح للمولى عليه للضرر والفساد للنفع والرشاد ولا يقتصر احدهم على الصلاح مع القدرة على الاصلح إلا أن يؤدي إلى مشقة شديدة ولا يتخيرون في التصرف حسب تخيرهم في حقوق انفسهم مثل أن يبيعوا درهماً بدرهم زبيب بمثلها لقول الله تعالى ولا تقربوا مال اليتيم إلا بالتي هي أحسن وان كان هذا في حقوق اليتامى فأولى أن يثبت في حقوق عامة المسلمين فيما يتصرف فيه الأئمة من الأموال العامة لأن اعتناء الشرع بالمصالح العامة أو أوفر واكثر من اعتنائه بالمصالح الخاصة وكل تصرف أو دفع صلاحا فهو منهى عنه كاضاعة المال بغير فائدة واضرار الامزجة لغير عائدة والأكل على الشبع منهى عنه لما فيه من إتلاف الأموال وإفساد الأمزجة وقد يؤدي إلى تفويت الارواح ولو وقع مثل قصة الخضر u في بكذا هذا لجاز تعييب المال حفظاً لأصله الولاية ذلك في حق المولى عليه حفظاً للأكثر بتفويت الاقل فان الشرع يحصل الاصلح بتفويت المصالح كما يدرأ بارتكاب المفاسد وما لا فساد فيه ولا صلاح فلا يتصرف فيه الولاة على المولى عليه إذا أمكن الأنفكاك عنه

2.       الأشباه والنظائر ج: 1 ص: 121
القاعدة الخامسة تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة هذه القاعدة نص عليها الشافعي وقال منزلة الإمام من الرعية منزلة الولي من اليتيم

3.       المواهب السنية ص: 185
فيلزم الامام ونحوه فى التصرف على الانام منهج اى طريق الشرع الوافى فما حلله فعله وما حرمه تركه فيحفظ اموال الغائبين ويفعل فيها ما فيه المصلحة

4.       الفقه الإسلامي الجزء الخامس: 518-519 دار الفكر
وكذالك يحق للدولة التداخل في الملكيات الخاصة المشروعة لتحقيق العدل والمصلحة العامة سواء في أصل حق الملكية أو في منع المباح وتملك المباحات قبل الإسلام وبعده إذا أدى استعماله إلى ضرر عام كما يتضح من مساوئ الملكية الإقطاعية ومن هنا يحق لولي الأمر العادل أن يفرض قيود الملكية في بداية إنشائها في حال إحياء الموات فيحددها بمقدار معين أو ينتزعها من أصحابها مع الدفع تعويض عادل عنها إذا كان ذالك في سبيل المصلحة العامة للمسلمين ومن المقرر عند الفقهاء أن لولي الأمر أن ينهى إباحة الملكية بحظر يصدر منه لمصلحة تقتضيه فيصبح ما تجاوزه أمر محظورا فإن طاعة ولي الأمر واجبة لقوله تعالى: "يأيها اللذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم" وأولي الأمر الأمراء والولاة كما روى إبن عباس وأبو هريرة وقال الطبري أنه أولي الأقوال بالصواب إهـ

5.       قواعد الأحكام في مصالح الأنام الجزء الثانى ص: 330 331 مؤسسة الريان
المثال السابع والعشرون من أتلف شيئاً عمداً بغير حق لزمه الضمان جبراً لما فات من الحق ويستثنى من ذلك صور -إلى ان قال- الصورة الخامسة أن الإمام والحاكم إذا أتلفا شيئاً من النفوس أو الأموال في تصرفهما للمصالح فانه يجب على بيت المال دون الحاكم والامام ودون عواقلهما على قول الشافعي لأنهما لما تصرفا للمسلمين صار كأن المسلمين هم المتلفون ولأن ذلك يكثر في حقهما فيتضرران به ويتضرر عواقلهما إهـ




والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template