Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Desember 2013

134. Siapa Yang Wajib Membayar Kafarat, Suami Ataukah Istri?

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته



Oleh:
Achmad Al-fandaniy

Assalamualaikum

Pertanyaan:
yang dikenakan sanksi kafaroh suami-istri bersenggama dibulan puasa romadlon istri atau suami atau keduanya?

Jawaban:
Ada Ikhtilaf:
Imam Syafi’I dan Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa yang harus membayar kafarot adalah suaminya, istrinya tidak. (karena suaminya lah yang bertanggung jawab atas inisiatif awal dan kelanjutan hubungan intim itu.).
Namun menurut Abu Hanifah dan Malik, istrinya juga kena sanksi harus bayar KAFAROT.


Refrensi:
Miizaanul Kubro halaman 118.
﴿ﻔﺼﻞ﴾ﻭﺃﺠﻤﻌﻮﺍﻋﻟﻰﺃﻦﻤﻦﻭﻄﺊﻭﻫﻭﺼﺎﺋﻡﻔﻲﺮﻤﺿﺎﻦﻋﺎﻤﺪﺍﻤﻦﻏﻴﺮﻋﺬﺮﻜﺎﻦﻋﺎﺻﻴﺎﻭﺑﻂﻞ
ﺻﻮﻤﻪ…..ﺇﻠﻰﺃﻦﻗﺎﻝ : ﻮﻫﻲﻋﻟﻰﺍﻠﺰﻮﺝﻋﻟﻰﺍﻷﺼﺢﻤﻦﻤﺬﻬﺐﺍﻟﺸﺎﻔﻌﻲﻭﺃﺤﻤﺪﻭﻗﺎﻝﺍﺑﻭﺤﻨﻴﻔﺔﻭﻤﺎﻚ
ﻋﻟﻰﻛﻞﻭﺍﺤﺪﻜﻔﺎﺮﺓ






والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Sabtu, 14 Desember 2013

130. Bulan Sya'ban

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته



Oleh:
Albayan Lilmuslimin

Bulan Sya'ban

Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Islam .Dinamakan Sya’ban, karena orang-orang Arab pada bulan-bulan tersebut yatasya’abun/berpencar untuk mencari sumber mata air. Dikatakan juga karena mereka tasya’ub/berpisah-pisah di gua-gua. Dan dikatakan juga sebagai bulan Sya’ban karena bulan ini muncul/sya’aba di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan.

Sya'ban diambil kosa kata bahasa Arab yang berasal dari kata syi'ab yang artinya jalan di atas gunung. Islam kemudian memanfaatkan bulan Sya’ban sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan, demi mencapai kebaikan.

Karena bulan Sya’ban terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan,
karena diapit oleh dua bulan mulia ini, maka Sya’ban seringkali dilupakan. Padahal semestinya tidaklah demikian. Dalam bulan Sya’ban terdapat berbagai keutamaan yang menyangkut peningkatan kualitas kehidupan umat Islam, baik sebagai individu maupun dalam lingkup kemasyarakatan.

  • Nisfu Syaban 
Karena letaknya yang mendekati bulan Ramadhan, bulan Sya’ban memiliki berbagai hal yang dapat memperkuat keimanan. Umat Islam dapat mulai mempersiapkan diri menjemput datangnya bulan termulia dengan penuh suka cita dan pengharapan anugerah dari Allah SWT karena telah mulai merasakan suasana kemuliaan Ramadhan.
Hadits tentang keutamaan sya'ban

ذاكَ شهر تغفل الناس فِيه عنه ، بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وأحب أن
يرفع عملي وأنا صائم -- حديث صحيح رواه أبو داود النسائي

Terjemahan :
”Bulan Sya'ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan Nasa'i)

Dari sinilah diutamakan bulan sya'ban agar senantiasa kita memperbaiki amal ibadah dan lebih sungguh-sungguh lagi agar yang ternagkat adalah lebih banyak amal kebajikan .shodaqoh dan menjalin silaturrahim. Umat Islam di Nusantara biasanya menyambut keistimewaan bulan Sya’ban dengan mempererat silaturrahim melalui pengiriman oleh-oleh yang berupa makanan kepada para kerabat, sanak famili dan kolega kerja mereka. Sehingga terciptalah tradisi saling mengirim parcel di antara umat Islam.

Sebagian ulama, diantaranya Ibnul Mubarak telah merajihkan atau mengunggulkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah menyempurnakan puasa bulan Sya’ban akan tetapi beliau banyak berpuasa di dalamnya. Pendapat ini didukung oleh hadis yang diriwayatkan imam Muslim dari ‘Aisyah ra, katanya

, ‘ Saya tidak mengetahui beliau SAW puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan’.

  • Malam Nisfu Sya'ban
Nisfu artinya separuh jadi separuh bulan dalam bulan arab biasanya adalah tanggal 15 Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam ini, dua malaikat pencatat amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atid, menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT, dan pada malam itu pula buku catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru.

Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya'ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali,  pada malam ke-13 bulan Sya'ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban nanti, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.

Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya'ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh hamba Allah dipenjuru dunia .

Malam Nishfu Sya’ban dan seluruh bulan adalah saat yang utama dan penuh berkah, maka selayaknya seorang muslim memperbanyak aneka ragam amal kebaikan. Doa adalah pembuka kelapangan dan kunci keberhasilan, maka sungguh tepat bila malam itu umat Islam menyibukkan dirinya dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala terlebih-lebih bulan yang dibulan say'ban dan romadhon nanti , tapi jangan menunggu hari esok tapi laksanakanlah ibadah dengan khusu; dan banyak hari sebab besok belum tentu bisa ibadah

Wallohua'alam ,



 والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

129. Anggaran Dekorasi Menurut Pandangan Fiqh

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته


 
Latar belakang
Dalam setiap acara pengajian, bahtsul masa’il dan lain lain yang bernuansa agama, terdapat dekorasi yang memerlukan kerja extra dan dapat menelan biaya yang begitu besar.

Pertanyaan :
A.      Bagaimana pandangan Islam terhadap dekorasi ?
B.     Bolehkah mengalokasikan dana sumbangan untuk dekorasi ?
Pon. Pes. Assunniyah Kencong Jember



Jawaban : 
A.  Decorasi menurut islam diperbolehkan ( jawaz ) selama tidak berlebihan dan mengandung barang yang diharomkan.
Referensi:  

1.        شرح المسلم الجزء الرابع عشر ص: 87
وأما قوله صلى الله عليه وسلم حين جذب النمط وأزاله إن الله لم يأمرنا أن تسكوا الحجارة والطين ما استدلوا به على أن  يمنع من ستر الحيطان وتجيد البيوت بالثياب وهو منع كراهة تنزيه لا  تحريم هذا هو الصحيح.

2.        القليوبى الجزء الثالث ص: 297
(وقوله يحرم تصوير حيوان ) ولو على هيئة لا يعيش معها اما لما لا ناظر له كما مر أو من طين أو من حلاوة ويصح بيعها ولا يحرم التفرج عليها ولا استدامتها قاله شيخنا الرملى وخالفه شيخنا الزيادى فى الأخرين فحرمها ويستثنى لعب البنات لأن عائشة رضى الله عنها كانت تلعب بها عنده صلى الله عليه وسلم وحكمته تدبيرهن على أمر التربية وخرج بالحيوان نحو شجرة وقمر وشمس فلا يحرم فيها شيئ مما مر.

3.        الشرقاوى الجزء الثانى ص: 297
(من المنكر فراش حرير وصورة حيوان)منقوشة على سقف أو جدار أو وسادة منصوبة أو ستر معلق أو ثوب ملبوس ويجوز ما على الأرض وبساط يداس ومخدة يتكاء عليها ومقطوع الرأس وسؤر حيوان والفرق أن ما يوطأ ويطرح مهان مبتذل والمنصوب مرتفع يشبه الأصنام ويحرم تصوير حيوان على الحيطان والسقوف وكذا على الأرض وفى نسج الثياب على الصحيح.

4.   كتاب الفتاوى للإمام العز ابن عبد السلام عز الدين عز الدين عبد العزيز بن عبد السلام    السلمى الشافعى
ولا يسرف في عمارة المسجد وحصره وزينته الا ما يكون متـقصدا وسطا لائقا بمثله بحيث لا يعد إسرافا ولا تقصيرا اهـ,


B. Mengalokasikan dana untuk dekorasi (sebagaimana jawaban sub A) diperbolehkan asalkan dipandang sebagai sesuatu yang maslahah.

Referensi
1.        بغية المسترشدين ص : 174    دار الفكر
( مسألة ب ) وظيفة الولى فيما تولى فيه حفظه وتعهده والتصرف فيه بالغبطة والمصلحة وصرفه فى مصارفه هذا من حيث الإجمال وأما من حيث التفصيل فقد يختلف الحكم فى بعض فروع مسائل الأولياء. إهـ.

2.        بغية المسترشدين ص 65  دار الفكر
( مسئلة ب ) يجوز للمقيم شراء عبد للمسجد ينتفع به لنحو نزح إن تعينت المصلحة فى ذلك إذ المدار كله من سائر الأولياء عليها نهم لا نرى للقيم وجها فى تزويج العبد المذكور كولى اليتيم إلا أن يبعه بالمصلحة فيزوجه مشتريه ثم يرد للمسجد بنحو بيع مراعيا فى ذلك المصلحة ويجوز بل يندب للقيم أن يفعل ما يعتاد فى المسجد من قهوة ودخون ونحوهما مما يرغب نحو المصلين وإن لم يعتد قبل إذا زاد على عمارته.



Link Asal: Dari Sini



والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

127. Memasyarakatkan Syarat-Syarat Makmum Yang kurang Di Ketahui Masyarakat

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته


 Oleh Kang MuSlimin


Makmum ialah orang shalat yang niat berjamaah dengan imam. Makmum Muwafiq ialah orang yang niat shalat berjamaah sejak pertama sampai terahir mengikuti pekerjaan shalat yang dilakukan oleh imam. Makmum Masbuq ialah orang shalat niat berjamaah setelah imam selesai satu rekaat atau lebih, atau setelah selesai imam membaca fatihah. Adapun Makmum Mufaraqah ialah orang yang makmum di tengah shalat hendak memisahkan diri (munfarid) dari jamaah karena sesuatu hal dan kemudian menyelesaikan shalatnya secara pribadi tanpa menganut pada imam.

Syarat-syarat makmum hendaklah dimasyhurkan dan dimasyarakatkan kepada orang-orang yang belum faham. Diantara mereka banyak yang mengrjakan shalat berjamaah, tetapi hanya sekedar ikut-ikutan, dan tidak mau belajar tata caranya yang diatur dalam kitab-kitab fiqih.

Istilah fiqih, apabila disebut sebagai ilmu ialah :
“Suatu bidang ilmu yang menerangkan hukum-hukum syar’iyah berbentuk amaliyah lahiriyah yang digali dari dalil-dalil syar’iyah (al-Qur’an dan al-Hadis secara terperinci)”. (Fath al-Qarib pada Hamisy al-Bajuri: I/18-19).

Maka patutlah bagi ulama mengamalkan ilmunya, menyebarkan dan mengajarkan ilmu tentang syarat-ayarat makmum kepada orang-orang awam yang belum mafhum. Akan tetapi masih pula didapati pada shalat jamaah orang-orang yang tak mau belajar kaifiyatnya. Akibatnya shalat jamaah mereka tidak sah dan mendapat dosa.

Dengan kenyataan seperti itu, maka syarat-syarat makmum wajib dijelaskan jumlah dan perinciaannya. Dari 12 macam syarat-syarat sah makmum, dibagi menjadi dua bagian. Pertama, syarat-syarat mathlub makmum, dan Kedua, syarat-syarat mathlub imam.

Mathlub makmum ialah syarat-syarat sah yang dituntut untuk dipenuhi oleh si makmum sendiri. Sedang mathlub imam ialah, syarat-syarat sah yang dituntut dan dmiliki bagi imam. Atau makmum harus mengetahui bahwa syarat lima itu harus ada pada imam. Kalau kurang dari lima syarat tadi, makmum tidak sah berjamaah dengannya. Dengan demikian 12 syarat makmum tersebut harus dipegang semuanya oleh makmum (Abyanal Hawaij: II/322).

Kedua mathlub tersebut harus diketahui oleh si makmum yang bersangkutan, karena juga sebagai syarat sah yang dilakukan si makmum.


  • Syarat Mathlub Makmum
Bahwa syarat-syarat sah yang diperintahkan untuk dipenuhi oleh makmum, atau mathlub makmum ialah sebanyak tujuh perkara:

  1. Jangan sampai tumit makmum mendahului dari tempat berdirinya imam. Tidak mengapa kalau yang mendahului hanya jari-jari kaki saj atau sepadan tumitnya dengan tumit imam. Tetapi kedua hal tersebut adalah makruh. (Fathul Mu’in: 36) 
  2. Mengetahui pada peralihan imam dalam gerakan rku’, sujud dan lainnya. Cara mengetahui boleh dengan barisan (shaf) atau dengan suara orang yang menyampaikan (mubaligh) atau dengan cara lain (Fathul Mu’in: 37)
  3. Berkumpul imam dan makmum dalam satu tempat. Jangan lebih dari tigaratus zira’ (+ 150 meter) jarak antara imam dan makmum. Hal ini apabila shalat si imam di dalam masjid, sedang makmum berada di luar masjid. Akan tetapi kalau imam dan makmum dalam satu masjid, aturan tersebut tidak berlaku. Bahkan andaikata antara imam dan makmum berjarak lebih jauh dari ketentuan itupun tidak mengapa (Fathul Mu’in: 37)
  4. Berniyat menganut kepada imam dan makmum.
  5. Muwafakati makmum terhadap shalatnya imam. Tidak sah shalat dhuhur menganut pada imam yang menshalaatkan mayat. Karena jelas berbeda praktek shalat anatara imam dan makmum. 
  6. Muwafakati pada pengamalan sunnah yang dikerjakan oleh imam. Janganlah terlalu berbeda dari sunnah yang dikerjakan oleh imam.  Seperti imam melakukan sujud shawi (sujud karena lupa), sedangkan makmum tidak melakukannya, dan demikian pula sebaliknya. Atau imam meninggalkan tahiyyat awal, sedang makmum melakukannya, dan demikian pula sebaliknya. Apabila terjadi pelanggaran “perbedaan jauh” dengan sengaja dan ia mengetahuinya, maka shalat si makmum menjadi batal. Lain masalah kalau sunnah yang dikerjakan itu tidak terlalu jauh berbeda dengan imam, maka shalatnya tidak batal. Seperti imam membaca qunut, sedang si makmum tidak membacanya, atau sebaliknya (Fathul Mu’in: 37).
  7. Takbiratl Ihram si makmum setelah selesai takbiratul ihramnya imam.

  • Syarat-syarat Mathlub Imam 
Bahwa syarat-syarat yang harus terpenuhi (mathlub) oleh imam ialah sebanyak lima perkara. Akan tetapi syarat lima perkara itu merupakan tuntutan untuk diketahui oleh makmum, ialah:

  1. Keyakinan atau kemantapan hati si makmum terhadap shalatnya imam tidak salah. Artinya makmum sudah tidak ragu-ragu lagi atas kebenaran shalatnya imam. Salah satu contoh imam yang sudah dikenal benar bacaannya, benar praktek shalatnya. Contoh lain orang Ahlussunnah makmum kepada Ahlussunnah. Tidak sah makmum kepada imam beda firqoh /aliran Murji’ah, Kharajiya, Qadariyah, Jabariyah. syi'ah Bermazhab Syafi’i bermakmum kepada imam bermazhab Syafi’i.
  2. Seorang imam itu bukan orang yang sedang makmum, baik ketika sendirian shalatnya (munfarid) ataupun niat menjadi imam shalat. Artinya makmum tidak menemukan sesuatu sebab imam akan mengulang kembali shalatnya nanti (mu’adah), misalnya hadtsnya imam, kufurnya imam dan lain-lain. Seperti dalam Hamisy Busyral Karim disebutkan:
ولوصلّى خلفة ثمّ تبيّن كفره او جنوبه اوكونه امرأة او مأموما اوامّيّاااعادها لاان بان محدثا او جنبااوعليه نجاسة خفيّة او ظاهرة. هامش يشرى الكريم الجزءالاول:123)

“Jika seorang shalat di belakang imam, kemudian ternyata kufurnya, atau gilanya si imam, atau adanya imam perempuan, atau sedang makmum, atau ummy, maka mengulanglah makmum akan shalatnya.”

Al-Muqaddimatul Hadlramiyah Ahmad Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

ومحلّ هذاوماقبله في غير الدمعة وفيها ان زدالاماعلى الاربعين والاّ بطلت لبتلان صلاة الامام فلم يتمّ العدد , مختصر بفضال هامش الحوشي المدانية جزئ:2 صحفه: 11.

“Dan tempatnya ini dan yang sebelumnya itu pada selain shalat Jum’at, dan pada Jum’at jika lebih imam itu dari 40 orang. Dan jika tidak lebih dari 40 orang batallah Jum’at, karena batalnya shalat imam, maka tidak sempurnalah bilangan 40 orang”. (Mukhtashar: II/11)
      
       3.  Shalatnya iamam tidak akan wajib mengulang.
     4.  Bacaan imam jangan ummy (rusak), baik karena malas belajar atau terdapat padanya uzur, kalau ternyata si makmum itu qari’ (benar bacaan) di dalam Fatihah atau ayat al-Qur’an. Tidak sah pula ummy makmum dengan imam ummy yang berbeda umminya dari bacaan huruf. 
       5. Imam itu harus benar-benar orang lelaki, kalau makmum itu juga lelaki, atau khuntsa
 
Gambaran makmum sembilan orang itu sah dalam lima perkara:
(1) makmum lelaki dengan lelaki,
(2) wanita dengan lelaki,
(3) khuntsa dengan lelaki,
(4) wanita dengan khuntsa, dan
(5) wanita dengan wanita.

Dan batal dalam empat perkara:
(1) makmum lelaki dengan wanita,
(2) lelaki dengan khuntsa,
(3) khuntsa dengan wanita,
(4) khuntsa dengan khuntsa

(Syarh Kasyifat al-Syaja’ ala Safinat al-Naja: 89)

lalu bagaimana bila imam tersebut belum baligh, tapi dia laki laki...

jawabnya : SAAAAAAAAAH....

Kalangan Syafi’iyyah mengabshah kan dan membolehka nnya namun dalam kondisi normal hendaknya tidak menjadikan  imam shalat kecuali yang telah dewasa yang tahu tentang shalat agar dapat mengatasi hal-hal yang tiba-tiba terjadi dalam shalat.

(فرع) في مذاهب العلماء في صحة امامة الصبى للبالغين: قد ذكرنا ان مذهبنا صحتها وحكاه ابن المنذر عن الحسن البصري واسحق ابن راهويه وابي ثور قال وكرهها عطاء والشعبى ومجاهد ومالك والثوري واصحاب الرأى وهو مروى عن ابن عباس وقال الاوزاعي لا يؤم في مكتوبة الا ان لا يكون فيهم من يحفظ شيئا من القرآن غيره فيؤمهم المراهق وقال الزهري ان اضطروا إليه أمهم قال ابن المنذر وبالجواز اقول وقال العبدرى قال مالك وأبو حنيفة تصح امامة الصبى في النفل دون الفرض وقال داود لا تصح في فرض ولا نفل وقال احمد لا تصح في الفرض وفى والنفل روايتان وقال القاضى أبو الطيب قال أبو حنيفة ومالك والثوري والاوزاعي واحمد واسحق لا يجوز ان يكون اماما في مكتوبة ويجوز في النفل قال وربما قال بعض الحنفية لا تنعقد صلاته

SUB BAHASAN  
MENERANGKAN TENTANG PENDAPAT MADZHAB ULAMA DALAM KEABSAHAN MENJADI IMAM SHALATNYA BOCAH ATAS ORANG-ORAN G DEWASA  

Telah kami sebutkan bahwa dikalangan  kami ((Syafi’iyyah) mengabshah kan keimaman bocah atas orang dewasa pendapat demikian dihkayahka n oleh Ibn Mundzir dari Hasan al-Bashri,  Ishaq, Ibn Rahaawih dan Abu Tsaur, sedang Imam ‘Atha’, as-Syi’bi,  Mujahid, Malik dan ats-Tsaury  serta para Ashab ar-Ra’yi dengan meriwayatk an dari Ibn Abbas memakruhka nnya.

al-Auzaa’i  berkata “Jangan dijadikan imam shalat lima waktu kecuali bila disana tidak terdapati seorangpun  yang hafal sedikitpun  dari ayat-ayat al-Quran”.  
az-Zuhry berkata “Bila dibutuhkan  (terpaksa)  jadikan ia imam”.

Sedang dalam kebolehan menjadi imamnya seorang bocah atas orang dewasa dalam shalat diatas Ibn Mundzir menyatakan  beberapa pendapat :  

al-‘Abdari  berkata “Imam Malik dan Abu Hanifah sah dalam shalat sunat bukan shalat wajib”.

Daud berkata “Tidak sah dalam shalat wajib ataupun shalat sunat”.

Imam Ahmad berkata “Sah dalam shalat wajib sedang dalam shalat sunat terdapat dua riwayat”.  

al-Qadhi Abu Thayyib, Abu Hanifah, Malik, ats-Tsauri , al-Auzaa’i , Ahmad dan Ishaq berkata “Tidak boleh dalam shalat wajib dan boleh dalam shalat sunat

dan sebagian kalangan Hanafiyyah  menyatakan  tidak sah shalatnya” Al-Majmuu ala Syarh al-Muhadzd zab IV/249

إمَامَةُ الصَّبِيِّ  لم يَبْلُغْ * + ( قال الشَّافِعِ يُّ ) رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى إذَا أَمَّ الْغُلَامُ  الذي لم يَبْلُغْ الذي يَعْقِلُ الصَّلَاةَ  وَيَقْرَأُ  الرِّجَالَ  الْبَالِغِ ينَ فإذا أَقَامَ الصَّلَاةَ  أَجْزَأَتْ هُمْ إمَامَتُهُ  وَالِاخْتِ يَارُ أَنْ لَا يَؤُمَّ إلَّا بَالِغٌ وَأَنْ يَكُونَ الْإِمَامُ  الْبَالِغُ  عَالِمًا بِمَا لَعَلَّهُ يَعْرِضُ له في الصَّلَاةِ

Menjadi imamnya bocah yang belum baligh Imam Syafi’i berkata “Bila bocah yang belum baligh namun ia telah mengerti tentang shalat dan tahu bacaan-bac annya mengimami orang-oran g yang telah dewasa maka boleh keimamanny a namun dalam kondisi normal hendaknya tidak menjadikan  imam shalat kecuali yang telah dewasa yang tahu tentang shalat agar dapat mengatasi hal-hal yang tiba-tiba terjadi dalam shalat. Al-Umm I/166



Link Asal: Dari Sini





 والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

126. Batasan Umur Dalam Hal Membatalkan Wudhu

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته




Latar belakang mas’alah
Salah satu perkara yang membatalkan wudlu’ adalah bertemunya kulit antara pria dan perempuan yang sudah besar dan keduanya tidak ada hubungan mahrom. Ukuran sudah besar dikembalikan pada pengadatan ( عرف ) ?

Pertanyaan :
  1. Umur berapakah pria dan perempuan yang bisa membatalkan wudlu pada waktu sekarang ?
Pon. Pes. Raudloatuth Thalibin
Po. Box. 01 Tanggir Singgahan Tuban 62361 Telp. (0356) 551646 – 551647

Jawaban :
  1.  Penentuan batas membatalkannya wudlu’ sebab bersentuhan kulit antara laki laki dan wanita terjadi khilaf.
  • Menurut qoul shohih / mu’tamad wanita atau pria yang disentuhnya tidak ditentukan dengan usia, akan tetapi oleh urf.
  • Sedangkan menurut muqobilus shohih / mu’tamad hal tersebut bisa ditentukan dengan usia. Sebagaian Ulama’ada yang berpendapat usia 7 tahun. Dan ada juga yang berpendapat usia 6 tahun.



Referensi :
1.        Syarah Sullam Taufiq hal. 21 ( Syirkah Al Mu’awanah Bandung Indonesia )
2.        Hamisy I’anatuth Tholibin juz 1 hal. 64 ( Darul Fikr )
3.        Kasyifatus Saja hal. 26 – 27 ( Maktabah Al ‘Idrus )
4.        At Turmusi juz 1 hal. 309 - 310 ( Mathba’ah Al ‘Amiroh Asy Syarofiyah )

1.        مرقاة صعود التصديق بشرح سلم التوفيق ص: 21   شركة المعاونة بندوع إندونيسيا
( و ) ثالثها ( لمس بشرة الأجنبية ) يقينا وهى كل امرأة حل نكاحها والمراد بالبشرة ظاهر الجلد وفى حكمها اللسان واللثة ( مع كبر ) يقينا فلا تنقض صغيرة لا تشتهى لأنها ليست فى مظنة الشهوة والمرجع فى المشتهات إلى العرف على الصحيح قال الشيخ أبو حامد التى لا تشتهى من لها أربع سنين فما دونها أفاد ذلك الدميرى وقال شيخنا يوسف السنبلاوينى فإذا بلغ الولد سبع سنين فإنه ينقض باتفاق ذكرا كان أو انثى وإذا بلغ خمس سنين فلا ينقض باتفاق وأما إذا بلغ ست سنين ففيه خلاف فقيل ينقض وقيل لا وهذا يرجع إلى طباع الناس حتى الولد الذى بلغ خمس سنين فقط ينقض لمن يشتهيه ولا ينقض لغيره اهـ

2.        هامش إعانة الطالبين الجزء الأول ص: 64   دار الفكر
( و ) رابعها ( تلاقى بشرتى ذكر وأنثى ) ولو بلا شهوة وإن كان أحدهما مكرها أو ميتا لكن لا ينقض وضوء الميت والمراد بالبشرة هنا غير الشعر والسن والظفر قاله شيخنا وغير باطن العين وذلك لقوله تعالى أو لامستم النساء أى لمستم ولو شك هل ما لمسه شعرا أو بشرا لم ينتقض كما لو وقعت يده على بشرة لا يعلم أهى بشرة رجل أو امرأة أو شك هل لمس محرما أو أجنبية وقال شيخنا فى شرح العباب ولو أخبره عدل بلمسها له أو بنحو خروج ريح منه حال نومه ممكنا وجب عليه الأخذ بقوله ( بكير ) فيهما فلا نقض بتلاقيهما مع صغر فيهما أو فى أحدهما لانتفاء مظنة الشهوة والمراد بذى الصغر من لا يشتهى عرفا غالبا. ( قوله والمراد بذى الصغر إلخ ) يعلم منه بيان ذى الكبر وقد عرفته وقوله من لا يشتهى عرفا أى عند أرباب الطباع السليمة ولا يتقيد بسبع سنين لاختلاف ذلك باختلاف الصغار وقوله غالبا أى من لا يشتهى فى الغالب عند ذوى الطباع السليمة.

3.        كاشفة السجا ص : 26 - 27   مكتبة العيدروس
وحاصله أن اللمس ناقض بشروط خمسة أحدها أن يكون بين مختلفى ذكورة وأنوثة ثانيها أن يكون بالبشرة دون الشعر والسن والظفر فلا نقض بشىء منها بخلاف العظم إذا كشط فإنه ينقض ولو اتخذت المرأة أو الرجل أصبعا من ذهب أو فضة لم ينقض لمسها ولو سلخ جلد الرجل أو المرأة وحشى لم ينقض لمسه لأنه لا يسمى آدميا وكذا لو سلخ ذكر الرجل وحشى إذ لا يسمى ذكرا ثالثها أن يكون بدون حائل فلو كان بحائل ولو رقيقا فلا نقض ومن الحائل ما لو كثر الوسخ المتجمد على البشرة من غبار بخلاف ما لو كان من العرق فإن لمسه ينقض لأنه صار كالجزء من البدن رابعها أن يبلغ كل منهما حد الكبر يقينا وهو فى حق الرجل من بلغ حدا تشتهيه فيه عرفا ذوات الطباع السليمة من النساء كالسيدة بفيسة بنت الحسن بن زيد ابن سيدنا الحسن سبط رسول الله صلى الله عليه وسلم ابن سيدنا على كرم الله وجهه رضى الله عنه وذلك بأن يميل قلب تلك النساء إليه. وفى المرأة من بلغت حدا يشتهيها فيه عرفا ذوو الطباع السليمة من الرجال كالإمام الشافعى رضى الله عنه وذلك بأن ينتشر منهم الذكر. فلو بلغ أحدهما حدا يشتهى ولم يبلغه الآخر فلا نقض

4.        الترمسى الجزء الأول ص : 309 - 310         مطبعة العامرة الشرفية
( ولا ينقض صغير أو صغيرة ) إن كان كل منهما بحيث ( لا يشتهى ) عرفا غالبا لذوى الطباع السليمة فلا يتقيد بابن سبع سنين او اكثر لاختلافه باختلاف الصغار والصغيرات وذلك لانتفاع مظنة الشهوة حينئذ ( قوله بحيث لا يشتهى ) يعنى لم يبلغ كل منهما حدا يشتهى يقينا فلو شك فلا نقض وضابط الشهوة انتشار الذكر فى الرجل وميل القلب فى المرأة قاله الباجورى فليتأمل يقينا ( قوله عرفا غالبا ) كذا جمعهما فى فتح الجواد ولم أره فى كلام غيره بل بعضهم اقتصر على غالبا وأكثرهم اقتصر على عرفا وحينئذ فالظاهر أن الشارح رحمه الله أراد بذلك التأكيد كقولهم العادة الغالبة ويحتمل الجمع بين العبارتين قال فى التعريفات العرف ما استقرت عليه النفوس بشهادة العقول وتلقته الطبائع بالقبول وهو حجة أيضا لكنه أسرع إلى الفهم وكذا العادة وهى ما استمر الناس عليه على حكم العقول وعادوا إليه مرة بعد أخرى إهـ بالحرف فليتأمل. – إلى أن قال – ( قوله فلا يتقيد ) أى كل من الصغير والصغيرة ( قوله بابن سبع سنين أو أكثر ) لعل الظاهر أن يقول أو أقل إلا أن يجعل النائب عن الفاعل حد الشهوة فليتأمل وهذا أعنى التقييد بما ذكر هو المعتمد وقيل الصغير والصغيرة من له سبع سنين فما دونها ( قوله لاختلافه ) أى حد الشهوة وهو تعليل لعدم التقييد بما ذكر ( قوله باختلاف الصغار والصغيرات ) قال القليوبى وعليه فهل بلوغ حد الشهوة يوجد فيما دونها أو لا يوجد إلا فيما فوقها راجعه وعلى ذلك فما مقداره حرره.

 Link Asal: Dari Sini


والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

125. Mengapa Rasulullah Diperingati Hari Kelahirannya, Sedang Ulama’ Yang Sholih Yang Diperingati Adalah Hari Wafatnya ?

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته




Latar belakang
Tidak asing lagi setiap tahun pasti pada setiap hari wafatnya seorang ulama’ yang besar, seperti ulama’ pendiri pondok pesantren, diberi acara haul sebagai hari peringatan akan hari wafatnya. Akan tetapi bila Rasul yang diperingati adalah hari kelahirannya. Seperti peringatan mauludan yang sering kita lakukan bersama.

Pertanyaan :
  1. Mengapa dalam hal ini ada perbedaan ? Kalau Rasulullah yang diperingati adalah hari kelahirannya. Sedang ulama’ yang sholih yang diperingati adalah hari wafatnya ?
Majlis Musyawarah Darul Falah PP. Darussalam Sumbersari

Jawaban :
  1. Karena peringatan hari lahirnya Rosulullah itu lebih ditekankan pada menampakkan kecintaan kepada Rosululloh ( إشعار بمحبته  ) dan syukur kepada Allah dengan lahirnya Rosululloh ( شكرا لنعمة الله بولادة النبى ). Sedangkan peringatan hari wafat Ulama’ lebih ditekankan pada do’a, tashodduq dan ذكر مناقب العلماء.

Referensi
1.        ترشيخ المستفدين ص: 325-326
( تنبيه ) فى باب الوليمة من فتاوى السيوطى سئل عن عمل المولود النبوى فى شهر ربيع الأول ما حكمه وهل يثاب فاعله ؟ ( فأجاب ) بأن أصل المولود الذى هو اجتماع الناس وقرأة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة فى مبدء أمر النبى صلى الله عليه وسلم وما وقع فى مولده من الآيات ثم يمد لهم سماطا يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك من البدع الحسنة التى يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبى صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف – إلى أن قال- قال وقد ظهر تخريجها على أصل ثابت وهو ما ثبت فى الصحيحين من أن النبى صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم فقالوا هذا يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصوم شكرا لله. فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما من به فى يوم معين من أسداء نعمة أو دفع نقمة. ويعاد ذلك فى نظير ذلك اليوم من كل سنة والشكر الله يحصل بانواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة واى نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبى نبى الرحمة فى ذلك اليوم. وعلى هذا فينبغى أن يتحرى اليوم بعينه حتى يطابق قصة موسى فى يوم عاشوراء. ومن لا يلاحظ ذلك لا يبالى بعمل المولود فى أى يوم من الشهر بل توسع قوم فنقلوه إلى يوم من السنة وفيه ما فيه هذا ما يتعلق بأصل عمله.

2.        نهاية الزين ج: 1 ص: 281
( وتنفع ميتا صدقة )  لأجله من وارث وغيره ومنها وقف المصحف وغيره وحفر بئر وغرس شجر روى مسلم عن عائشة رضي الله عنها أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله إن أمي انفلتت نفسها ولم توص وأظنها لو تكلمت تصدقت أفلها أجر إن تصدقت عنها قال نعم اهـ. والتصدق عن الميت بوجه شرعي مطلوب ولا يتقيد بكونه في سبعة أيام أو أكثر أو أقل وتقييده ببعض الأيام من العوائد فقط كما أفتى بذلك السيد أحمد دحلان وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت في ثالث من موته وفي سابع وفي تمام العشرين وفي الأربعين وفي المائة وبعد ذلك يفعل كل سنة حولا في يوم الموت كما أفاده شيخنا يوسف السنبلاويني. أما الطعام الذي يجتمع عليه الناس ليلة دفن الميت المسمى بالوحشة فهو مكروه ما لم يكن من مال الأيتام وإلا فيحرم كذا في كشف اللثام      ودعاء قال النووي في الأذكار أجمع العلماء على أن الدعاء للأموات ينفعهم ويصلهم ثوابه اهـ. روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال ما الميت في قبره إلا كالغريق المغوث بفتح الواو المشددة أي الطالب لأن يغاث ينتظر دعوة تلحقه من ابنه أو أخيه أو صديق له فإذا لحقته كانت أحب إليه من الدنيا وما فيها وأن هدايا الأحياء للأموات الدعاء والاستغفار.

3.        إعانة الطالبين الجزء: 3 ص: 264
ومن أجسن ما ابتدع فى زماننا ما يفعل كل عام فى اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله عليه وسلم من الصدقات والمعروف وإظهار الزينة والسرور فان ذلك مع ما فيه من الإحسان للفقراء مشعر بمحبتة النبى صلى الله عليه وسلم وتعظيمه فى قلب فاعل ذلك وشكر الله تعالى على ما من به من إيجاد رسول الله صلى الله عليه وسلم الذى أرسله رحمة للعالمين . اهـ

4.         الفتاوى الكبرى لابن حجر الهيتمى الجزء: 2 ص:8
ويؤيد قول ابن عبد السلام بعض المرائى حرام كالنوح لما فيه من التبرم بالقضاء إلا إذا ذكر مناقب عالم ورع وصالح للحث على سلوك طريقته وحسن الظن به بل هى حينئذ بالطاعة والموعظة أشبه لما ينشأ عنها من البر والخير ومن ثم مازال كثير من الصحابة وغيرهم من العلماء يفعلونها ممر الأعصار من غير إنكار.اهـ

5.        الحاوى للفتاوى الجزء: 1 ص:192
وقوله مع أن الشهر الذى ولد فيه الى آخر جوابه يقال أولا:إن ولادته صلى الله عليه وسلم أعظم النعم علينا ووفاته أعظم المصائب لنا والشريعة حثت على إظهار شكر النعم والصبر والسكوت والكتم عن المصائب , إلى أن قال- فدلت قواعد الشريعة على أنه يحسن فى هذا الشهر إظهار الفرح بولادته صلى الله عليه وسلم دون إظهار الحزن فيه بوفاته. إلى أن قال – وقد تكلم الإمام أبو عبد الله بن الحاج فى كتابه المدخل على عمل المولد فأتقن الكلام فيه جدا. وحاصله مدح ما كان فيه من إظهار شعار وشكر وذم ما احتوى من محرمات ومنكرات, وأنا أسوق كلامه فصلا فصلا.

6.        تنبيه الغافلين ص: 223
وقال النبى صلى الله عليه وسلم إنما الأعمال بالخواتم لا عبرة بكثرة الصلاة والصيام إنما ينظر إلى خاتمة أمره.اهـ

7.        الأذكار النووية ص: 165 – 166
وروينا فى سنن أبى داود والترمذى بإسناد ضعيف ضعفه الترمذى عن ابن عمر رضى الله عنه عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اذكروا محاسن موتاكم وكفوا عن مساويهم.

8.        حول الاحتفال بذكرى المولد النبوى الشريف لسيد محمد بن علوى الملكى الحسنى
ونقول: إن الإمام  العلامة جلال الدين السيوطى قد كفانا الرد على هذه المغالطة فقال فى كتابه الحاوى. نصه: إن ولادته صلى الله عليه وسلم أعظم النعم ووفاته أعظم المصائب لنا. والشريعة حثت على إظهار شكر النعم والصبر والسكون عند المصائب, وقد أمر الشرع بالعقيقة عند الولادة وهى إظهار شكر وفرح بالمولود. ولم يأمر عند الموت بذبح ( عقيقة ) ولا بغيره, بل نهى عن النياحة وإظهار الجزع. فدلت قواعد الشريعة على أنه يحسن فى هذه الشهر إظهار الفرح بولادته صلى الله عليه وسلم  دون إظهار الحزن فيه بوفاته وقد قال ابن رجب فى كتابه ( اللطائف ) فى دم تارافضة ….. حيث اتخذوا يوم عاشوراء مأتما لأجل مقتل الحسين ولم يأمر الله ولا رسوله صلى الله عليه وسلم باتخاذ أيام مصائب الأنبياء وموتهم مأتما فكيف ممن هو دونهم.اهـ



Link Asal: Dari Sini


والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Jumat, 13 Desember 2013

123. Saksi Dalam Aqad Nikah

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته




Latar belakang
Dalam akad nikah, di suatu daerah, tepatnya di Kab. Banyuwangi, terjadi akad nikah di mana semua orang yang berada di majlis dijadikan saksi. Dengan tidak ditentukan personelnya. ( Kedua orang saksinya tidak ditentukan ).



Pertanyaan :
  • Sahkah akad nikah tersebut ?
Pon. Pes. Mahir Arriyadl Ringinagung Kepung Pare Kediri


Jawaban :
  •  Sah


Referensi:
1.   الإقناء الجزء الثانى ص 408
والمعنى فى إحضار الشاهدين الاحتياط للأبضاع وصيانة الأنكحة على الجحود ويسن إحضار جمع زيادة على الشاهدين من أهل الخير والدين

2.  الباجورى الجزء الثانى ص 102
ولا يصح عقد النكاح أيضا  إلا بحضور شاهدى عدل وقوله إلا بحضور شاهدى عدل أى وإن لم يكن بإحضار فلا يشترط إحضارهما بل حضورهما

3.   تحفة المحتاج الجزء السابع ص 227
ولا يصح النكاح إلا بحضرة الشاهدين قصدا أو اتفاقا بأن يسمع الإيجاب  والقبول أى الواجب منهما المتفق عليه صحة العقد لا نحو ذكر المهر كما هو ظاهر



 Link Asal: Dari Sini


والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

121. Menggambar Hal Ghaib

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته



Deskripsi masalah :
Diwajibkan bagi umat Islam untuk percaya terhadap hal-hal ghoib seperti siksa kubur, nikmat kubur, ruh dan sebagainya. Sedangkan kita sendiri belum pernah melihat kejadian sesungguhnya dari kesemuanya itu. Pada saat ini hampir semua stasiun televisi menayangkan sinetron reliji yang memvisualkan dengan jelas bagaimana kejadian yang terjadi dalam alam ghaib tersebut misal seperti siksa kubur yang dialami seseorang ketika didunianya melakukan perbuatan tercela hingga membuat pemirsa yakin gambaran yang terjadi kelak nantinya akan seperti tayangan yang mereka lihat.


Pertanyaan :  
  1. Bagaimana hukum menggambarkan hal-hal ghaib seperti dalam deskripsi masalah di atas ?
  2. Bagaimana hukum orang yang percaya terhadap tayangan tersebut ?
Al-Falah Trenceng


Jawaban:
  1. Mengenai hukum menggambarkan dalam bentuk visualisasi terjadi khilaf :
 => Tidak diperbolehkan (haram) dengan alasan, model hikayah melalui bentuk visualisasi pasti mengandung unsur kebohongan (kidzb).
=>  Diperbolehkan menurut Dr. Yusuf Al-Qardlawi, memandang karena hikayah melalui bentuk visualisasi tidak mungkin dihindari serta eksistensinya menjadi salah satu bentuk dakwah untuk mencapai kemaslahatan.

2. Sedangkan mengenai hikayah tentang hal-hal gaib (seperti siksa kubur) hukumnya diperbolehkan ketika memenuhi persyaratan sebagai berikut :
=> Berasal dari sumber yang benar dan jelas.
=>  Ada tujuan untuk memahamkan
=>  Tidak ditemukan hal-hal yang dapat menimbulkan salah persepsi (iham).
=>  Tidak ada tayangan yang dilarang syara' seperti kasyf al-'aurat dlsb.



Referensi:
  1. Al-Fiqh 'Ala Madzahib al-Arba'ah Juz II hlm. 40
  2. Hadza Halal Wahadza Haram III hlm 150-151
  3. Yas'alunaka Fi Ad-Din Wa Al-Hayah Juz. I hlm. 644-645
  4. I'anah At-Thalibien Juz.  III hlm. 246
  5. Ihya' Ulum ad-Din juz I hlm. 35
  6. Al-Halal Wa Al-Haram Fi Al-Islam Li Yusuf Al-Qardlawi hlm. 286-287
  7. Al-Anwar as-Saniyah hlm. 34
  8. Al-Husun al-Hamidiyah hlm. 133-137


Ibarot:
  1.   الفقه على مذاهب الأربعة الجزء الثاني ص 40
ويتعلق بإجابة الدعوى إلى الوليمة مسألة التصوير فهل تسقط الإجابة إذا علم المدعو أنها مشتملة على صورة أو لا تسقط ؟ والجواب أنها لا تسقط إلا إذاكانت الصورة محرمة لا يباح التفرج عليها شرعا أما إذاكانت جائزة فإن الإجابة لا تسقط بوجودها فى محل الوليمة وذلك لأن الصورة إما أن تكون صورة لغير حيوان كشمس وقمر وشجر ومسجد أوتكون صورة حيوان عاقل أو غير عاقل وقسم الأول جائز لا كلام فيه وأما القسم الثاني فإن فيه تفصيل المذاهب على أن المحرم منه إنما حرم فى نظر الشرع إذا كان لغرض فاسد كالتماثيل التى تصنع لتعبد من دون الله فإن فاعل هذا له أسوء الجزاء وكذلك إذا ترتب عليها تشابه بالتماثيل أو تذكر لشهوات فاشدة فإنها فى هذه الحالة تكون كبيرة من الكبائر فلا يحل عملها ولا بقائها ولا تفرج عليها أما إذا كانت لغرض صحيح كتعلم وتعليم فإنها تكون مباحة لا إثم فيها ولهذا استثنى بعض المذاهب لعب البنات (العرائس) الصغيرة الدمي فإن صنعها جائز وكذلك بيعها وشرائها لأن الغرض من ذلك إنما هو تدريب البنات الصغار على تربية الأولاد وهذا الغرض كاف فى إباحتها وكذلك إذاكانت صورة مرسومة على ثوب مفروش أو بساط أو محداة فإنها جائزة لأنها فى هذه الحالة تكون ممتنهة فتكون بعيدة الشبه بالأصنام وبالجملة فإن غرض الشريعة الإسلامية إنما هو القضاء على الوثنية ومحو أثرها من جميع الجهات فكل ما يدنى منها أو يشير ذكرها فهو محرم وما عدا ذلك فهو جائز .
  1.  
  2.  هذا حلال وهذا حرام ص: 150-152
أولا – أن القصص الخيالية وهي لون من الكذب باعتبارها ليست تعبيرا عن واقع حدث بالفعل وإنما تنسج على هوى الكاتب لتصوير فكرة ذات هدف من ابتكاره هو ومن اختلاق خياله فحكمها الشرعي إذن يخضع لحكم الإخبار عن غير الواقع (الكذب) وما يباح منه وما لا يباح وقد أخرج مسلم عن أم كلثوم بنت عقبة بن أبي معيط أنها سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : "ليس الكذاب الذي يصلح بين الناس ويقول خيرا وينمي خيرا" قال ابن شهاب : لم أسمع يرخص في شيئ مما يقول الناس كذبا إلا في ثلاث : الحرب والإصلاح بين الناس وحديث الرجل امرأته وحديث المرأة زوجها قال القاضى عياض : لا خلاف في جواز الكذب في هذه الأمور وقال الطبري : لا يرخص في شيء من الكذب أصلا وإنما تباح التورية واستعمال المعاريض وعلى هذا فالقصة الخيالية غير الواقعة حلال إذا أريد بها إصلاح عيوب اجتماعية هادفة إلى تحقيق خلق إسلامي حرام إذا لم تكن للإصلاح أو كانت هادفة إلى تحقيق خلق أو مذهب سياسي أو اجتماعي معارض للإسلام فالقصة التي تدعو إلى الشيوعية أو إلى تشجيع النساء على العمل في مجال التمثيل والمسرح أو إلى تمجيد هذا الفن بوجه عام كما هو شائع في كثير من مواضع تلك القصص التمثيلية والقصص التي تثير غريزة كامنة أو تدل على وسائل الإستمتاع الشهواني أو التى تعتبر من قبيل العذاب المكشوف كل ذلك وأشباهه حرام لأنه إفساد بين الناس وليس إصلاحا بينهم يمكن استثناؤه من الكذب المحرم وإخراجها من السينما أو المسرح حرام أيضا أما القصص الغزلي فتطبق عليه أحكام المزاح والهزل في الإسلام وقد أخرج الترمذي والنسائي وأبو داود عن بهز بن حكيم عن أبيه عن جده أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : "ويل للذي يحدث فيكذب ليضحك به القوم ويل له ويل له ويل له" وهذا الوعيد الشديد دليل على تحريم القصص المختلق (الكاذب) أو الخيالي الهزلي الذي يهدف إلى الإضحاك ولو كان هادفا إلى إصلاح اجتماعي لأن القصص الخيالي غير الهزل والهادف إلى الإصلاح مرخص فيه بنص الحديث أما الهزل فقد جاء الوعيد إليه دون الرخصة. هذا حكم الشرع في الفن القصص. أما إذا أريد تمثيله أمام الجمهور فإن هناك طريقين لهذا التمثيل : (1) التمثيل المسرحي وفيه تمثيل القصة الخيالية المباحة وهي التي تكون هادفة إلى الإصلاح وغير معارضة لشريعة الإسلام بأشخاص حقيقيين يؤدي كل منهم دوره على المسرح لإبراز الفكرة الهادفة والإستعانة بتمثيل الوجدان المؤثر في الجمهور لإقناع الناس بالفكرة ودعوتهم إليها وهذا النوع مباح ما لم يستعمل على محرم شرعا كتمثيل العاطفة بين الذكر والأنثى عن طريق القبلات أو اللمس أو التثنى والتكسر والتخنث من أي من جنسين (2) التمثيل السينمائي وتعتمد هذه الصناعة على تصوير الأشخاص وحركاتهم كأنهم أحياء يتخاطبون وتقترن صورهم المتحركة بالحوار كأنه واقع ملموس وهناك يتفرع الحكم الشرعي إلى حكم الصور المتحركة المتكلمة وحكم الإختلاط بين الجنسين وعرض المحرمات: أ-وحكم الصور المتحركة المتكلمة يمكن قياسه على حكم الصور المجسدة (التماثيل) بل هي أشد حرمة من حرمة التماثيل لأن التماثيل فيها محاكة خلق الله محاكة صامتة جامدة والصور المتحركة فيها محاكة الحركة والكلام وتلفيق شخص مطابق لواقع شخص آخر بحركاته وسكناته وجميع طبائعه فهي على هذا حرام حرمة التمثال أو أشد حرمة ب- وحكم الإختلاط بين الجنسين وتمثيل المواقف الغرامية والقبلات ومجالس الخمر والغناء حرام . فالخلاصة : أن التمثيل المسرحي الهادف نحو الاصلاح وغير المتعارض مع الشريعة والذي يخلو من المحرمات حلال إذا لم يكن وسيلة لتعطيل الفرائض أما التمثيل السينمائي فليس بحلال لا صناعة ولا مشاهدة اهـ

.     3.  يسألونك فى الدين والحياة الجزء الاول ص 644-645 
السؤال هل مشاهدة السينما حرام ؟ ومارأي علماء الأزهر الشريف فى ذلك ؟ الجواب السينما لون من ألوان التمثيل المعروف بين الناس وإن كانت السينما تعتمد على الصورة أكثر من المسرح والمراد من التمثيل كما يقرره أهلوه هو عرض مشاهد الحياة والأحياء بصورة تحليلية بقصد تجسيم الأخطاء لتجنبها وتمجيد الفضائل للاستمساك بها وضرب الأمثال والعبر بطريق فني لا يظهر فيها الوعظ أو الإرشاد إلا بطريق الإيجاء أو بطريق غبر مباشر فإذا حقق التمثيل هذا الهدف الجليل سواء أكان تمثيلا مسرحيا أم سينمائيا فى حدود الآداب العامة والذوق السليم والابتعاد عن إثارة الغرائر وكشف العورات والخروج على الوقار والحياء فإنه لا يوجد فى الدين حسبما نفهم والله أعلم ما يمنع من مشاهدة هذا التمثيل. أما إذاتضمن التمثيل سواء أكان سينمائيا أو مسرحيا إثارة للغرائر أو تهجما على العقائد أو تطاولا على الفضائل أو تحبيبا فى الرذائل أو عرضا لما لا يجوز عرضه أو إبداؤه أو كشفه فإن التمثيل فى هذا الوضع يكون حراما لأنه يؤدي إلى الفساد أو الشر وما يؤدي إلى الحرام فهو حرام أخذا بالمبدأ المعروف فى الدين وهو مبدأ سد الذرائع. وأما عن رأي علماء الأزهر الشريف فى السينما فالذي أفهمه هو أنهم يعدون السينما سلاحا ذا حدين يحسن أحد الناس استخدامه فينفعون به الأمة والوطن ويخدمون به الدين والأخلاق الفاضلة فيكون فى هذه الحالة خيرا وبركة ويسيئ بعض آخر من الناس استخدام هذا الصلاح الخطير فيحرضون به على الجريمة أو الرذيلة أو التحلل أو غير ذلك من وجوه الانحراف الحسي أو النفسي أو الأخلاقي أو الإجتماعي فيصبح هذا السلاح بلاء ووبآء ويسبب الكثير من العلل والبلايا ونحن فى أشد الحاجة إلى الانتفاع بسلاح السينما فى خدمة الدين والقيم الأخلاقية والمبادئ الروحية وفى خدمة الروح الوطنية وفى خدمة الأمة بتعليمها وإرشادها إلى طرق العزة والكرامة ويتمنى علماء الأزهر الشريف لو استجاب المسئولون عن السينما فى شرق الأرض وغربها لصوت الدين والأخلاق الوطنية فأكثروا من الافلام القوية الجادة العفيفة النظيفة التى تقوي جوانب الخير والفضيلة فى الإنسان ويتمنون كذلك لو قامت علقت طيبة بين علماء الدين ورجال الفن على أساس الإعتزاز بمبادئ الدين والإرتفاع بمستوي الفن ولذلك أكرر منذ عهد بعيد قولي إذا تدين رجل الفن وتفنن رجل الدين التقيا فى منتصف الطريق لخدمة العقيدة الكريمة والفن السليم
.
    4. فتح المعين مع حاشية إعانة الطالبين الجزء الثالث ص: 246
(فائدة) الكذب حرام وقد يجب كما إذا سأل السهو عن وديعة يريد أخذها فيجب إنكارها وإن
(قوله وقد يجب الخ) قال في الإحياء والضابط في ذلك أن كل مقصود محمود يمكن التوصل إليه بالصدق والكذب جميعا فالكذب فيه حرام أو بالكذب وحده فمباح إن أبيح تحصيل ذلك المقصود وواجب إن وجب كما لو رأى معصوما اختفى من السهو يريد قتله أو إيذاءه لوجوب عصمة دمه أو سأله السهو عن وديعة يريد أخذها فإنه يجب عليه إنكارها وإن كذب بل لو استحلف لزمه الحلف ويوري وإلا حنث ولزمته الكفارة وإذا لم يتم مقصود حرب أو إصلاح ذات البين أو استمالة قبل مجنى عليه إلا بكذب أبيح ولو سأله سلطان عن فاحشة وقعت منه سرا كزنا وشرب خمر فله أن يكذب ويقول ما فعلت وله أن ينكر سر أخيه اهـ
  1.  
  2. 5.       إحياء علوم الدين الجزء الأول ص: 35
فليحذر الكذب وحكايات أحوال تومىء إلى هفوات أو مساهلات يقصر فهم العوام عن درك معانيها أو عن كونها هفوة نادرة مردفة بتكفيرات متداركة بحسانة تعطى عليها فإن العام يعتصم بذلك في مساهلاته وهفواته ويمهد لنفسه عذرا فيه ويحتج بأنه حكي كيت كيت عن بعض المشايخ وبعض الأكابر فقلنا بصدد المعاصي فلا غرو إن عصيت الله تعالى فقد عصاه فهو من هو أكبر مني ويفيد ذلك جراءة على الله ن حيث لا يدرى فبعد الاحترازعن هذين المحذورين فلا بأس به وعند ذلك يرجع إلى القصص المحمودة وإلى ما يشتمل عليه القرآن ويصح في الكتب الصحيحة من الأخبار ومن الناس من يستجيز وضع الحكايات المرغبة في الطاعات ويزعم أن قصده فيها دعوة الخلق إلى الحق فهذه من نزغات الشيطان فإن في الصدق مندوحة عن الكذب وفيما ذكر الله تعالى ورسوله صلى الله عليه وسلم غنية عن الاختراع في الوعد
  1.  
  2. 6.       الحلال والحرام في الإسلام ص: 286-287 للدكتور يوسف القرضاوي
(دخول السينما) ويتساءل كثير من المسلمين عن موقف الإسلام من دور الخيالة "السنيما" والمسرح وما شابهها وهل يحل للمسلم ارتيادها أم يحرم عليه ؟ ولا شك أن السنيما وما ماثلها أداة تامة من أدوات التوجيه والترفيه وشأنها شأن كل أداة فهي في ذاتها لا بأس بها ولا شيء فيها والحكم في شأنها يكون بحسب ما تؤديه وتقوم به وهكذا نرى في السنيما هي حلال طيب بل قد تستحب وتطلب إذا توفرت لها الشروط الآتية أولا : أن تتنزه موضوعتها التي تعرض فيها عن المجون والفسق وكل ما ينافي عقائد الإسلام وشرائعه وآدابه فأما الروايات التي تثير الغرائز الدنيا أو تحرض على الإثم أو نغري بالجريمة أو تدعو لأفكار منحرفة أو تراوج لعقائد باطلة إلى آخر ما تعرف فهي حرام لا يحل للمسلم أن يشاهدها أو يشجعها . ثانيا : ألا تشتغل عن واجب ديني أو دنياوي وفي طليعة الواجبات الصلوات الخمس التى فرضها الله كل يوم على المسلم فلا يجوز للمسلم أن يضيع صلاة مكتوبة كصلاة المغرب من أجل رواية يشاهدها قال تعالى "فويل للمصلين الذين هم عن صلاتهم ساهون"وفسر السهو عنها بتأخيرها حتى يفوت وقتها وقد جعل القرآن من جملة أسباب تحريم الخمر والميسر أنها تصدعن عن ذكر الله وعن الصلاة . ثالثا : أن يتجنب مرتادها الملاصقة والاختلاط المثير بين الرجال والنساء الأجنبيات منهم منعا للفتنة ودرءا للشبهة ولا سيما أن المشاهدة لا تتم إلا تحت ستار الظلام وقد مر بنا الحديث "لأن يطعن في رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمسم امرأة لا تحل له إهـ
  1.  
  2. 7.       الأنوار السنية ص 34 الحرمين
واعلم أن الأحوال التى تقع للأموات ليس للأحياء إحساس بها ولا إطلاع لهم عليها فيجب الإيمان بها وإن لم تصل العقول إلى معرفتها وقد جعل الله تعالى حالة النوم وما يراه النائم فى نومه حجة على العبد فإنه يشاهده النائم ملقي بين يديه وهو يرى نفسه أنه يأكل ويشرب ويسافر ويتجر ويتزوج إلى غير ذلك والحاضرون لايحسون بسيئ مما يشاهده من ذلك . 
  1.  
  2. 8.       الحصون الحميدية 133-137
ثم إن علماء الشريعة الأعلام لما وجدوا للفلاسفة المنكرين للبعث شبها أخرى يزعمون فيها حصول محالات عقلية على القول بالبعث قال أولئك العلماء رحمهم الله تعالى إن الواجب شرعا على كل مكلف أن يعتقد بحصول البعث والإعادة وأن ذلك يحصل على وجه لا يستلزم محالا عقليا والله أعلم بكيفية ذلك ولا يلزمنا لصحة الإيمان بالبعث أن نبين الكيفية التي يجريها الله تعالى في أمر البعث بل نفوض علمها إليه تعالى لكن للمحافظة على أفكار الضعفاء في الدين من الاضطراب نقول في توضيح ذلك من الممكن أن المعاد من الجسم بالبعث هو جميع أجزائه الأصلية أي الباقية من أول العمر إلى آخره لا الأجزاء الفضلية التي تتكون في الجسم من الأغذية ثم تتحلل ويخلفها غيرها وهلم جرا – إلى قال – ثم ما ورد من أن أعضاء الخلق وجلودهم تشهد عليهم من الجائزات العقلية الداخلة تحت تصرف فدرة الله تعالى كما تقدم توضيح بيان نظيره في بيان معجزات الرسل من أن منها نطق الجمادات فحيث أن الله تعالى هو الخالق لصفة الكلام في الإنسان ولا يتوقف خلقه لها على حياة ولا غيرها كما أقيم على ذلك البرهان فلا مانع أنه تعالى يخلق في تلك الأشياء وتشهد على العصاة بأعمالهم وحكمة ذلك تخويف العباد من ارتكاب المعاصي عند ما تخبرهم الرسل أن أعضاءهم وجلودهم والأرض التي يعصون عليها تشهد عليهم يوم القيامة وأيضا إظهار عظمة قدرة الله تعالى في ذلك اليوم وظهور بالغ حجته على العباد "ولله حجة البالغة" ثم إن الصراط الذي يمد على متن جهنم لمرور الناس عليه كما تقدم شرحه ليس فيه شيء يستبعده العقل لكن في بعض روايات وردت في وصفه ليست من الروايات المتواترة وإن اشتهرت أن الصراط يكون أدقّ من الشعرة وأحدّ من السيف وهذه الكيفية قد يستبعد بعض الضعفاء وإن كانت من الجائزات العقلية الداخلة تحت تصرف قدرة القادر العظيم ومع ذلك فقد نازع في صحة ذلك بعض علماء الأعلام كالعز ابن عبد السلام والقرافي والبدر الزركشي كما نقله الباجوري على الجوهرة قالوا وعلى فرض صحة تلك الرواية فهو محمول على غير ظاهره بأن يؤول بأنه كناية عن شدة المشقة زاد القرافي أن الصحيح أن الصراط عريض وله طريقان يمنى ويسرى فأهل السعادة يسلك بهم ذات اليمين وأهل الشقاوة يسلك بهم ذات الشمال وعلى هذا التقرير فلا إشكال يبقى هنا حتى أفكار الضعفاء ويكفي المكلف الإيمان بوجود الصراط ولو على هذه الكيفية والله تعالى أعلم . ولنختم هذا الباب بذكر أدلة عقلية على حصول البعث والجزاء وهي وإن لم تكن برهانية قاطعة فهي إقناعية تدعن عندها العقول وتطمئن لها اقلوب وبتواردها بمجموعها على الفكر يجزم العقل بوقوع البعث والجزاء ولا يعير للشك أذنا صاغية. اعلم أن البث والجزاء وإن كان المشهور أن دليل جوازها عقلي كما علمته بما مر ودليل حصولهما باالفعل شرعي وهو النصوص الشرعية الواردة فى القرآن الشريف والحديث المنيف لكن إذا دقق النظر وجد أن لحصولهما دلائل عقلية اقناعية تطمئن لها القلوب كما قلنا فاستمع ما يتلى عليك من كلام العلماء الأعلام فى ذلك فنقول إنه بعد إقامة البراهن القاطعة على وجوب الإله العالم واتصافه بصفات الكمال إلخ

120. Hukum Pulsa Nyasar

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته


●HUKUM PULSA NYASAR●

PP Al Falah Lebak Winongan Pasuruan Jatim

Pertanyaan:  
Apa yang harus dilakukan penerima pulsa nyasar, bila tidak ada yang menghubunginya ?



Jawaban: 
Secara hukum Fiqh, tidak wajib mengganti, karena penerima pulsa tidak dapat dikategorikan menguasai manfaat dari harta orang lain, sebab yang dikategorikan menguasai manfaat harus disertai dengan benda yang menyimpan manfaat itu

عبارتها:
في المدخل الفقهي العام للمصطفى أحمد الزرقاء ج : 3 ص : 231-232
1. في الفقه الأجني يقسمون الأموال الى أموال مادية وأموال معنوية ويريدون بالمعنوية ما كان له اعتبار في ثروة الإنسان ولكنه ليس أعيانا مادية في الوجود الخارجي فتدخل في ذلك الحقوق الشخصية والعينية والمنافع والملكية والأدبية للمؤلفين في انحصار حق طبع مؤلفتهم والملكية الصناعية المخترعين وحق استعمال الناوين التجارية ونحو ذلك. فكل منفعة او حق خولها القانون انسانا فهما مال معنوي يمكن ان يباع ويشتري، وهذا التقسيم لايتناسب مع مفهوم المال بالنظر الشرعي المبنى عليه بحثنا فقد فرق فقهان بين المال والملك فاعتبر الحقوق المنافع ملكا يستمتع به لا مال ترد عليه العقول الااستثناء كما تقدم



والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

119. Kajian Kitab Risalatul Jami'ah Bab Sunnah-sunnah Haji

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
 
Oleh:
Thu Khang Angon Wedhuz



سنن الحج
Sunnah-sunnah Haji.
و أما السنن فكل ما سوى الأركان و الواجبات. فمن ترك ركنا لم يصح حجه و لا يحل من احرامه حتى يأتي به.
Adapun sunnah haji adalah semua (ibadah) selain rukun dan wajib haji. Barang siapa meninggalkan rukun, maka hajinya tidak sah dan ia tidak boleh melakukan hal-hal yang di haramkan dalam ihram sampai dia mengerjakan rukun yang ia tinggalkan.
و ثلاثة من الأركان لا تفوته ما دام حيا و هي الطواف و السعي و الحلق، و من ترك شيأ من الواجبات صح حجه و لزمه دم و عليه إثم إن لم يعذر. و من ترك شيأ من السنن فلا شيئ عليه و لكن تفوته الفضيلة.
Ada 3 rukun yang bisa di tunda pelaksanaannya selama orang yang berhaji masih hidup, yaitu thawaf, sa'i, dan bercukur. Barang siapa meninggalkan salah satu wajib haji, maka hajinya sah, tetapi ia wajib membayar denda (dam), dan ia berdosa jika pelanggaran itu dilakukan tanpa udzur[43]. Barang siapa meninggalkan salah satu sunnah haji, maka ia tidak terkena kewajiban apa pun, tetapi ia tidak memperoleh pahala.





Ket:
[43] : Alasan yang di perbolehkan syari'at di antaranya ialah :
1. Perempuan yang haidh boleh tidak melakukan thawaf wada' dan tidak wajib membayar dam (denda)
2. Waktu terlalu sempit, sakit cukup parah, hujan deras, cuaca terlalu dingin atau panas, jalan tidak aman, menunggu keluarga yang sedang sakaratul maut dan lain-lain diperbolehkan tidak mabit di Muzdalifah.
 
 
 
والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته
 

116. Tren Pria Metroseksual

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته


 
Deskripsi Masalah
Tampil menawan dan tebar pesona kini tidak lagi melulu menjadi idaman kaum wanita. Bagi sebagian laki-laki masa kini terutama yang imut atau baby face, hal itu sepertinya telah menjadi kebutuhan primer. Para pria yang dikenal dengan pria metroseksual memiliki kecenderungan untuk merawat tubuh dan menambah daya tariknya dengan kosmetik serta aneka paket perawatan tubuh lain. Akhirnya, Pria yang dulu identik dengan cuek, kini mulai terjangkiti ”penyakit” bersolek yang kadang bahkan melebihi wanita. Bagi pria metro, tumbuhnya satu jerawat dapat membuat mereka laksana kiamat.
Menyadari perkembangan ini, mulai tumbuh salon khusus pria, majalah khusus pria, tempat perawatan tubuh khusus pria di mana mereka tidak malu-malu lagi untuk facial bahkan melakukan perawatan manicure pedicure. Tak ketinggalan, pihak produsen juga meluncurkan berbagai produk khusus lelaki baik make up, kosmetik, pembersih dan pelembab wajah, parfum, dan lain-lain. Untuk menarik minat konsumen, mereka sering mengeluarkan produk dengan spesifikasi segmen tertentu. Berbagai produk sering disertai dengan tulisan  ”for man” ”for women”. Hal ini konon berdasarkan survey dan penelitian tentang kosmetik yang sesuai untuk jenis kulit tertentu atau hanya berdasarkan perbedaan aroma yang cenderung memilah antara kaum maskulin dan feminin (wanita cenderung diidentikkan dengan aroma lembut namun awet, sementara pria dikesankan identik dengan aroma keras dan menyengat) seperti dapat dilihat pada minyak wangi dan sabun. Meski belum bisa diuji kebenaran klaimnya karena terkesan bernuansa menarik konsumen, segmentasi ini membentuk opini publik dan menggiring mereka dalam memilih produk.
Benar agama menganjurkan perawatan tubuh seperti memotong kuku, memakai minyak wangi dan anjuran-anjuran lain. Namun perlu diingat bahwa salah satu nilai dibalik keharaman sutera bagi lelaki adalah karena mengandung kelembutan (khunutsah) yang identik dengan kaum hawa, tak layak untuk keperkasaan (syahamah) seorang lelaki.
                                                                                                                                   Alumnus 2008


Pertanyaan :
Bagaimana hukum pria melakukan berbagai sarana perawatan tubuh dan peningkatan daya tarik yang selama ini identik dengan gaya hidup kaum wanita ?

Jawaban :
Diperbolehkan sebatas tidak ada unsur-unsur yang diharamkan seperti tasyabbuh (menyerupai terhadap lawan jenis, orang-orang kafir dan orang fasiq), isrof (melebihi batas kewajaran), taghyir kholqillah (merubah bentuk alami) dan lain-lain.


REFERENSI
1.     At-Tamhid li ma fi al-Muwatho’ min al-Ma’ani wa al-Asanid, Juz 5, hlm. 50
2.    Al-Usrah al-Muslimah fi al-‘Alam al-Mu’ashir, hlm. 253
3.    Hawasyi asy-Syarwani, juz 3, hlm. 26
4.   Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubro, juz 4, hlm. 239
5.    Faidl al-Qodir, juz 6, hlm. 135


1.      التمهيد لما في الموطأ من المعاني والأسانيد | جـ 5 صــ 50
حديث حاد وثلاثون لزيد بن أسلم مرسل مالك عن زيد بن أسلم عن عطاء بن يسار أنه أخبره قال كان رسول الله g في المسجد فدخل رجل ثائر الرأس واللحية فأشار إليه رسول الله g بيده أن أخرج كأنه يعني إصلاح شعر رأسه ولحيته ففعل الرجل ثم رجع قال رسول الله g "أليس هذا خيرا من أن يأتي أحدكم ثائر الرأس كأنه شيطان" قوله في هذا الحديث "ثائر الرأس" يعني أن شعره مرتفع شعث غير مرجل وأصل الكلمة في اللغة الظهور والخبال ومنه أخذ الثائر والثورة ولا خلاف عن مالك أن هذا الحديث مرسل وقد يتصل معناه من حديث جابر وغيره. وفيه إباحة اتخاذ الشعر والوفرات والجمم لأنه لم يأمره بحلقه وفيه الحض على ترجيل شعر الرأس واللحية وكراهية إهمال ذلك والغفلة عنه حتى يتشعث ويسمج وهذا عندي أصل في إباحة التزين والتنظف كله ما لم يتشبه الرجل في ذلك بالنساء وإنما استثنيت ذلك لقول رسول الله g "لعن الله المتشبهين من الرجال بالنساء والمتشبهات من النساء بالرجال" وهذا على العموم إلا أن يخصه عنه شيء g فالتزين والتنظف مباح بهذا الحديث وغيره ما لم يكن إسرافا وتنعما وتشبها بالجبارين يدلك على ذلك قوله g "البذاذة من الإيمان" وقد جاء عنه g أنه نهى عن الترجل إلا غبا من حديث البصريين ومعناه والله أعلم على ما ذكرت وأما قوله في الحديث "كأنه شيطان" فهو محمول على المعروف من كلام العرب لأنها كانت تشبه ما استقبحت بالشيطان وإن كان لا يرى لما أوقع الله في نفوسهم من كراهية

2.     الأسرة المسلمة في العالم المعاصر صـ 253
 الزينة واللباس : التعريف والترغيب فيهما والأنواع والأحكام (المباح والمستحب والحرام) التعريف والترغيب فيهما الزينة ما يتزين به وهي كل ما يضفى على الإنسان حسنا وبهجة أو هي اسم يقع على محلسن الخلق التي خلق الله وعلى ما يتزين به الإنسان من فضل لباس أو حلي وغير ذلك وقد تكون مشروعة وهي الخالية من الفتنة والإفساد أو النية الفاسدة وقد تكون غير مشروعة وهي الباعثة على الفتنة والفساد أو النية الخبيثة أو يشويها شيء من فساد النية قال الزمحشري في الكشاف الزينة ما تتزين به المرأة من حلي أو كحل والخضاب فلا بأس بإبدائه للأجانب وما خفي منها كالسوار والخلخال والدملج والقلادة والإكيل والوشح والقرط فلا تبديه إلا لهؤلاء المذكورين أي في آية المحارم من الأزواج والأولاد وبقية الأقارب المحرمات

3.  حواشي الشرواني | جـ 3  صـ 26 دار الفكر
وقد ضبط ابنُ دقيق العيد ما يحرُم التشبه بهن فيه بأنه ما كان مخصوصا بهن في جنسه وهيئته أو غالبا في زيهن وكذا يقال في عكسه نهاية قال ع ش ومن العكس ما يقع لنساء العرب من لُبس البشوت وحمل السكين على الهيئة المختصة بالرجال فيحرم عليهن ذلك وعلى هذا فلو اختصت النساء أو غلب فيهن زيٌّ مخصوص في إقليم وغلب في غيره تخصيصُ الرجال بذلك الزيِّ كما قيل إن نساء قرى الشام يتزيين بزي الرجال الذين يتعاطون الحصاد والزراعة ويفعلن ذلك فهل يثبت في كل إقليم ما جرت به عادة أهله أو ينظر لأكثر البلاد فيه نظر والأقرب الأول ثم رأيت في أن ابن حج نقلا عن الإسنوي ما يصرح به وعليه فليس ما جرت به عادة كثير من النساء بمصر الآن من لبس قطعة شاش على رؤوسهن حراما لأنه ليس بتلك الهيئة مختصا بالرجال ولا غالب فيهم فليتنبه له فإنه دقيق وأما ما يقع من إلباسهن ليلة جلائهن عمامة رجل فينبغي فيه الحرمة لأن هذا الزي مخصوص بالرجال اهـ

4.     الفتاوى الفقهية الكبرى| جـ 4  صـ 239
فالحاصل أنه إن فعل ذلك بقصد التشبيه بهم في شعار الكفر كفر قطعا أو في شعار العبد مع قطع النظر عن الكفر لم يكفر ولكنه يأثم وإن لم يقصد التشبيه بهم أصلا ورأسا فلا شيء عليه

5.     فيض القدير | جـ 6 صـ 135
8593 - (من تشبه بقوم) أي تزيا في ظاهره بزيهم وفي تعرفه بفعلهم وفي تخلقه بخلقهم وسار بسيرتهم وهديهم في ملبسهم وبعض أفعالهم أي وكان التشبه بحق قد طابق فيه الظاهر الباطن (فهو منهم) وقيل المعنى من تشبه بالصالحين وهو من أتباعهم يكرم كما يكرمون ومن تشبه بالفساق يهان ويخذل كهم ومن وضع عليه علامة الشرف أكرم وإن لم يتحقق شرفه وفيه أن من تشبه من الجن بالحيات وظهر يصورتهم قتل وأنه لا يجوز الآن لبس عمامة زرقاء أو صفراء كذا ذكره ابن رسلان وبأبلغ من ذلك صرح القرطبي فقال لو خص أهل الفسوق والمجون بلباس منع لبسه لغيرهم فقد يظن به من لا يعرفه أنه منهم فيظن به ظن السوء فيأثم الظان والمظنون فيه بسبب العون عليه وقال بعضهم قد يقع التشبه في أمور قلبية من الاعتقادات وإرادات وأمور خارجية من أقوال وأفعال قد تكون عبادات وقد تكون عادات في نحو طعام ولباس ومسكن


Link Asal: Dari Sini 


والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template