Tampilkan postingan dengan label Pemerintahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemerintahan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Desember 2013

118. Hukum Tenda Acara Di Tengah Jalan

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته


Latar belakang masalah:
Biasanya di desa desa sering terjadi orang yang mempunyai hajat memasang terop/tenda di jalan umum

Pertanyaan :
  1. Bolehkah memasang terop tersebut....?
  2. Pemberian izin dari aparat pemerintah apakah mu’tabar syarán.. ?
                                                                                                               Pon. Pes. Salafiyah Syafi’iyah
                                                                                                                           Gondang Tulungagung

Jawaban :
  1. Memasang terop tersebut diperbolehkan,apabila tidak menimbulkan bahaya dan mendapat izin dari imam atau na’ibnya.
  2. Izin dari pemerintah adalah mu’tabar syar’an.




Referensi :
1.         Hasyiyah Al Jamal Alal Manhaj juz 3 hal. 569 ( Darul Fikr )
2.         Al Hawi Lil Fatawi juz 1 hal. 127-128 & 129 ( Darul Jabar Beirut )

1.   حاشية الجمل على المنهج الجزء الثالث  ص : 569        دار الفكر
وللإمام أو نائبه أن يقطع بقعة من الشارع لمن يرتفق فيها بالمعاملة لأن له نظرا أو اجتهادا فى أن الجلوس فيه مضر أو لا ولهذا يزعج من يرى جلوسه مضرا. اهـ شرح م ر. اهـ

2.   الحاوى للفتاوى الجزء الأول ص : 127-128      دار الجبار بيروت
( فرع ) يجوز للإمام إقطاع الشارع على الأصح فيصير المقطع به كالمتحجر ولا يجوز لأحد تملكه بالإحياء, وفى وجه غريب يجوز للإمام تملك ما فضل عن حاجة الطريق, ومراد قائله للإمام التملك للمسلمين لا لنفسه. وذكر الرافعى فى الجنايات أنه تقدم فى الإحياء أن الأكثرين جوزوا الإقطاع وأن المقطع يبنى فيه ويتملك وهذا ذهول فإن الأصح فى الصلح منع البناء وهنا منع التملك. اهـ

3.   الحاوى للفتاوى الجزء الأول ص : 129      دار الجبار بيروت
وقال البغوى فى التهذيب: القطائع قسمان أحدهما ما يملك وهو ما مضى من إحياء الموات. والثانى إقطاع إرفاق لا تملك فيه كمقاعد الأسواق والطرق الواسعة ويجوز للسلطان إقطاعه لكنه لا يملكه بل يكون أولى به ويمنع أن يبنى دكة لأنه يضيق الطريق ويضر بالضرير وبالبصير بالليل. وإذا أقطع السلطان موضعا كان أحق به سواء نقل متاعه إليه أو لم ينقل لأن للإمام النظر والاجتهاد وإذا أقطعه ثبت يده عليه . اهـ





والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته


Senin, 10 Juni 2013

038. Status SIM Dalam Pandangan Fiqh

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته


PERTANYAANKang Alam Sipendekar Bersarung
assalamu alaikum,
1.apa sTatus SIM mnurut syar'i?
2.bagaimana hukumnya mngendarai mo+or +anpa membawa SIM ?

terima ksh.

JAWABAN
   1. Achmad Al-fandaniy
  Sebenarnya undang-undang yang diperlakukan oleh pemerintah sudah mengharuskan bagi setiap pengendara sepeda motor memiliki SIM dan bagi setiap pengendara
sepeda motor di wajibkan mentaati peraturan ini karena di dalamnya ada kemaslahatan bersama :

)ولا تزع عن امره المبين (اي ول...ا تخرج عن امتثال امره الواضح الجاري علي القواعد الشرعية الي ان قال…. لكن لايطاع في الحرام والمكروه واما المباح فان كان فيه مصلحة عامة للمسلمين وجبت طاعته فيه والا فلا

“Janganlah keluar menyalahi aturan pemimpin yang nyata yang sesuai dengan kaidah-kaidah syariat………

Tapi tidak boleh taat dalam urusan perkara haram dan makruh, sedang dalam masalah mubah bila memang terdapat unsur kebaikan dan kepentingan yang bersifat umum maka wajib juga taat, bila tidak ada maka tidak wajib mentaatinya”. (Jauharoh at-Tauhiid Hal. 119)

Keterangan di atas sama dengan apa yang diterangkan dalam Kitab Bughyah al-Mustarsyidiin

(مسألة : ك) : يجب امتثال أمر الإمام في كل ما له فيه ولاية كدفع زكاة المال الظاهر ، فإن لم تكن له فيه ولاية وهو من الحقوق الواجبة أو المندوبة جاز الدفع إليه والاستقلال
بصرفه في مصارفه ، وإن كان المأمور به مباحاً أو مكروهاً أو حراماً لم يجب امتثال أمره فيه كما قاله (م ر) وتردد فيه في التحفة ، ثم مال إلى الوجوب في كل ما أمر به الإمام ولو محرماً لكن ظاهراً فقط ، وما عداه إن كان فيه مصلحة عامة وجب ظاهراً وباطناً وإلا فظاهراً فقط أيضاً ، والعبرة في المندوب والمباح بعقيدة المأمور ، ومعنى قولهم ظاهراً أنه لا يأثم بعدم الامتثال ، ومعنى باطناً أنه يأثم اهـ. قلت : وقال ش ق : والحاصل أنه تجب طاعة الإمام فيما أمر به ظاهراً وباطناً مما ليس بحرام أو مكروه ، فالواجب يتأكد ، والمندوب يجب ، وكذا المباح إن كان فيه مصلحة كترك شرب التنباك إذا قلنا بكراهته لأن فيه خسة بذوي الهيئات ، وقد وقع أن السلطان أمر نائبه بأن ينادي بعدم شرب الناس له في الأسواق والقهاوي ، فخالفوه وشربوا فهم العصاة ، ويحرم شربه الآن امتثالاً لأمره ، ولو أمر الإمام بشيء ثم رجع ولو قبل التلبس به لم يسقط الوجوب اهـ.

Bughyah al-Mustarsyidiin I/189


والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Rabu, 29 Mei 2013

010. Hukum Uang Pilkada

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته





السلام عليكم ورحمة الله و بركاته


Pemilihan umum (PEMILU) atau pemilihan kepala daerah (PILKADA) secara langsung adalah ajang persemaian demokratisasi ditingkatan nasional maupun lokal. Dengan harapan akan terpilihnya pemimpin ditingkat nasional maupun lokal yang amanah, jujur, dan peduli kepada kemashlahatan umat. Tentu kesemuanya bermuara dari harapan akan kesejahteraan rakyat. Namun pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah secara langsung menyimpan celah yang bisa berubah menjadi suatu ironi, celah tersebut berupa politik uang (Money politic).

Secara bahasa money politic atau politik uang terdapat dua dimensi kata, yakni politik dan uang. Politik diidentikan pada pengertian tentang suatu orientasi pada kekuasaan dan uang dipersepsikan sebagai salah satu kekuatan yang berbasis material. Artinya politik uang merupakan manifestasi dari orientasi seseorang atau kelompok dalam menacapai tujuan politik dengan menjadikan uang (materi) sebagai perantara (kekuatan) untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan kata lain proses penentuan pemenang dalam percaturan politik tidak berdasarkan pada pilihan yang objektif dan rasional namun dengan pertimbangan- pertimbangan yang pragmatis.

Money politic dalam pemilu atau pilkada secara umum didefinisikan sebagai bentuk pemberian atau perjanjian seseorang kepada orang lain atau calon pemilih baik supaya calon pemilih itu tidak menjalankan haknya untuk memilih atau supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum. Secara sederhana praktek money politic dalam pemilu atau pilkada biasanya berupa pemberian uang dan materi lainnya kepada calon pemilih dengan harapan pemilih tersebut memberikan dukungan atau memilih calon atau pihak yang memberikan uang. Dalam hal ini politik uang dianggap sebagai pelanggaran karena memberikan uang sebagai upaya untuk mempengaruhi objektifitas pilihan politik pemilih.

Dalam konteks UU No 10 tahun 2008 tentang pemilu misalnya, disebutkan bahwa Pelaksana, peserta, dan petugas kampanye dilarang menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada peserta kampanye.(Pasal 84 ayat 1 huruf J). Dalam UU 32 tahun 2004 tentang pilkada juga mengatur larangan politik uang, misalnya di pasal 117 ayat 2; Setiap orang yang dengan sengaja memberi atau menjanjikan uang atau materi lainnya kepada seseorang supaya tidak menggunakan hak pilihnya, atau memilih Pasangan calon tertentu, atau menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya menjadi tidak sah, diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).

Kita sebagai umat islam tentunya juga punya harapan besar dalam proses demokrasi ini, penentuan kekuasaan didasarkan pada keyakinan bahwa kekuasaan adalah amanah, pemimpin adalah khadim (pelayan) bagi yang dipimpinnya, dan kepemimpinan pada dasarnya tidak diminta, dan tidak diberikan kepada orang yang ambisius. Masyarakat hendaklah memilih pemimpin berdasarkan kriteria amanah dan bukan karena pengaruh materi, sedangkan money politic akan mengarahkan masyarakat untuk bersikap pragmatis. Namun yang terjadi sering kali berlawanan dengan harapan kita dan bertentangan dengan prinsip demokrasi itu sendiri, terlebih lagi bertentangan dengan syari’at Islam.

PANDANGAN FIQH TENTANG MONEY POLITIC DALAM PILKADA

Untuk menanggapi fenomena money politic yang terjadi hampir pada setiap pemilu atau pilkada, bahkan sampai pada tingkat pemilihan kepala desa dari sudut pandang fiqh, terlebih dulu kita membatasi pembahasan ini pada pengertian bahwa money politic yang dimaksud adalah memberi atau menjanjikan uang atau materi lainnya kepada seseorang supaya tidak menggunakan hak pilihnya, atau memilih Pasangan calon tertentu, atau menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu. Dari pengertian tersebut terdapat dua unsur; pertama, ada maksud dan tujuan untuk mempengaruhi aspirasi dan pandangan seseorang. kedua, tindakan pemberian uang atau barang tertentu dalam mencapai maksud dan tujuan tersebut. Secara umum tindakan seseorang mempengaruhi objektifitas seseorang yang lain dengan menggunakan materi disebut tindakan suap. Suap dalam istilah Fiqh disebut “Risywah”.

Dengan mengaitkan pengertian money politic dan mengidentifikasikanya dengan Risywah, dan setelah kita mendevinisikan money politic pada batasan pengertian diatas, maka kemudian kita mendevinisikan Risywah dalam tinjaun Fiqh.
عون المعبود - (ج 8 / ص 80,79) 
قَالَ صَاحِبُ عَوْنِ الْمَعْبُودِ :قَالَ فِي الْقَامُوس : الرِّشْوَة مُثَلَّثَةً الْجُعْلُ جَمْعُ رُشًا وَرِشًا ، وَرَشَاهُ أَعْطَاهُ إِيَّاهَا وَارْتَشَى أَخَذَهَا  
قَالَ الْقَارِي : أَيْ مُعْطِي الرِّشْوَة وَآخِذُهَا ، وَهِيَ الْوَصْلَة إِلَى الْحَاجَة بِالْمُصَانَعَةِ . قِيلَ الرِّشْوَة مَا يُعْطَى لِإِبْطَالِ حَقّ أَوْ لِإِحْقَاقِ بَاطِل  

Dalam kitab ‘aunul ma’bud Risywah didevinisikan sebagai sesuatu yang diberikan guna membatalkan perkara yang haq dan membenarkan perkara yang bathil. Namun, lebih lanjut dalam kitab tersebut dijelaskan, adapun jika pemberian tersebut menjadi perantara untuk mempertahankan yang haq atau untuk mencegah dari perkara yang dholim maka tidak apa-apa. Namun ini tidak berlaku untuk para qodli (hakim) dan para pemimpin (wulat). Hal ini dikarenakan memutuskan perkara yang haq dan membatalkan perkara yang bathil merupakan kewajiban bagi mereka. Maka tidak diperkenankan menerima pemberian tersebut.

الإقناع - (ج 2 / ص 267) 
الرشوة حرام، وهي ما يبذل للقاضي ليحكم بغير الحق أو ليمتنع من الحكم بالحق وذلك لخبر: لعن الله الراشي والمرتشي في الحكم. 

Dalam kitab al-‘Iqna’ disebutkan bahwa risywah adalah sesuatu yang diberikan kepada qodli supaya memutuskan perkara dengan tidak haq atau supaya mencegah dari keputusan yang haq. Dan hal tersebut haram dengan khobar;

لعن الله الراشي والمرتشي في الحكم.

Dalam kajian Fiqh, risywah banyak dibahas dalam permasalahan qodli.

روضة الطالبين وعمدة المفتين - (ج 4 / ص 131)
روضة الطالبين وعمدة المفتين - (ج 4 / ص 131)
فصل يحرم على القاضي الرشوة ثم إن كان له رزق في بيت المال لم يجز أخذ عوض من الخصوم فإن لم يكن فقال الشيخ أبو حامد لو قال للخصمين لا أقضي بينكما حتى تجعلا لي رزقاً جاز ومثله عن القاضي أبي الطيب وغيره وهذا نحو ما نقل الهروي أن القاضي إذا لم يكن له رزق من بيت المال وهو محتاج ولم يتعين عليه القضاء فله أن يأخذ من الخصم أجرة مثل عمله وإن تعين قال أصحابنا لا يجوز الأخذ وجوزه صاحب التقريب وأما باذل الرشوة فإن بذلها ليحكم له بغير الحق أو بترك الحكم بحق حرم عليه البذل وإن كان ليصل إلى حقه فلا يحرم كفداء الأسير.

عون المعبود - (ج 8 / ص 80)
قَالَ الْقَارِي : أَيْ مُعْطِي الرِّشْوَة وَآخِذُهَا ، وَهِيَ الْوَصْلَة إِلَى الْحَاجَة بِالْمُصَانَعَةِ . قِيلَ الرِّشْوَة مَا يُعْطَى لِإِبْطَالِ حَقّ أَوْ لِإِحْقَاقِ بَاطِل ، أَمَّا إِذَا أُعْطِيَ لِيُتَوَصَّل بِهِ إِلَى حَقّ أَوْ لِيَدْفَع بِهِ عَنْ نَفْسه ظُلْمًا فَلَا بَأْس بِهِ ، وَكَذَا الْآخِذ إِذَا أَخَذَ لِيَسْعَى فِي إِصَابَة صَاحِب الْحَقّ فَلَا بَأْس بِهِ ، لَكِنْ هَذَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُون فِي غَيْر الْقُضَاة وَالْوُلَاة ، لِأَنَّ السَّعْي فِي إِصَابَة الْحَقّ إِلَى مُسْتَحِقّه وَدَفْع الظَّالِم عَنْ الْمَظْلُوم وَاجِب عَلَيْهِمْ فَلَا يَجُوز لَهُمْ الْأَخْذ عَلَيْهِ

روضة الطالبين وعمدة المفتين - (ج 4 / ص 132)
فرع قد ذكرنا أن الرشوة حرام مطلقاً الى ان قال .... ذكره ابن كج أن الرشوة هي التي يشرط على قابلها الحكم بغير الحق أو الامتناع عن الحكم بحق

إعانة الطالبين - (ج 4 / ص 266)
قال في المغني: قبول الرشوة حرام، وهو ما يبذل له ليحكم بغير الحق، أو ليمتنع من الحكم بالحق، وذلك لخبر: لعن الله الراشي والمرتشي في الحكم رواه ابن حبان وغيره وصححوه.

المجموع - (ج 20 / ص 150)
واتفقوا على أن للقاضى أن يحكم في منزله، واتفقوا على أنه فرض عليه أن يحكم بالعدل والحق، اتفقوا على تحريم الرشوة على قضاء بحق أو باطل أو تعجيلا لقضاء بحق أو باطل

Dari uraian ta’bir diatas diketahui bahwa haram bagi seorang qodli (hakim) menerima risywah untuk melakukan kebathilan karena menjatuhkan hukuman atau keputusan secara tidak sah, dan hal ini secara qath’i haram. Di haramkan juga bagi seorang qodli menerima Risywah walau untuk tujuan yang haq, karena memutuskan perkara yang haq dan membatalkan perkara yang batil merupakan kewajiban bagi mereka. Maka tidak diperkenankan menerima pemberian tersebut sebagai ganti dari pemberian keputusan.

Namun, permasalahannya sekarang adalah, apakah bisa mengambil konskwensi hukum yang sama dari fenomena risywah dalam qodli pada fenomena money politic dalam pilkada? Apakah sebenarnya yang menjadi subtansi persoalan risywah?

Secara sederhana, esensi dari hukum risywah itu sendiri sudah tertuang secara eksplisit dalam ta’rifnya dalam kitab ‘aunul ma’bud dan al-Iqna’, yaitu: Tindakan seseorang atau kelompok memberikan uang atau jasa dengan tujuan mempengaruhi pandangan dan objektifitas seseorang dalam mengambil. Dari sini kemudian diambil kesimpulan bahwa subtansi seorang qodli dalam peradilan adalah mengambil kebijakan (pemutus perkara) dengan objektif (haq) dan adil, fungsi ini setara dengan fungsi rakyat sebagai pemilih dalam pemilu atau pilkada yang juga harus menjaga objektifitasnya. Seperti halnya qodli, menjadi kewajiban bagi rakyat untuk memutuskan perkara yang haq dan membatalkan perkara yang batil, dengan menentukan pilihan politik (memilih pemimpin) dengan objektif.

Dari pemahaman semacam ini kemudian mengandung suatu sintesa, bahwa setiap pihak yang terlibat dalam hal-hal yang haram maka hukumnya adalah sama, yaitu haram. Antara sebab dan akibat laksana mata rantai yang saling terkait satu sama lain, konsekwensi hukumnya saling kait-mengait pula. Sehingga dapat dipahami hukum haram yang terdapat dalam penerimaan juga berlaku pada pemberinya, dan sebaliknya. Keharaman suap dilatarbelakangi oleh tindakan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi objektifitas dan pandangan seseorang dalam mengambil keputusan dan berbuat batil serta menzalimi pihak lain. Landasan yuridisnya adalah hadist:

أنوار البروق في أنواع الفروق - (ج 1 / ص 498)
تحفة الأحوذي - (ج 3 / ص 457)
قَوْلُهُ : ( لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ فِي الْحُكْمِ )
زَادَ فِي حَدِيثِ ثَوْبَانَ وَالرَّائِشَ يَعْنِي الَّذِي يَمْشِي بَيْنَهُمَا . رَوَاهُ أَحْمَدُ قَالَ اِبْنُ الْأَثِيرِ فِي النِّهَايَةِ الرِّشْوَةُ وَالرُّشْوَةُ الْوَصْلَةُ إِلَى الْحَاجَةِ بِالْمُصَانَعَةِ وَأَصْلُهُ مِنْ الرِّشَا الَّذِي يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى الْمَاءِ فَالرَّاشِي مِنْ يُعْطِي الَّذِي يُعِينُهُ عَلَى الْبَاطِلِ . وَالْمُرْتَشِي الْآخِذُ وَالرَّائِشُ الَّذِي يَسْعَى بَيْنَهُمَا يَسْتَزِيدُ لِهَذَا أَوْ يَسْتَنْقِصُ لِهَذَا . فَأَمَّا مَا يُعْطَى تَوَصُّلًا إِلَى أَخْذِ حَقٍّ أَوْ دَفْعِ ظُلْمٍ فَغَيْرُ دَاخِلٍ فِيهِ .
قواعد الأحكام في مصالح الأنام - (ج 1 / ص 32)
كُلُّ ذَنْبٍ قُرِنَ بِهِ وَعِيدٌ أَوْ حَدٌّ أَوْ لَعْنٌ فَهُوَ مِنْ الْكَبَائِرِ .فَتَغْيِيرُ مَنَارِ الْأَرْضِ كَبِيرَةٌ لِاقْتِرَانِ اللَّعْنِ بِهِ .وَكَذَلِكَ قَتْلُ الْمُؤْمِنِ كَبِيرَةٌ لِأَنَّهُ اقْتَرَنَ بِهِ الْوَعِيدُ وَاللَّعْنُ وَالْحَدُّ ، وَالْمُحَارَبَةُ وَالزِّنَا وَالسَّرِقَةُ وَالْقَذْفُ كَبَائِرُ لِاقْتِرَانِ الْحُدُودِ بِهَا ، وَعَلَى هَذَا كُلُّ ذَنْبٍ عُلِمَ أَنَّ مَفْسَدَتَهُ كَمَفْسَدَةِ مَا قُرِنَ بِهِ الْوَعِيدُ أَوْ اللَّعْنُ أَوْ الْحَدُّ أَوْ أَكْبَرُ مِنْ مَفْسَدَتِهِ فَهُوَ كَبِيرَةٌ .
أنوار البروق في أنواع الفروق - (ج 1 / ص 498)
وَمِنْ الثَّالِثِ قَوْلُ شَيْخِ الْإِسْلَامِ الْبَارِزِيِّ وَالتَّحْقِيقُ أَنَّ الْكَبِيرَةَ كُلُّ ذَنْبٍ قُرِنَ بِهِ وَعِيدٌ أَوْ حَدٌّ أَوْ لَعْنٌ بِنَصِّ كِتَابٍ أَوْ سُنَّةٍ أَوْ عُلِمَ أَنَّ مَفْسَدَتَهُ كَمَفْسَدَةِ مَا قُرِنَ بِهِ وَعِيدٌ أَوْ حَدٌّ أَوْ لَعْنٌ أَوْ أَكْثَرُ مِنْ مَفْسَدَتِهِ أَوْ أَشْعَرَ بِتَهَاوُنِ مُرْتَكِبِهِ فِي دِينِهِ إشْعَارَ أَصْغَرِ الْكَبَائِرِ الْمَنْصُوصِ عَلَيْهَا 

Segala bentuk kegiatan yang mengandung kemungkaran tapi menguntungkan, seperti yang terjadi pada pemberian uang yang terjadi ada pilkada, akan berimbas pada keharaman materi yang dihasilkan darinya. Menerima materi semacam ini, sama saja mendapatkan keuntungan dari jalan yang haram.


والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

009. Hukum Mengenai Golput Menurut Syara’ Pada Pemilu

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته




Assalamu’alaikum Wr Wb.
Bagaimana hukum sebenarnya mengenai golput menurut syara’ pada pemilu, apakah memang benar haram? Terima kasih atas jawabannya.


Wassalamu’alaikum Wr Wb.
 Pemilihan Umum, merupakan “pesta demokrasi” untuk menentukan wakil rakyat yang di beri amanat, guna menjaga dan melestarikan kemaslahatan umat secara umum. Baik memilih legislatif atau memilih Presiden. Hal ini, disebut dengan intichabab alriqab wa ahli syura (memilih Pengawas Pemerintah dan Badan Musyawarah. Atau intichab raisul jumhur yang identik dengan nasbu al Imam (memilih Presiden yang identik dengan membentuk dengan atau mengangkat imam, dimana hukum wujudnya Dewan Suro dan Presiden adalah fardu kifayah. Artinya, kewajiban yang penting “hasilnya maksud”, dengan tanpa melihat pelakunya. Sebagaimana definisi fardu kifayah. Dalam Lubuul Ushul hal. 26:

فَرْضُ الْكِفَايَةِ مُهِمٌّ يُقْصَدُ جَزْمًا حُصُوْلُهُ مِنْ غَيْرِ نَظْرٍ بِالذَّاتِ لِفَاعِلِهِ.

Artinya: Fardu kifayah adalah sesuatu yang terpenting adalah tujuannya hasil dengan pasti dengan tanpa melihat pelakunya.

Yakni, jika tujuannya sudah berhasil, maka kita tidak dituntut untuk melakukan. Sebaliknya, jika tujuan tersebut belum berhasil, maka kita semua yang mampu dan tahu, di tuntut untuk mengusahakan terwujudnya sesuatu tersebut.
A. Kronologi pemilihan umum di hukumi fardu kifayah sebagai berikut:
Sesungguhnya, Pemilihan Umum dalam rangka “pesta demokrasi” seperti di Indonesia, tidak pernah ada dalam sistem pemerintahan Islam. Dan sebenarnya, sitem Pilpres langsung, Pilgub langsung, perlu ditinjau ulang melihat dampak negatifnya lebih banyak. Tapi, yang wajib adalah terbentuknya kesejahteraan masyarakat, keamanan, dan berjalannya syariat Islam dengan utuh. Karena hal itu tidak dapat terwujud tanpa adanya pemerintahan yang adil dan bijaksana, maka wujudnya pemerintahan merupakan wajib.

مَالاَيَتِمُّ اْلوَاجِبُ اِلاَ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

“Segala sesuatu yang sudah menjadi wajib, maka hukumnya wajib sebagaimana kewajiban tersebut”.

Sebenarnya, mewujudkan pemerintahan tersebut tidak harus dengan pemilihan umum, jika dapat direalisasikan dengan selain pemilihan umum. Akan tetapi, jika hanya dengan pemilihan umum sebagaimana yang terjadi di Indonesia tercinta ini, maka pemilihan umum menjadi fardu kifayah, karena berusaha mewujdukan cita-cita tersebut. Karenanya, memilih dalam pemilihan umum hukumnya fardu kifayah pula.
Lalu, apakah golput haram? Jika kita yakin atau punya dugaan bahwa dengan adanya kita golput, cita-cita di atas tidak terwujud maka golput haram. Jika kita yakin atau dhan (berprasangka) cita-cita tetap terlaksana walau kita golput, maka golput tidak masalah atau tidak haram. Demikian pula, jika kita yakin atau dhan golput atau memilih hasilnya sama, sama suksesnya atau sama tidak suksesnya. Jika kita ragu akan “dampak” golput kita, maka terjadi dua pendapat dikalangan ulama.

1. Golput dihukumi haram, dengan mengacu bahwa “khitob” (tuntutan) fardu kifayah, asalnya di tetapkan pada individu dan akan gugur setelah ada keyakinan atau dhan bahwa kewajiban tersebut sudah berhasil tanpa kita , maka dalam keadaan ragu masih wajib.
2. Golput tidak haram, melihat asal fardu kifayah bukan khitob untuk semua indifidu, tapi kepada sebagian kelompok yang tidak tertentu. Dan dapat menjadi kewajiban setiap indifidu, jika yakin atau dhan belum terlaksana, berarti kalau ragu belum menjadi wajib. Pendapat yang lebih benar yang pertama. Hal ini disebabkan kemungkinan arah khitob tersebut dengan melihat dua pandangan sebagai berikut:
Melihat jika tidak ada yang melakukan sama sekali, yang berdosa adalah semua individu. Maka, arah khitob fardu kifayah pada indifidu.

B. Melihat jika sudah ada orang lain yang mencukupi, kita tidak mendapat dosa. Berarti, pada dasarnya kita tidak wajib. Keterangan ini sama dengan fatwa al Syekh Zakaria al Anshari dalam kitab Ghoyatul Wusul hal 27;

وَاْلأَصَحُّ اَنَّهُ اى فَرْضُ اْلكِفَايَةِ عَلَى اْلكُلِّ لإِثْمِهِمْ بِتَرْكِهِ كَمَا فِى فَرْضِ اْلعَيْنِ وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى قاَتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ باللهِ وَهَذَا مَا عَلَيْهِ الجُمْهُوْرُ وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِى فِى اْلأُمِّ وَيَسْقُطُ اَلْفَرْضُ بِفِعْلِ اْلبَعْضِ لأَنَّ اْلمَقْصُوْدَ كَمَا مَرَّ حُصُوْلُ اْلفِعْلِ لاَ ابْتِلاَءُ كُلِّ مُكَلَّفٍ بِهِ – اِلىَ اَنْ قاَلَ – وَقِيْلَ فَرْضُ اْلكِفَايَةِ عَلَى اْلبَعْضِ لاَ اْلكُلِّ وَرَجَّحَهُ الأَصْلُ . وِفَاقًا بِزَعْمِ اْلإِمَام الرَّازِى للإِكْتِفَاءِ بِحُصُوْلِهِ مِنَ اْلبَعْضِ وَِلأَيَةٍ وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ اُمَّةٌ يَدْعُوْنَ اِلَى اْلخَيْرِ – اِلىَ اَنْ قَالَ – ثُمَّ مَدَارُهُ عَلَى الظَّنِّ فَعَلَى قَوْلِ اْلكُلِّ مَنْ ظَنَّ اَنَّ غَيْرَهُ فَعَلَهُ أَوْ يَفْعَلُهُ سَقَطَ عَنْهُ وَمَنْ لاَ فَلاَ. وَعَلَى اْلقَوْلِ اْلبَعْضِ مَنْ ظَنَّ اَنَّ غَيْرَهُ لَمْ يَفْعَلْهُ وَلاَ يَفْعَلُهُ وَجَبَ عَلَيْهِ وَمَنْ لاَ فَلاَ.

Artinya: Menurut pendapat yang lebih benar bahwa “fardu kifayah”, di arahkan kepada semua individu, kerena dosanya dibebankan kepadanya jika sama-sama tidak ada yang melakukan sebagaimana fardu ain. Dengan dasar firman Allah.

وَقَاتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ

Ini pendapat mayoritas ulama. Dan sebagaimana nashnya imam Syafi’i dalam kitab Um hanya saja fardu akan gugur dengan sebagian yang melakukan. Karena maksudnya yang penting hasil. Bukan bebannya terhadap mukallaf. Sebagian ulama berpendapat, kewajiban tersebut diarahkan kepada sebagian, bukan setiap indifidu. Sebagaimana pendapat Imam Fatchurrozi, dikarenakan dicukupkan pada sebagian dengan berdasarkan ayat;
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ اُمَّةٌ يَدْعُوْنَ اِلَى اْلخَيْرِ
Kemudian kisaran kewajiban tersebut pada dugaan masing-masing dengan mengikat kewajiban diarahkan kepada semua individu. Maka, barang siapa menduga bahwa orang lain telah melakukan atau dia sendiri melakukan, maka kewajiban telah gugur. Barang siapa tidak menduga dan tidak melakukan, maka tidak gugur atau tetap wajib. Jika mengikuti atas kewajiban sebagian, maka barang siapa menduga tidak ada orang lain yang melakukan dan ia tidak melakukan maka dia menjadi wajib jika tidak maka tidak wajib. Ghoyatul wushul hal 27.



والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template